Rangkuman PPD Bab-4

June 25, 2010 at 6:56 pm | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Koesnandar, 0923385P1, STKIP PGRI Sidoarjo

1. Intelek adalah kecakapan mental, yang menggambarkan kemampuan berpikir. Banyak definisi tentang inteligensi namun makna inteligensi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam berpikir dan bertindak. Kemampuan berpikir diukur dengan tes inteligensi. Tes inteligensi yang terkenal adalah tes Binet-Simon. Hasil tes inteligensi dinyatakan dalam bentuk nilai IQ, dan hal itu banyak gunanya karena tingkat inteligensi berpengaruh terhadap banyak aspek.
2. Kemampuan berpikir berpengaruh terhadap tingkah laku. Seseorang yang berkemampuan berpikir tinggi akan cekatan dan cepat dalam bertindak, terutama dalam menghadapi permasalahan. Hal ini akan berakibat pada pembentukan sikap mandiri.
3. Ciri-ciri pokok dalam perkembangan intelek remaja dapat disebutkan sebagai berpikir deduktif-hipotesis dan berpikir kombinatoris.
4. Perkembangan inteligensi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pengalaman belajar termasuk berbagai bentuk latihan, lingkungan, terutama kondisi lingkungan keluarga. Oleh karena itu terdapat perbedaan kemampuan dan irama perkembangan inteligensi individu. Secara umum dapat dikenal pengelompokan individu berdasarkan tingkat kecerdasannya dalam beberapa tingkat atau jenjang; kelompom anak berkelainan mental, kelompok anak bodoh, anak normal, anak pandai, anak cerdas, dan anak istimewa (jenius).
5. Perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia. Perkembangan sosial anak remaja dipengaruhi: kondisi keluarga, kematangan anak, status sosial ekonomi keluarga, pendidikan, dan kapasitas mental terutama intelek dan emosi.
6. Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Perkembangan bahasa dipengaruhi faktor-faktor: usia anak, kondisi keluarga, tingkat kecerdasan, status sosial ekonomi keluarga, dan kondisi fisik anak terutama dari kesehatannya.
7. Bakat adalah sifat atau kemampuan potensial yang dimiliki seseorang dan akan berkembang dengan amat baik jika mendapatkan rangsangan yang tepat. Secara umum bakat itu mencakup 3 dimensi yakni perseptual, psikomotor, dan intelektual. Perkembangan bakat seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam anak dan faktor lingkungan.
8. Bentuk-bentuk belajar mengajar seperti diskusi, bersandiwara, rekreasi, penemuan, latihan pemecahan masalah, dan belajar kelompok merupakan upaya pendidikan untuk mengembangkan intelek, hubungan sosial, dan bahasa. Pemupukan bakat terutama bakat khus dapat dilakukan dengan pemberian rangsangan dan motivasi yang tepat serta penciptaan kondisi lingkungan yang kondusif.

Rumus perhitungan IQ = (MA / CA) x 100
IQ=Intelligence Quotient (perbandingan kecerdasan)
MA=Mental Age (umur kemampuan mental atau kecerdasan)
CA=Chronoligal Age (umur kalender)

Karakteristik perkembangan intelek remaja:
Sifat deduktif hipotesis; dalam menyelesaikan suatu masalah, seorang remaja akan mengawalinya dengan pemikiran teoritik. Ia menganalisis masalah dan mengajukan cara-cara penyelesaian hipotesis yang mungkin.
Berpikir operasional juga berpikir kombinatoris; sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara bagaimana melakukan analisis.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek:
Pandangan pertama yang mengakui bahwa inteligensi itu adalah faktor bakat, dinamakan aliran nativisme, sedangkan pandangan kedua yang menyatakan bahwa inteligensi itu dapat dipengaruhi oleh lingkungan dinamakan aliran empirisme.

Menurut Andi Mappiare, hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelek itu antara lain:
1) Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang sehingga ia mampu berpikir reflektif.
2) Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah sehingga seseorang dapat berpikir proporsional.
3) Adanya kebebasan berpikir, menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah secara keseluruhan, dan menunjang keberanian anak memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.

Nilai IQ dapat dikategorikan menjadi 6 kelompok:
kurang dari 71, anak mengalami kelainan mental
71-85, anak di bawah normal (bodoh)
86-115, anak yang normal
116-130, anak di atas normal (pandai)
131-145, anak yang superior (cerdas)
lebih dari 145, anak istimewa (jenius)

Nilai IQ dan klasifikasinya
kurang dari 68 –> terbelakang
68-79 –> perbatasan
80-90 –> kurang dari rata-rata
91-110 –> rata-rata (normal)
111-119 –> di atas rata-rata
120-127 –> superior
lebih dari 127 –> sangat superior

Tugas PPD Bab-3

June 25, 2010 at 6:51 pm | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Koesnandar, 0923385P1, STKIP PGRI Sidoarjo

Arti dan ciri-ciri pertumbuhan remaja
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja.

Perubahan-perubahan ini meliputi:
– Perubahan ukuran tubuh; irama pertumbuhan mendadak menjadi cepat sekitar 2 tahun sebelum anak mencapai taraf pematangan kelaminnya.
– Perubahan proporsi tubuh; ciri tubuh yang kurang proporsional pada masa remaja ini tidak sama untuk seluruh tubuh, ada pula bagian tubuh yang semakin proporsional.
– Munculnya ciri-ciri kelamin yang utama; ketika memasuki masa remaja alat kelamin mulai berfungsi pada saat ia berumur 14 tahun, yaitu saat pertama kali anak laki-laki mengalami “mimpi basah”. Sedangkan pada anak perempuan, indung telurnya mulai berfungsi pada usia 13 tahun , yaitu saat pertama kali mengalami menstruasi atau haid.
– Ciri kelamin kedua; ciri kelamin kedua pada anak perempuan adalah membesarnya buah dada dan mencuatnya putting susu, pinggul lebih lebar daripada lebar bahu, tumbuh rambut di sekitar alat kelamin, tumbuh rambut di ketiak, dan suara bertambah nyaring. Sedang pada anak laki-laki adalah tumbuhnya kumis dan jenggot, otot-otot mulai tampak, bahu melebar lebih besar daripada pinggul, nada suara membesar, tumbuh jakun, tumbuh bulu di ketiak, bulu dada, dan bulu di sekitar alat kelamin, serta perubahan jaringan kulit menjadi lebih kasar dan pori-pori membesar.

Perbedaan individual tentang pertumbuhan
a. bagi remaja laki-laki permulaan percepatan pertumbuhan berbeda-beda dan berkisar antara 10,5 tahun dan 16 tahun.
b. bagi remaja perempuan, percepatan pertumbuhan dimulai antara umur 7,5 tahun dan 11,5 tahun dengan umur rata-rata 10,5 tahun. Puncak pertambahan ukuran fisik dicapai pada umur 12 tahun, yakni kurang lebih 6-11 cm setahun

Pengaruh pertumbuhan fisik terhadap perilaku remaja
1. pengaruh keluarga; meliputi faktor keturunan maupun faktor lingkungan keluarga
2. pengaruh gizi; anak yang memperoleh gizi cukup akan lebih tinggi tubuhnya
3. gangguan emosional; anak yang sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan, dan ini akan membawa berkurangnya pembentukan hormon pertumbuhan di kelenjar pituitari
4. jenis kelamin; anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat daripada anak perempuan
5. status sosial ekonomi; anak yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi rendah cenderung lebih kecil
6. kesehatan; anak yang sehat dan jarang sakit biasanya akan memiliki tubuh yang lebih berat
7. pengaruh bentuk tubuh; bangun/bentuk tubuh, apakah mesamorf, ektomorf, atau endomorf, akan mempengaruhi besar kecilnya tubuh anak

Hal yang perlu dilakukan oleh pendidik dalam proses pendidikan untuk membantu pertumbuhan remaja adalah memberikan dorongan untuk belajar kelompok, pembentukan kelompok olah raga, kegiatan pramuka, dan pembiasaan hidup sehat perlu dikembangkan. Di sekolah, kegiatan kokurikuler dan ekstra kurikuler perlu diselenggarakan secara terprogram.

Tugas PPD (rangkuman-2)

June 22, 2010 at 5:09 pm | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Koesnandar, 0923385P1, STKIP PGRI Sidoarjo

BAB II
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN REMAJA

A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Kedua proses ini tidak bisa dipisahkan dalam bentuk-bentuk yang secara pilah berdiri sendiri-sendiri; akan tetapi bisa dibedakan untuk maksud lebih memperjelas penggunaannya.
Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam perjalanan waktu tertentu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yang kurang normal pada organisme ada bermacam-macam, yaitu:
Pertama, faktor-faktor yang terjadi sebelum lahir. Misal: kekurangan nutrisi pada ibu dan janin; janin terkena virus, keracunan sewaktu bayi ada dalam kandungan, dan lain-lain.
Kedua, faktor ketika lahir atau saat kelahiran. Faktor ini antara lain adalah intracranial haemorage atau pendarahan pada bagian kepala bayi yang disebabkan oleh tekanan dari dinding rahim ibu sewaktu ia dilahirkan dan oleh efek susunan saraf pusat, karena proses kelahiran bayi dilakukan dengan bantuan tang (tangver-lossing).
Ketiga, faktor yang dialami bayi sesudah lahir, antara lain oleh karena pengalaman traumatik pada kepala, kepala bagian dalam terluka karena kepala bayi (janin) terpukul, atau mengalami serangan sinar matahari (zonnestiek).
Keempat, faktor psikologis antara lain oleh karena bayi ditinggalkan ibu, ayah atau kedua orang tuanya. Sebab lain ialah anak-anak dititipkan pada suatu lembaga, seperti rumah sakit, rumah yatim piatu, yayasan perawatan bayi, dan lain-lain.
Konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) sebagai berikut: “Perkembangan sejalan dengan prinsip orthogenetis, bahwa perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai ke keadaan dimana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap.” Proses diferensiasi itu diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak; bahwa dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya menjadi semakin semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
Menurut Nagel (1957), perkembangan merupakan pengertian dimana terdapat struktur yang terorganisasikan dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu, oleh karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun dalam bentuk, akan mengakibatkan perubahan fungsi.
Menurut Schneirla (1957), perkembangan adalah perubahan-perubahan progresif dalam organisasi organisme, dan organisme ini dilihat sebagai sistem fungsional dan adaptif sepanjang hidupnya. Perubahan-perubahan progresif ini meliputi dua faktor yakni kematangan dan pengalaman.
Spiker (1966) mengemukakan dua macam pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangan, yakni:
1) Ortogenetik, yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu yang baru dan seterusnya sampai dewasa.
2) Filogenetik, yakni perkembangan dari asal-usul manusia sampai sekarang ini. Perkembangan perubahan fungsi sepanjang masa hidupnya menyebabkan perubahan tingkah laku dan perubahan ini juga terjadi sejak permulaan adanya manusia. Jadi perkembangan ortogenetik mengarah ke suatu tujuan khusus sejalan dengan perkembangan evolusi yang mengarah kepada kesempurnaan manusia.
Bijou dan Baer (1961) mengemukakan perkembangan psikologis adalah perubahan progresif yang menunjukkan cara organisme bertingkah laku dan berinteraksi dengan lingkungan.
Rumusan lain tentang arti perkembangan dikemukakan oleh Libert, Paulus, dan Strauss (Singgih, 1990: 31), yaitu bahwa: “Perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan.”
Perkembangan dapat juga dilukiskan sebagai suatu proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan proses pertumbuhan, kematangan, dan belajar (Monks, 1984: 2)
Perubahan-perubahan meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut dapat dibagi menjadi 4 kategori utama:

1. Perubahan dalam Ukuran
Perubahan dapat berbentuk pertambahan ukuran panjang atau tinggi maupun berat badan.
2. Perubahan dalam Perbandingan
Dilihat dari sudut fisik terjadi perubahan proporsional antara kepala, anggota badan, dan anggota gerak. Perubahan secara proporsional juga terjadi pada perkembangan mental. Perbandingan antara yang tidak riil, yang khayal dengan hal-hal yang rasional semakin lama semakin besar.
3. Berubah untuk Mengganti Hal-Hal yang Lama
Kebiasaan untuk melakukan sesuatu tanpa bisa menahan diri dan menunda emosi sedikit demi sedikit akan hilang. Kebiasaan bayi untuk merangkak kalau mengambil sesuatu akan menghilang sesuai dengan meningkatnya kemampuan-kemampuan motorik dan berganti dengan jalan.
4. Berubah untuk Memperoleh Hal-Hal yang Baru
Banyak hal yang baru diperoleh selama perkembangan sesuai dengan keadaan dan tingkatan/tahapan perkembangannya. Ketika dilahirkan, bayi belum mempunyai gigi dan beberapa waktu kemudian (kalau sudah sampai waktunya atau umurnya) gigi tersebut akan tumbuh. Dengan demikian, bayi memperoleh atau menambah sesuatu yang baru yang sebelumnya belum ada atau belum dimiliki.

B. Tugas-Tugas Perkembangan
Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosial psikologi manusia pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Oleh Havighurst perkembangan tersebut dinyatakan sebagai tugas yang harus dipelajari, dijalani, dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya, atau dengan perkataan lain perjalanan hidup manusia ditandai dengan berbagai tugas perkembangan yang harus ditempuh.
Havighurst (Garrison, 1956: 14-15) mengemukakan 10 jenis tugas perkembangan remaja, yaitu:
1) mencapai hubungan dengan teman lawan jenisnya secara lebih memuaskan dan matang;
2) mencapai perasaan seks dewasa yang diterima secara sosial;
3) menerima keadaan badannya dan menggunakannya secara efektif;
4) mencapai kebebasan emosional dari orang dewasa;
5) mencapai kebebasan ekonomi;
6) memilih dan menyiapkan suatu pekerjaan;
7) menyiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga;
8) mengembangkan keterampilan dan konsep intelektual yang perlu bagi warga negara yang kompeten;
9) menginginkan dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial; dan
10) menggapai suatu perangkat nilai yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku.

C. Hukum-Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan
Bagi setiap makhluk hidup, sejak kelahirannya dan dalam menjalani kehidupan seterusnya terdapat dasar-dasar dan pola-pola kehidupan yang berlaku umum sesuai dengan jenisnya. Di samping itu terdapat pula pola-pola yang berlaku khusus sehubungan dengan sifat-sifat individualnya. Pola kehidupan yang dimaksudkan bisa dipergunakan sebagai patokan untuk mengenal ciri perkembangan anak-anak. Lingkungan dan latar belakang kebudayaan masing-masing bangsa mempengaruhi pola pertumbuhan dan perkembangan bangsa itu.
Hukum-hukum perkembangan itu antara lain:
1. Hukum Cephalocoudal

Hukum ini berlaku pada pertumbuhan fisik yang menyatakan bahwa pertumbuhan fisik dimulai dari kepala ke arah kaki. Seorang bayi yang baru dilahirkan mempunyai bagian-bagian dan alat-alat kepala yang lebih matang daripada bagian-bagian tubuh lainnya.

2. Hukum Proximodistal
Hukum Proximodistal adalah hukum yang berlaku pada pertumbuhan fisik, dan menurut hukum ini pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ke tepi. Alat-alat tubuh yang terdapat di pusat, seperti jantung, hati, dan alat-alat pencernaan lebih dahulu berfungsi daripada anggota tubuh yang ada di tepi. Hal ini tentu saja karena alat-alat tubuh yang terdapat pada daerah pusat itu lebih vital daripada misalnya anggota gerak seperti tangan dan kaki.

3. Perkembangan Terjadi dari Umum ke Khusus
Pada setiap aspek terjadi proses perkembangan yang dimulai dari hal-hal yang umum, kemudian secara sedikit demi sedikit meningkat ke hal-hal yang khusus. Terjadi proses diferensiasi seperti dikemukakan oleh Werner. Anak lebih dahulu mampu menggerakkan lengan atas, lengan bawah, tepuk tangan terlebih dahulu daripada menggerakkan jari-jari tangannya.

4. Perkembangan Berlangsung dalam Tahapan-Tahapan Perkembangan
Dalam perkembangan terjadi penahapan yang terbagi-bagi ke dalam masa-masa perkembangan. Pada setiap masa perkembangan terdapat ciri-ciri perkembangan yang berbeda antara ciri-ciri yang ada pada suatu masa perkembangan dengan ciri-ciri yang ada pada masa perkembangan yang lain.
Ada aspek-aspek tertentu yang tidak berkembang dan tidak meningkat lagi, yang hal ini disebut fiksasi. Aspek intelek pada anak-anak tertentu yang memang secara konstitusional terbatas, pada suatu saat akan relatif berhenti, tidak bisa atau sulit berkembang dan dikembangkan.
Contoh penahapan dalam perkembangan manusia itu antara lain meliputi: masa pra-lahir, masa jabang bayi (0 – 2 minggu), masa bayi (2 minggu – 1 tahun), masa anak pra-sekolah (1 – 5 tahun), masa sekolah (6 – 12 tahun), masa remaja (13 – 21 tahun), masa dewasa (21 – 65 tahun), dan masa tua (65 tahun ke atas).

5. Hukum Tempo dan Ritme Perkembangan
Tahapan perkembangan berlangsung secara berurutan, terus-menerus dan dalam tempo perkembangan yang relatif tetap serta bisa berlaku umum. Justru perbedaan-perbedaan waktu, yaitu cepat-lambatnya sesuatu penahapan perkembangan terjadi, atau sesuatu masa perkembangan dijalani, menampilkan adanya perbedaan-perbedaan individu.
Dalam praktek sering terlihat dua hal sebagai petunjuk keterlambatan pada keseluruhan perkembangan mental, yakni:
a) Jika perkembangan kemampuan fisiknya untuk berjalan jauh tertinggal dari patokan umum, tanpa ada sebab khusus pada fungsionalitas fisiknya yang terganggu.
b) Jika perkembangan kemampuan berbicara sangat terlambat dibandingkan dengan anak-anak lain pada masa perkembangan yang sama. Seorang anak yang pada umur empat tahun misalnya masih mengalami kesulitan dalam berbicara, mengemukakan sesuatu dan terbatas perbendaharaan kata, mudah diramalkan anak itu akan mengalami kelambatan pada seluruh aspek perkembangannya.

D. Remaja: Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangannya
Remaja itu sulit didefinisikan secara mutlak. Oleh karena itu, dicoba untuk memahami remaja menurut berbagai sudut pandangan, antara lain menurut hukum, perkembangan fisik, WHO, sosial psikologi, dan pengertian remaja menurut pandangan masyarakat Indonesia.
1. Remaja Menurut Hukum
Dalam hubungan dengan hukum, tampaknya hanya undang-undang perkawinan saja yang mengenal konsep “remaja” walaupun tidak secara terbuka. Usia minimal untuk suatu perkawinan menurut undang-undang disebutkan 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria (Pasal 7 Undang-Undang No.1/1974 tentang Perkawinan).

2. Remaja Ditinjau dari Sudut Perkembangan Fisik
Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Masa pematangan fisik ini berjalan kurang lebih 2 tahun dan biasanya dihitung mulai menstruasi (haid) pertama pada anak wanita atau sejak anak pria mengalami mimpi basah (mengeluarkan air mani pada waktu tidur) yang pertama kali. Khusus berkaitan dengan kematangan seksual merangsang remaja untuk memperoleh kepuasan seksual. Hal ini dapat menimbulkan gejala onani atau masturbasi. Kartini Kartono (1990: 217) memandang gejala onani ini sebagai tindakan remaja yang negatif, karena gejala ini merupakan usaha untuk mendapatkan kepuasan seksual yang semu (penodaan diri).

3. Batasan Remaja Menurut WHO
Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana:
1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2) Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (Muangman, yang dikutip oleh Sarlito, 1991: 9)

4. Remaja Ditinjau dari Faktor Sosial Psikologis
Salah satu ciri remaja di samping tanda-tanda seksualnya adalah: “Perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa”. Puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan adanya proses perubahan dari kondisi “entropy” ke kondisi “negen-tropy” (Sarlito, 1991: 11).
Entropy adalah keadaan dimana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi. Walaupun isinya sudah banyak (pengetahuan, perasaan, dan sebagainya), namun isi-isi tersebut belum saling terkait dengan baik, sehingga belum bisa berfungsi secara maksimal. Isi kesadaran masih saling bertentangan, saling tidak berhubungan sehingga mengurangi kerjanya dan menimbulkan pengalaman yang kurang menyenangkan buat orang yang bersangkutan.
Negentropy adalah keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap. Orang dalam keadaan negentropy ini merasa dirinya sebagai kesatuan yang utuh dan bisa bertindak dengan tujuan yang jelas, ia tidak perlu dibimbing lagi untuk bisa mempunyai tanggung jawab dan semangat kerja yang tinggi.

5. Definisi Remaja untuk Masyarakat Indonesia
Menurut Sarlito (1991), tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat dan tingkatan sosial-ekonomi, maupun pendidikan.
Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia 11 – 24 tahun dan belum menikah. Pertimbangan-pertimbangannya adalah sebagai berikut:
1) Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik).
2) Di banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap akil balik, baik menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi mempermalukan mereka sebagai anak-anak (kriteria sosial).
3) Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri, tercapainya fase genital dari perkembangan kognitif maupun moral.
4) Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang lain, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara tradisi).
5) Status perkawinan sangat menentukan, karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Seorang yang sudah menikah pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh, baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga.

WHO menetapkan batas usia 19-20 tahun sebagai batasan usia remaja. WHO menyatakan walaupun definisi di atas terutama didasarkan pada usia kesuburan wanita, batasan tersebut berlaku juga untuk remaja pria, dan WHO membagi kurun usia dalam 2 bagian yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun.
PBB sendiri menetapkan usia 15-24 tahun sebagai usia pemuda (youth) dalam rangka keputusan mereka untuk menetapkan tahun 1985 sebagai Tahun Pemuda Internasional.
Seorang remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Tubuhnya kelihatan sudah “dewasa”, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang dewasa ia gagal menunjukkan kedewasaannya. Pada remaja sering terlihat adanya:
1) Kegelisahan: Keadaan yang tidak tenang menguasai diri si remaja. Mereka mempunyai banyak macam keinginan yang tidak selalu dapat dipenuhi.
2) Pertentangan: Pada umumnya timbul perselisihan dan pertentangan pendapat dan pandangan antara si remaja dan orang tua. Selanjutnya pertentangan ini menyebabkan timbulnya keinginan remaja yang hebat untuk melepaskan diri dari orang tua.
3) Berkeinginan besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahuinya. Mereka ingin mencoba apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Malapetaka akan dialaminya sebagai akibat penyaluran yang tidak ada manfaatnya.
4) Keinginan menjelajah ke alam sekitar yang lebih luas, misalnya melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan pramuka, kelompok atau himpunan pecinta alam, dan sebagainya.
5) Mengkhayal dan berfantasi: Khayalan dan fantasi remaja banyak berkisar mengenai prestasi dan tangga karier.
6) Aktivitas berkelompok: Kebanyakan remaja-remaja menemukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dengan berkumpul-kumpul melakukan kegiatan bersama, mengadakan penjelajahan secara berkelompok.

E. Jenis-Jenis Kebutuhan dan Pemenuhannya
Sebagai makhluk psiko-fisik manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikologis, dan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, manusia mempunyai kebutuhan individu (yang juga dikenal sebagai kebutuhan pribadi) dan kebutuhan sosial kemasyarakatan. Dengan demikian, maka setiap individu tentu memiliki kebutuhan, karena ia tumbuh dan berkembang untuk mencapai kondisi fisik dan sosial psikologis yang lebih sempurna dalam kehidupannya.
Kebutuhan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer pada hakikatnya merupakan kebutuhan biologis atau organik dan umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif asli. Contoh: makan, minum, bernapas, dan kehangatan tubuh. Sedangkan kebutuhan sekunder umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif yang dipelajari, seperti misalnya kebutuhan untuk mengejar pengetahuan, kebutuhan untuk mengikuti pola hidup bermasyarakat, kebutuhan akan hiburan, alat transportasi, dan semacamnya.
Klasifikasi kebutuhan menurut Cole dan Bruce (1959) (Oxendine, 1984:227) membedakan kebutuhan menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan fisiologis dan kebutuhan psikologis. Pengelompokkan ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Murray (1938) (Oxendine, 1984:227) yang diajukan dengan istilah yang berbeda, yaitu kebutuhan viscerogenic dan kebutuhan psychogenic.
Kebutuhan sosial psikologis seseorang individu terus mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan kondisi kehidupannya yang semakin luas dan kompleks. Freud mengemukakan bahwa sikap dan perilaku manusia didorong oleh faktor seksual (dorongan seksual). Pandangan Freud tentang konsep diri juga dikaitkan dengan teori libido seksual ini. Ia mengemukakan bahwa prinsip kenikmatan senantiasa mendasari perkembangan sikap dan perilaku manusia, dan dengan prinsip itu ia menyatakan bahwa faktor pendorong utama perilaku manusia adalah dorongan seksual. Semua bentuk perilaku manusia dikaitkan dengan upaya untuk mencapai kenikmatan atau kepuasan seksual. Namun Freud menjadi terkenal sehubungan dengan pandangannya yang pada pokoknya menyatakan bahwa perkembangan manusia terjadi pertentangan antara kebutuhan insting pribadi dan tuntutan masyarakat. Dalam pendekatannya terhadap pembentukan kepribadian, Freud mengemukakan perlunya penyelesaian pertentangan tersebut dengan pendekatan analisis psikologik, sehingga oleh karenanya teori Freud itu terkenal dengan teori psikoanalisis.
Menurut teori Freud, struktur kepribadian seseorang berunsurkan tiga komponen utama, yaitu: id, ego, dan superego. Ketiganya merupakan faktor-faktor penting yang mendorong terbentuknya sikap dan perilaku manusia serta struktur pribadi. Teori psikoanalisis Freud diawali dengan mengemukakan asumsi bahwa dorongan utama yang pada hakekatnya berada pada id, senantiasa akan muncul pada setiap perilaku. Id dikenal sebagai insting pribadi dan merupakan dorongan asli yang dibawa sejak lahir. Id merupakan sumber kekuatan insting pribadi yang bekerja atas dasar prinsip kenikmatan yang pada proses berikutnya akan memunculkan kebutuhan dan keinginan. Ego adalah komponen kepribadian yang praktis dan rasional; berdasarkan egonya manusia mencari kepuasan atau kenikmatan berdasarkan kenyataan. Jadi, ego adalah komponen pribadi yang mewakili kenyataan, berfungsi menghambat munculnya dorongan asli (id) secara bebas dalam berbagai bentuk. Dengan demikian, tugas ego adalah menyelaraskan pertentangan yang terjadi antara id dan tuntutan sosial. Superego merupakan bagian dari konsep diri, yang di dalamnya terkandung kata hati yang bekerja sesuai dengan sistem moral dan ideal.

1. Mengapa Manusia Berperilaku?
Untuk menjawa pertanyaan ini digunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan organismik (internal) dan pendekatan lingkungan (eksternal). Pembicaraan tentang motif dan/atau motivasi merupakan bagian yang akan ditinjau secara khusus dalam bagian ini, yang berarti uraian bagian ini menitikberatkan bahwa motif itu merupakan faktor mendorong manusia bertingkah laku. Perilaku didorong oleh motif. Hal ini tidak berarti bahwa kita mengesampingkan faktor lingkungan, tetapi seperti kita ketahui bahwa motivasi dan lingkungan pada dasarnya berinteraksi, dengan demikian persoalan lingkungan akan dengan sendirinya tercakup di dalam uraian ini.

2. Kebutuhan Dasar Manusia
Pada bayi atau pada kehidupan manusia kecil, perilakunya didominasi oleh kebutuhan-kebutuhan biologis yakni kebutuhan untuk mempertahankan diri. Kebutuhan ini disebut deficiency need artinya kebutuhan untuk pertumbuhan dan memang diperlukan untuk tetap hidup (survival). Kemudian, pada masa kehidupan berikutnya, muncul kebutuhan untuk mengembangkan diri. Berkembangnya kebutuhan ini terjadi karena pengaruh faktor lingkungan dan faktor belajar.
Secara lengkap kebutuhan dasar seorang individu dapat digambarkan sebagai berikut:

    Deskripsi
    Karakteristik

4. Kebutuhan aktualisasi diri Kebutuhan yang terkait langsung dengan pengembangan diri yang relatif kompleks, abstrak, dan bersifat sosial
3. Kebutuhan untuk memiliki
2. Kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang Kebutuhan yang terkait dengan pertahanan diri, khususnya pemeliharaan dan pertahanan diri, bersifat individual
1. Kebutuhan jasmaniah, termasuk keamanan dan pertahanan diri

Hierarki kebutuhan di atas sejalan dengan teori kebutuhan yang dikemukakan Maslow (Lefton, 1982: 171), yaitu:

- kebutuhan aktualisasi diri

- kebutuhan kognitif

- kebutuhan penghargaan

- kebutuhan cinta kasih

- kebutuhan keamanan

- kebutuhan jasmaniah (fisiologi)

Menurut Lewis dan Lewis (1993) kegiatan remaja atau manusia itu didorong oleh berbagai kebutuhan, yaitu:
a. kebutuhan jasmaniah,
b. kebutuhan psikologi,
c. kebutuhan ekonomi,
d. kebutuhan sosial,
e. kebutuhan politik,
f. kebutuhan penghargaan, dan
g. kebutuhan aktualisasi diri

F. Kebutuhan Remaja, Masalah, dan Konsekuensinya
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Hall (dalam Liebert dan kawan-kawan, 1974: 478) memandang bahwa masa remaja ini sebagai masa “storm and stress”. Ia menyatakan bahwa selama masa remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya (identitasnya) – kebutuhan aktualisasi diri. Beberapa jenis kebutuhan remaja dapat diklarifikasikan menjadi beberapa kelompok kebutuhan, yaitu:
a) kebutuhan organik, yaitu makan, minum, bernapas, seks;
b) kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan simpati dan pengakuan dari pihak lain, dikenal dengan n’Aff;
c) kebutuhan berprestasi atau need of achievement (yang dikenal dengan n’Aff), yang berkembang karena didorong untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan sekaligus menunjukkan kemampuan psikofisis; dan
d) kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.

Masalah dan Konsekuensinya
Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhannya dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Upaya untuk dapat mengubah sikap dan perilaku kekanak-kanakan menjadi sikap dan perilaku dewasa, tidak semuanya dapat dengan mudah dicapai baik oleh remaja laki-laki maupun perempuan.
2) Seringkali para remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan-perubahan fisiknya. Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan tubuhnya. Hal ini disebabkan pertumbuhan tubuhnya dirasa kurang serasi.
3) Perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan kebingungan remaja untuk memahaminya, sehingga sering terjadi salah langkah dan perilaku yang menentang norma.
4) Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kemandirian, dalam arti menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan, kebanyakan akan menghadapi berbagai masalah, terutama masalah penyesuaian emosional, seperti perilaku over acting , “lancang”, dan semacamnya.
5) Harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidup mandiri secara sosial ekonomis akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan pilihan jenis pekerjaan dan jenis pendidikan.
6) Berbagai norma dan nilai yang berlaku di dalam hidup bermasyarakat merupakan masalah tersendiri bagi remaja; sedang di pihak remaja merasa memiliki nilai dan norma kehidupannya yang dirasa lebih sesuai.

Usaha-Usaha Pemenuhan Kebutuhan Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Pemenuhan kebutuhan fisik atau organik merupakan tugas pokok. Kebutuhan ini harus dipenuhi, karena hal ini merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya agar tetap tegar. Realisasi hal ini di sekolah adalah pendidikan kesehatan, pendidikan jasmani, dan pentingnya usaha kesehatan sekolah (UKS).
Khusus kebutuhan seksual, yang hal ini juga merupakan kebutuhan fisik remaja, usaha pemenuhannya harus mendapatkan perhatian khusus dari orang tua, terutama ibu. Pendidikan seksual di sekolah dan terutama di dalam keluarga harus mendapatkan perhatian. Sekolah sekali-sekali mendatangkan ahli atau dokter untuk memberikan ceramah tentang masalah-masalah remaja, khususnya masalah seksual.
Untuk mengembangkan kemampuan hidup bermasyarakat dan mengenalkan berbagai norma sosial, amat penting dikembangkan kelompok-kelompok remaja untuk berbagai urusan, seperti kelompok olah raga, kelompok seni dan musik, dan semacamnya. Pada kesempatan sekolah menyelenggarakan acara-acara tertentu seperti malam pertemuan, atau perpisahan sekolah, ada baiknya anak-anak ditugasi untuk ikut mengurus atau dimasukkan sebagai panitia penyelenggara.

Tugas PPD (rangkuman-1)

June 22, 2010 at 4:58 pm | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Koesnandar, 0923385P1, STKIP PGRI Sidoarjo

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

BAB I
KARAKTERISTIK DAN PERBEDAAN INDIVIDU

A. Individu dan Karakteristiknya
Untuk memahami karakteristik individu secara umum, perlu terlebih dahulu dipahami apa yang dimaksud dengan individu itu.

1. Pengertian Individu
“Manusia” adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai makhluk yang berpikir atau “homo sapiens”, makhluk yang berbentuk atau “homo faber”, makhluk yang dapat dididik atau “homo educandum”, dan seterusnya merupakan pandangan-pandangan tentang manusia yang dapat digunakan untuk menetapkan cara pendekatan yang akan dilakukan terhadap manusia tersebut. Berbagai pandangan itu membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks. Kini bangsa Indonesia telah menganut suatu pandangan, bahwa yang dimaksud manusia secara utuh adalah manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejawantahan manunggalnya berbagai ciri atau karakter hakiki atau sifat kodrati manusia yang seimbang antar berbagai segi, yaitu antara segi (i) individu dan sosial, (ii) jasmani dan rohani, dan (iii) dunia dan akhirat. Keseimbangan hubungan tersebut menggambarkan keselarasan hubungan antara manusia dengan dirinya, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam sekitar atau lingkungannya, dan manusia dengan Tuhan.
Uraian tentang manusia dengan kedudukannya sebagai peserta didik, haruslah menempatkan manusia sebagai pribadi yang utuh. Dalam kaitannya dengan kepentingan pendidikan, akan lebih ditekankan hakikat manusia sebagai kesatuan sifat makhluk individu dan makhluk sosial, sebagai kesatuan jasmani dan rohani, dan sebagai makhluk Tuhan dengan menempatkan hidupnya di dunia sebagai persiapan kehidupannya di akhirat. Sifat-sifat dan ciri-ciri tersebut merupakan hal yang secara mutlak disandang oleh manusia, sehingga setiap manusia pada dasarnya sebagai pribadi atau individu yang utuh. Individu berarti: tidak dapat dibagi (undivided), tidak dapat dipisahkan; keberadaannya sebagai makhluk yang pilah, tunggal, dan khas. Seseorang berbeda dengan orang lain karena ciri-cirinya yang khusus itu (Webster’s, : 743). Menurut kamus Echols & Shadaly, individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan, oknum (Echols, 1975: 519).
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Jadi anak dibantu oleh guru, orang tua, dan orang dewasa lainnya untuk memanfaatkan kapasitas dan potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan.
Manusia merupakan kesatuan psikofisis atau psikosomatis yang terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan itu merupakan sifat kodrat manusia yang harus mendapat perhatian secara seksama. Untuk memberi gambaran bahwa makna pertumbuhan dibedakan dari makna perkembangan, secara singkat disajikan yaitu bahwa istilah pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan kuantitatif mengenai fisik atau biologis dan istilah perkembangan digunakan untuk perubahan-perubahan kualitatif mengenai aspek psikis atau rohani dan aspek sosial.

2. Karakteristik Individu
Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Pada masa lalu ada keyakinan, kepribadian terbawa pembawaan (heredity) dan lingkungan; merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Namun kemudian makin disadari bahwa apa yang dipikirkan dan dikerjakan seseorang, atau apa yang dirasakan oleh seorang anak, remaja atau dewasa, merupakan hasil dari perpaduan antara apa yang ada di antara faktor-faktor biologis yang diturunkan dan pengaruh lingkungan.
Seorang anak mungkin memulai pendidikan formalnya di tingkat taman kanak-kanak pada usia 4 atau 5 tahun. Pada awal ia memasuki sekolah mungkin tertunda sampai ia berusia 5 atau 6 tahun. Tanpa mempedulikan berapa umur seorang anak, karakteristik pribadi dan kebiasaan-kebiasaan yang dibawanya ke sekolah akhirnya terbentuk oleh pengaruh lingkungan dan hal itu tampaknya mempunyai pengaruh penting terhadap keberhasilannya di sekolah dan masa perkembangan hidupnya di kelak kemudian.
Natur dan nature merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Sejauh mana seseorang dilahirkan menjadi seorang individu seperti “dia” atau sejauh mana seseorang individu dipengaruhi subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedang karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

B. Perbedaan Individu
Setiap orang, apakah ia seorang anak atau seorang dewasa, dan apakah ia berada di dalam suatu kelompok atau seorang diri, ia disebut individu. Individu menunjukkan kedudukan seseorang sebagai orang perorangan atau perseorangan. Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang perseorangan, berkaitan dengan perbedaan individual perseorangan. Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini disebut perbedaan individu atau perbedaan individual. Maka “perbedaan” dalam “perbedaan individual” menurut Landgren (1980: 578) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis.
Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa-siswa yang berbeda satu sama lain. Siswa-siswa yang berada di dalam sebuah kelas, tidak terdapat seorang pun yang sama. Mungkin sekali dua orang dilihatnya hampir sama atau mirip, akan tetapi pada kenyataannya jika diamati benar-benar antara keduanya tentu terdapat perbedaan. Perbedaan yang segera dapat dikenal oleh seorang guru tentang siswanya adalah perbedaan fisiknya. Ciri lain yang segera dapat dikenal adalah tingkah laku masing-masing siswa. Apabila ditelusuri secara cermat siswa yang satu dengan yang lain memiliki sifat psikis yang berbeda-beda.

1. Bidang-Bidang Perbedaan
Upaya pertama yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan individu, sebelum dilakukan pengukuran kapasitas mental yang mempengaruhi penilaian sekolah, adalah menghitung umur kronologi. Seorang anak memasuki sekolah dasar pada umur 6 tahun dan ia diperkirakan dapat mengalami kemajuan secara teratur dalam tugas-tugas sekolahnya dilihat dalam kaitannya dengan faktor umur. Selanjutnya ada anggapan bahwa semua anak diharapkan mampu menangkap/mengerti bahan-bahan pelajaran yang mempunyai kesamaan materi dan penyajiannya bagi semua siswa pada kelas yang sama. Ketidakmampuan yang jelas tampak pada siswa untuk menguasai bahan pelajaran umumnya dijelaskan dengan pengertian faktor-faktor seperti kemalasan atau sikap keras kepala. Penjelasan itu tidak mendasarkan kenyataan bahwa para siswa memang berbeda dalam hal kemampuan mereka untuk menguasai satu atau lebih bahan pelajaran dan mungkin berada dalam satu tingkat perkembangan.
Garry 1963 (Oxendine, 1984: 317) mengategorikan perbedaan individual ke dalam bidang-bidang berikut :
1. Perbedaan fisik: usia, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan bertindak.
2. Perbedaan sosial termasuk status ekonomi, agama, hubungan keluarga, dan suku.
3. Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap.
4. Perbedaan inteligensi dan kemampuan dasar.
5. Perbedaan kecakapan atau kepandaian di sekolah.

Secara kodrati, manusia memiliki potensi dasar yang secara esensial membedakan manusia dengan hewan, yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak. Sekalipun demikian, potensi dasar yang dimilikinya itu tidaklah sama bagi masing-masing manusia. Oleh karena itu sikap, minat, kemampuan berpikir, watak, perilakunya, dan hasil belajarnya berbeda-beda antara manusia satu dengan lainnya.
Perbedaan-perbedaan tersebut berpengaruh terhadap perilaku mereka di rumah maupun di sekolah. Gejala yang dapat diamati adalah bahwa mereka menjadi lebih atau kurang dalam bidang tertentu dibandingkan dengan orang lain. Sebagian manusia lebih mampu dalam bidang seni atau bidang ekspresi yang lain, seperti olah raga dan keterampilan, sebagian lagi dapat lebih mampu dalam bidang kognitif atau yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

a. Perbedaan Kognitif
Menurut Bloom, proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah, menghasilkan tiga pembentukan kemampuan yang dikenal sebagai taxonomy Bloom, yaitu kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

b. Perbedaan Individual dalam Kecakapan Bahasa
Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupannya. Kemampuan tiap individu dalam berbahasa berbeda-beda, kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang penuh makna, logis, dan sistematis. Kemampuan berbahasa tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan. Faktor-faktor lain yang juga penting antara lain adalah faktor fisik, terutama organ berbicara.

c. Perbedaan dalam Kecakapan Motorik
Kecakapan motorik atau kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi kerja saraf motorik yang dilakukan oleh saraf pusat untuk melakukan kegiatan. Alat indera menerima rangsangan, rangsangan tersebut diteruskan melalui saraf sensoris ke saraf pusat (otak) untuk diolah, dan hasilnya dibawa oleh saraf motorik untuk memberikan reaksi dalam bentuk gerakan-gerakan atau kegiatan.
Kemampuan motorik dipengaruhi oleh kematangan pertumbuhan fisik dan tingkat kemampuan berpikir. Karena kematangan pertumbuhan fisik dan kemampuan berpikir setiap orang berbeda-beda, maka hal itu membawa akibat terhadap kecakapan motorik masing-masing, dan dengan demikian kecakapan motorik setiap individu akan berbeda-beda pula.

d. Perbedaan dalam Latar Belakang
Dalam suatu kelompok siswa pada tingkat mana pun, perbedaan latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing dapat memperlancar atau menghambat prestasinya, terlepas dari potensi individu untuk menguasai bahan pelajaran.
Latar belakang keluarga, baik dilihat dari segi sosioekonomi maupun sosiokultural adalah berbeda-beda. Demikian pula lingkungan sekitarnya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan fisik akan memberikan pengaruh yang berbeda-beda.

e. Perbedaan dalam Bakat
Bakat merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut akan berkembang dengan baik apabila mendapatkan rangsangan dan pemupukan secara tepat.
Perkembangan bakat dimiliki siswa secara individual. Meskipun inteligensi umum merupakan faktor dari hampir semua atau bahkan semua bidang penampilan atau performasi, namun hasil tes inteligensi yang selama ini dilaksanakan belum terkait dengan beberapa bidang belajar seperti keterampilan motorik, musik, seni, dan olah raga. Hasil tes inteligensi lebih banyak berhubungan dengan keberhasilan atau kemampuan bidang akademik.

f. Perbedaan dalam Kesiapan Belajar
Perbedaan latar belakang keluarga dan lingkungan mempunyai pengaruh terhadap belajar. Perbedaan latar belakang yang meliputi perbedaan sosioekonomi dan sosiokultural, amat penting artinya bagi perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas, dalam hal ini pelajaran di sekolah. Dengan demikian, perbedaan-perbedaan individu itu tidak saja disebabkan oleh keragaman dalam rentang kematangan tetapi juga oleh keragaman dalam latar belakang sebelumnya.

C. Aspek-Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Individu
Makna pertumbuhan sering diartikan sama dengan perkembangan sehingga kedua istilah itu penggunaannya seringkali dipertukarkan (interchange) untuk makna yang sama. Untuk memberi gambaran bahwa makna pertumbuhan dibedakan dari makna perkembangan, secara singkat disajikan yaitu bahwa istilah pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan kuantitatif mengenai fisik atau biologis dan istilah perkembangan digunakan untuk perubahan-perubahan kualitatif mengenai aspek psikis atau rohani dan aspek sosial.
Setiap individu pada hakikatnya akan mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan nonfisik yang memiliki aspek-aspek intelek, emosi, sosial, bahasa, bakat khusus, nilai dan moral, serta sikap.

1. Pertumbuhan Fisik
Pertumbuhan manusia merupakan perubahan fisik menjadi lebih besar dan lebih panjang, dan prosesnya terjadi sejak anak sebelum lahir hingga ia dewasa.

a. Pertumbuhan Sebelum Lahir
Masa sebelum lahir merupakan pertumbuhan dan perkembangan manusia yang sangat kompleks, karena pada masa itu merupakan awal terbentuknya organ-organ tubuh dan tersusunnya jaringan saraf yang membentuk sistem yang lengkap. Pertumbuhan dan perkembangan janin diakhiri saat kelahiran. Kelahiran pada dasarnya merupakan pertanda kematangan biologis dan jaringan saraf masing-masing komponen biologis telah mampu berfungsi secara mandiri.

b. Pertumbuhan Setelah Lahir
Pertumbuhan fisik manusia setelah lahir merupakan kelanjutan pertumbuhannya sebelum lahir. Proses pertumbuhan fisik manusia berlangsung sampai masa dewasa. Selama tahun pertama dalam pertumbuhannya, ukuran panjang badannya akan bertambah menjadi sekitar tiga kalinya. Sejak lahir sampai dengan umur 25 tahun, perbandingan ukuran badan individu, dari pertumbuhan yang kurang proporsional pada awal terbentuknya manusia (kehidupan sebelum lahir atau pranatal) sampai dengan proporsi yang ideal di masa dewasa.
Meskipun ada kenyataan bahwa daur pertumbuhan fisik dapat diramalkan, namun terjadi pula keanekaragaman. Seperti dikemukakan oleh Jonhston. “Jadwal waktu pertumbuhan fisik anak sifatnya sangat individual” (Hurlock, 1991:114).

2. Intelek
Intelek atau daya pikir berkembang sejalan dengan pertumbuhan saraf otak. Karena pikiran pada dasarnya menunjukkan fungsi otak, maka kemampuan intelektual yang lazim disebut dengan istilah lain kemampuan berpikir, dipengaruhi oleh kematangan otak yang mampu menunjukkan fungsinya secara baik.
Perkembangan lebih lanjut tentang perkembangan intelek ini ditunjukkan pada perilakunya, yaitu tindakan menolak dan memilih sesuatu. Tindakan itu berarti telah mendapatkan proses mempertimbangkan atau yang lazim dikenal dengan proses analisis, evaluasi, sampai dengan kemampuan menarik kesimpulan dan keputusan. Perkembangan kemampuan berpikir semacam ini dikenal pula sebagai perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif seseorang menurut Piaget (Sarlito, 1991: 81) mengikuti tahap-tahap sebagai berikut.

1. Tahap pertama : Masa sensori motor (0 – 2,5 tahun)
Masa ketika bayi mempergunakan sistem penginderaan dan aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya.
2. Tahap kedua : Masa pra-operasional (2,0 – 7,0 tahun)
Ciri khas masa ini adalah kemampuan anak menggunakan simbol yang mewakili suatu konsep. Kemampuan simbolik ini memungkinkan anak melakukan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan hal-hal yang telah lewat; misalnya seorang anak yang pernah melihat dokter berpraktek, akan (dapat) bermain “dokter-dokteran”.
3. Tahap ketiga : Masa konkreto prerasional (7,0 – 11,0 tahun)
Pada tahap ini anak sudah dapat melakukan berbagai macam tugas yang konkret. Anak mulai mengembangkan tiga macam operasi berpikir, yaitu :
a. identifikasi : mengenali sesuatu
b. negasi : mengingkari sesuatu, dan
c. reprokasi : mencari hubungan timbal-balik antara beberapa hal
4. Tahap keempat : Masa operasional (11,0 – dewasa)
Dalam usia remaja dan seterusnya seseorang sudah mampu berpikir abstrak dan hipotesis. Pada tahap ini seseorang bisa memperkirakan apa yang mungkin terjadi.

3. Emosi
Rasa dan perasaan merupakan salah satu potensi yang khusus dimiliki oleh manusia. Kebutuhan setiap orang dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan-kebutuhan tersebut ada yang primer dan sekunder. Jika kebutuhan itu tidak segera dipenuhi maka seseorang akan merasa kecewa, dan sebaliknya jika kebutuhan-kebutuhan itu dapat dipenuhi dengan baik, maka ia akan senang dan puas. “Kecewa”, “senang” dan “puas” merupakan gejala perasaan yang mengandung unsur senang dan tidak senang.
Emosi merupakan gejala perasaan disertai dengan perubahan atau perilaku fisik. Seperti marah yang ditunjukkan dengan teriakan suara keras, atau tingkah laku yang lain. Begitu juga sebaliknya seorang yang gembira akan melonjak-lonjak sambil tertawa lebar, dan sebagainya.

4. Sosial
Bayi lahir dalam keadaan yang sangat lemah. Ia tidak akan mampu hidup terus tanpa bantuan orang lain. Manusia lain, terutama ibunya, akan membantu bayi yang baru lahir itu untuk dapat hidup terus. Jadi bayi, begitu juga setiap orang, memerlukan orang lain. Dengan perkataan lain, dalam proses pertumbuhan setiap orang tidak dapat berdiri sendiri. Setiap manusia memerlukan lingkungan dan senantiasa akan memerlukan manusia lainnya.

5. Bahasa
Fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Setiap orang senantiasa berkomunikasi dengan dunia sekitarnya, dengan orang-orang di sekitarnya. Sejak bayi manusia telah berkomunikasi dengan dunia lain. Pengertian bahasa sebagai alat komunikasi dapat diartikan sebagai tanda, gerak, dan suara untuk menyampaikan isi pikiran kepada orang lain.

6. Bakat Khusus
Bakat merupakan kemampuan tertentu atau khusus yang dimiliki oleh seorang individu yang hanya dengan rangsangan atau sedikit latihan, kemampuan itu dapat berkembang dengan baik. Di dalam definisi bakat yang dikemukakan Guilford (Sumadi: 1984), bakat mencakup tiga dimensi, yaitu (i) dimensi perseptual, (ii) dimensi psikomotor, dan (iii) dimensi intelektual. Ketiga dimensi itu menggambarkan bahwa bakat tersebut mencakup kemampuan dalam pengindraan, ketepatan dan kecepatan menangkap makna, kecepatan dan ketepatan bertindak, serta kemampuan berpikir inteligen.

7. Sikap, Nilai, dan Moral
Bloom (Woolfolk dan Nicolich, 1984: 390) mengemukakan bahwa tujuan akhir dari proses belajar dikelompokkan menjadi tiga sasaran, yaitu penguasaan pengetahuan (kognitif), penguasaan nilai dan sikap (afektif), dan penguasaan psikomotorik.
Semakin tumbuh dan berkembang fisik dan psikisnys, anak mulai dikenalkan terhadap nilai-nilai, ditunjukkan hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh, yang harus dilakukan dan yang dilarang. Menurut Piaget, pada awalnya pengenalan nilai dan perilaku serta tindakan itu masih bersifat “paksaan”, dan anak belum mengetahui maknanya. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan inteleknya, berangsur-angsur anak mulai mengikuti berbagai ketentuan yang berlaku di dalam keluarga; dan semakin lama semakin luas sampai dengan ketentuan yang berlaku di dalam masyarakat dan negara.

D. Rangkuman
1. Individu adalah manusia yang berkedudukan sebagai pribadi yang utuh, pilah, tunggal, dan khas. Ia sebagai subjek yang merupakan suatu kesatuan psiko-fisik dengan berbagai kemampuannya untuk berhubungan dengan lingkungan, dengan sesama, dan dengan Tuhan yang menciptakannya.
2. Manusia harus mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis. Pertumbuhan perkembangan tersebut dialami semenjak manusia masih di dalam kandungan.
3. Makna pertumbuhan dibedakan dari makna perkembangan, secara singkat disajikan yaitu bahwa istilah pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan kuantitatif mengenai fisik atau biologis dan istilah perkembangan digunakan untuk perubahan-perubahan kualitatif mengenai aspek psikis atau rohani dan aspek sosial.
4. Kelahiran merupakan saat suatu fase pertumbuhan fisik secara lengkap, yang ditandai setiap organ atau bagian tubuh telah mampu berfungsi.
5. Pertumbuhan dan perkembangan manusia dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain keturunan, sosial ekonomi, sosial kulturasi, kesehatan, dan latar belakang kehidupan keluarga.
6. Pertumbuhan fisik lebih lanjut berlangsung sejak bayi lahir, dan masing-masing organ mencapai tingkat kematangan dan mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Kematangan pertumbuhan fisik yang ditandai oleh berfungsinya masing-masing organ, berpengaruh terhadap perkembangan non-fisik, seperti berpikir, bahasa, sosial, emosi, dan pengenalan terhadap nilai, norma, dan moral.

DAFTAR PUSTAKA
Bawani, Imam. Pengantar Ilmu Jiwa Perkembangan. Surabaya: PT Bina Ilmu., 1957.
Biehler, RF. Psichology Applied to Teaching. Boston: Houghton Mifflin Company, 1982.
Crowl.D.&CrowA.c. Educational Psychology. American Book Company, 1958.
Gleitman, Henry. Psychology. New York: W.W. Norton&Co, 1986.
Gunarsa, Singgih D, dan Ny. Singgih D.G. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1986.
Gunarsa, Singgih D. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1990.
Gunarsa, Singgih D, dan Ny. Singgih D.G. Psikologi Remaja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1990.
Havighurst, Rj. Disadur oleh Moh. Kasiram. Human Development and Education. Surabaya: Sinar Wijaya, 1985.
Hurlock E.B. Perkembangan Anak. Alih bahasa Meitasari Tjanrasa dan Muslichah Zarkasih. Surabaya: Erlangga, 1991.
Hurlock E.B. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih bahasa Isti Widayanti, dan kawan-kawan. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 1990.
Jersild, A.T. The Psychology of Adolescence. New York: The MacMillan Co., 1957.
Kartono, Kartini. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung: CV Mandar, 1990.
Lindgren, Henry Clay. Educational Psychology in the Classroom. (6th edition). New York: Oxford University Press, 1980.
Mampiere, Andi. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional, 1982.
Monks, FJ., dan kawan-kawan. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1984.
Rifai, Melly Sri Sulastri. Psikologi Perkembangan Remaja. Jakarta: PT Bina Aksara, 1987.
Sarwono, Sarlito Wirawan. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Press, 1989.
Simanjuntak B. Psikologi Remaja. Bandung: Tarsito, 1984.
Suryabrata, Sumadi. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Penerbit Rajawali, 1984.
Woolfolk, A.E. and Nicolich, L.M. Educational Psychology for Teachers. New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1984.

Materi Kuliah Intro to Linguistics

June 22, 2010 at 4:30 pm | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Koesnandar/0923385P1, STKIP PGRI Sidoarjo

Linguistics:
I. Phonology
a. Phonetics
b. Phonemics
II. Morphology
a. Morphs/Morpheme –> Morphemics
b. Words (Formation & Construction)
III. Syntax –> Sentence
IV. Semantics –> meaning(s)
V. Applied Linguistics
a. Error Analysis
b. Discourse
c. Constrastive
d. Sociolinguistics

Linguistics is a science which studies about language.
Phonology (sound) is a branch of linguistics which studies about sound.
Phonetics is a branch of phonology which studies about :
– how to produce sound
– how to pronounce sound
Phonemics is a branch of phonology which studies about how to use the sounds.
Morphology is a branch of linguistics which studies Morphs/Morphemes and words.
Syntax is a branch of linguistics which studies about sentence.
Semantics is a branch of linguistics which studies about meaning in a language.

Linguistics
1. Definition
a. Linguistics is a science which studies about language
b. language, linguist, native speaker
c. branch of linguistics
d. elements of language
e. characteristics of language
f. language is arbitrary vocal symbols by means of which people in a society can :
– communicate
– co-operate and
– interact (one to each others)
2. Grammar
a. traditional grammar
b. structural grammar of modern grammar
c. transformational grammar
3. Three diagram
4. Ambiguity (ambigius sentence)
5. Syntactic structures
6. Dialects and vernacular
7. Some terms
a. synchronic linguistics and diachronic linguistics
b. immediate constituentis
c. EFL : TEFL
d. ESL : TESL
e. FLA : SLA

Speech sounds are sounds which are produced by the human vocal organs of speech.

Elements of language:
1. sounds –> phonology
2. grammar –> rules patterns –> morphology & syntax
3. meaning –> vocab –> semantics

Characteristics of language:
1. sounds (vocab)
Language is sounds basically
The IL-ilterate people : can speak, can’t write
2. arbitrary
The native speaker of the language agree to accept them (terms/symbols/meaning)
3. conventional/agreement
There is no reason, but agreement.
4. systematic
with limited (finite) rule can produce unlimited (infinite) number of sentences
ex. S + V + O + Adv
I saw him
He has bought a book
5. a system of systems
rule –> sounds
rule –> morphemes/words
rule –> phrases
rule –> clauses
rule –> sentences
rule –> paragraphs
rule –> …. (story)
ex. My twin beautiful sisters Elly and Emy work at the same office in the center of the city.
My beautiful and younger sister studies English in the USA.
6. creative/productive
– can express, everything
– can be used to express many ideas
– can say about future
– can tell something that doesn’t exist yet
– can produce unlimited sentences
7. a social phenomenon
8. meaningful
lexical, structural, cultural (overall)
9. habit/recursion
– daily use
– daily spoken
– trained
– drilled
10. unique
11 social behaviour (social phenomenom)
language is used by society
12. relative (equally complex)
There are no languages which are better than others.
Each language is good for its own society (native speakers)

GRAMMAR
1. Traditional Grammar / school grammar
2. Structural Grammar / modern grammar
3. Transformational Grammar
4. Transformational Generative Grammar

Traditional Grammar : (base of Latin)
It has weakness:
1. not consistent
e.g. the definition of noun (part of speech) is the name of a person, place, thing, animal.
Adjective is a word that modifies a noun (function)
– The pretty girl (adjective)
– I met the pretty walking alone at night (noun)

2. the sentence analysis does not given one any better idea of sentence structure
– subject is the doer of an action
– object is the receiver of an action
ex. Devi sweeps the floor (the doer)
The floor is swept by Devi (the receiver)

3. normative / prescriptive (not descriptive)
– how language must be used
not how language is actually used
shall –> 1st person
will –> 2nd, 3rd person

Structural Grammar
Structural: is a term in linguistics referring to the analysis of language.
Linguistics features can be described in terms of structural and system (rules).
Structure :
– Surface structure –> Performance
– Deep structure –> Competence

Transformational Grammar
1. Surface structure
e.g. Mother went to Surabaya
Mother bought pizza
2. Deep structure
e.g. Pizza was bought by mother

Transformational Generative Grammar
– active passive
– relative pronouns
– clause(s)

I give my mother flowers
My mother is given flowers by me
Flowers are given to my mother by me

AMBIGUOUS SENTENCE
Is a sentence which have more than one meaning.

Ship sails today :
– The ship (N/S) sails (V) today. (statement)
– Ship (V) the sails (N) today. (order)

John likes kissing girls :
– John likes / kissing girls (the doer of kissing is the girls)
– John likes kissing / girls (the doer of kissing is John)

Love blossoms in spring :
– Love (V) the blossoms (N) in spring
– The love (N) blossoms (V) in spring

STRUCTURE OF MODIFICATION
has two complements : Head and Modifier
Bus station
(N) (N)
M –> H
M=Modifier
H=Head

Beautiful girl
(Adj) (N)
M —-> H

Walked Quickly
(V) (Adv)
H <— M

STRUCTURE OF PREDICATION
has two complements : Subject and Predicate
I went
(S) (V)
M –> H

STRUCTURE OF COMPLEMENTATION
has two complements : P.V Aux and O/ complement

buy flowers
(V)

STRUCTURE OF COORDINATION
the condition of the element:
balanced –> N-N, V-V, Adj-Adj, Adv-Adv
conjuction –> but, and, or, with

White or black
(N) (N)

Small but strong
(Adj) (Adj)

DIALECT
Is the variety of language spokenby numbers of single homogeneous speech community.
A language is a collection of dialects spoken by the members of different speech communities.

Vernacular is a language, (specific) language spoken by a ethnic group.

Kinds of Dialects:
1. Regional Dialect is the dialect spoken in speech communities occupying different parts of general territory of a language.
2. Class (social) Dialect is the dialect spoken by different social groups within the some region.
3. Prestige Dialect is the dialect admired and emulated by the speakers of others dialect(s).
4. Standart Dialect is the dialect generally admitted by the majority of speakers to be superior to all the other dialect in its language.

Synchronic linguistics:
a term used in other fields such as anthropology, means “dealing with the state of affairs at a given points of time”.

Diachronic linguistics:
is used in other sciences, mean “dealing with changes that occur in time”.

TREE DIAGRAM

T. Rules : Transformational Rules
PS. Rules : Phrase Structure Rules
S (Sentence) –> NP + VP
NP –> Det(ermine) + N
VP –> Verb + NP
Aux + Verb
Aux + Adjective
PP –> Preposition Phrase
Adj. P –> Adjective Phrase
Adv. P –> Determiner + NP (Noun Phrase)
Adv. P –> Adv. time
place
manner

The girl will write a letter.
| | | | | |
Det N Aux Main-V Det N
|____| |______| |____|
| | |
| V NP
| |___________|
| |
NP VP
|________________|
|
S

I met a beautiful girl in the campus
| | | | | | | |
| | | Adj N | D N
| | | |_________| | |_________|
| | | | | |
| | D NP Prepo NP
| | |____________| |__________|
| | | |
| | NP PP
| | |________________________|
| | |
N V NP
| |______________________|
| |
NP VP
|________________|
|
S

The house which was old fell down
| | | |
| | The house was old | |
| | | | | | | |
| | D N be Adj | |
| | |______| |_____| | |
| | | | | |
D N NP3 VP | |
|________| |____________| | |
| | | |
NP2 S2 V Adv
|__________________| |_______|
| |
NP1 VP1
|______________________________|
|
S1

Materi Kuliah Morphology & Syntax

June 12, 2010 at 7:23 am | Posted in Uncategorized | 1 Comment

Koesnandar, 0923385P1, STKIP PGRI SIDOARJO

Language is a system for the communication of meaning through sounds.

Linguistic is the scientific study of language.

Language as system consist of three subsystem: Semantic, Sysnantic, Phonological

Language is a system of symbols. Why?
Each language has different pronunciation.
e.g: Could you tell me where the station is?
/kud yuw tel miy hwer ……./

Phonology is the study the smallest units of speech sounds that make a difference in meaning.

Morphology is the study of meaningful form or the smallest meaningful units of language.
There are two basic divisions in morphology :
(1) lexical or derivational morphology; studies word formation which produces new words such as nation — national.
(2) inflectional morphology; studies word formation related to grammatical affixes: prular, past tense and possession.

A word is a unit which is a constituent at the phrase level and above.

A morphene is the smallest unit of language that has meaning. For example Cats has to morphemes- cat (singular) and cats (plural). Uneventful has three morphemes. event, eventful, and uneventful. Each morpheme changes the meaning of the word.

Morphemes are defined as the smallest meaningful elements in a language.
There are two types of morpheme. They are free morpheme and bound morpheme.
Free morpheme is the one that can stand alone such as: cat, dog, horse, car, bike, bus etc.
Bound morpheme is the one that cannot stand alone such as in affixation namely prefix, infix and suffix. Prefixes occur before the base, e.g. (un)tidy, pre(school), (dis)like. Suffixes occur in the middle of the base, e.g. kind(ness), angri(ly), judge(ment), teach(er).

Inflection is modification of words in accordance with their forms.
English verbs consists of five forms, namely: infinitive (see), the third singular present (sees), past form (saw), past participle (seen) and gerund or present participle (seeing).
eg.: I love a peaceful life. “love” is a verb.
Love is blue. “love” is a noun.
Do you like love potion? “love” is an adjective.

Analysis of inflections.
We must determine (1) the patterns of selection, (2) the arrangement of inflected elements and (3) any modifications involved.
Selection means parts of speech. These are classified by word patterns of inflection.
e.g: The verb “live” (regular) and “give” (irregular).
“live” is inflected by means of suffix: lives [z], lived [d], living [iŋ] while “give” is inflected by means of patterns underlying forms, namely irregular verbs. give, gives, gave, given, giving.

Derivation is the process of adding derivational morphemes, which create a new word from existing words, sometimes by simply changing grammatical category (for example, changing a noun to a verb).

Paradigmatic
A dissimilar thing that can be exchanged for the thing of which the value is to be determined

Syntagmatic
Similar things that can be compared with the thing of which the value is to be determined

PARADIGMATIC AND SYNTAGMATIC. Contrasting terms in (structural) LINGUISTICS. Every item of language has a paradigmatic relationship with every other item which can be substituted for it (such as cat with dog), and a syntagmatic relationship with items which occur within the same construction (for example, in The cat sat on the mat, cat with the and sat on the mat). The relationships are like axes, as shown in the accompanying diagram.

syntagmatic
The cat sat on the mat.
paradigmatic His dog slept under that table.
Our parrot perched in its cage.

Paradigmatic contrasts at the level of sounds allow one to identify the phonemes (minimal distinctive sound units) of a language: for example, bat, fat, mat contrast with one another on the basis of a single sound, as do bat, bet, bit, and bat, bap, ban. Stylistically, rhyme is due to the paradigmatic substitution of sounds at the beginning of syllables or words, as in: ‘Tyger! Tyger! burning bright / In the forests of the night.’

On the lexical level, paradigmatic contrasts indicate which words are likely to belong to the same word class (part of speech): cat, dog, parrot in the diagram are all nouns, sat, slept, perched are all verbs. Syntagmatic relations between words enable one to build up a picture of co-occurrence restrictions within SYNTAX, for example, the verbs hit, kick have to be followed by a noun (Paul hit the wall, not *Paul hit), but sleep, doze do not normally do so (Peter slept, not *Peter slept the bed). On the semantic level, paradigmatic substitutions allow items from a semantic set to be grouped together, for example Angela came on Tuesday (Wednesday, Thursday, etc.), while syntagmatic associations indicate compatible combinations: rotten apple, the duck quacked, rather than *curdled apple, *the duck squeaked.

PARTS OF SPEECH: WHAT ARE THE DIFFERENT TYPES OF WORDS?
a. Verb : swim : swims, swam, swum, swimming
b. Noun : chair : chairman, head : headmaster; cloud : cloudy
c. Pronoun : I : me/my/mine; we : our/ours/us
d. Adjective : happy : happily/happiness/happier/happiest
d. Adverb
e. Preposition
f. Conjunction
g. Interjection

Syntax: The study of the rules governing the way words are combined to form sentences in a language.

Syntactics: Science which studies the elements of sentence structure and interrelationshios with the rules governing the arrangement of sentences in sequences.

Affixation is the process of attaching an inflection or, more generally, a bound morpheme to a word. This can occur at the beginning or end and occasionally in the middle of a word form.
Affixes are classified into three types:
(1) Prefixes: Those which are added to the beginning of root or stem such as “unhappy”
(2) Infixes: Those which occur within a root/stem. They are not commonly found in European languages.
(3) Suffixes: Those which follow a root/stem such as “happiness”.

4 level of linguistic analysis:
• Sound level
• Morphological level
• Syntactic level
• Semantic level

The morphological level of analysis is concerned with meaningful units. These units are called morphemes. It is defined as the smallest meaningful units of grammatical description, since they cannot by analyzed any further at this level. Morphology studies the internal structure of words, that is the ways in which morphemes function as constituents of word structure. For example, the word unconditionally may be said to consist of four morphemes: un – condition – al – ly. Condition is a free morpheme, since it can occur on its own. The other three morphemes are bound, since they must always co-occur with free morphemes. English words consist of one or more free morphemes (book, bookcase, bookshop, bookworm) or of combination of free and bound morphemes (kindness, unkind, kindly, unkindly).

Having established the structure of words at the morphological level, we can go on to examine how words can be put together to form larger grammatical units. Words combine to form larger units called phrases, which, in turn to combine to form sentences. This is the business of syntax to establish the set of rules that specify which combinations of words constitute grammatical strings and which do not.

In short, morpheme is the minimal unit of grammatical description in the sense that it cannot be segmented any further at the grammatical level of analysis. While Syntax is a part of linguistic, this studies rearrangement and interrelationship of word, phrases, clauses, and sentences. In other words, it is the study of how combine words become a larger unit.

Words : The smallest units or the smallest free form.
A group of phoneme/letter that has meaning, e.g. car, book, pen
Phoneme : The smallest meaningful unit, e.g. book /bUk/ 3 phoneme
Phrase : Group of words that doesn’t has S and P but has meaning.
A group of word that has meaning
Clause : Consist of S and V but can not stand alone because it is part of sentence
and has meaning, e.g. what she knows
Sentence : The largest grammatical unit consisting phrase, clause, sentence that used
to express a statement, question and comment.
Consist of S and V, can stand alone and has meaning and sometimes
consist more than one clause, e.g. I wrote a letter yesterday

There are five signals of syntactic structure:

1. word-order—the linear of time sequence in which word appear in an utterance, or the positions of words relative to each other in time.
2. prosody—musical pattern of stress, pitch and juncture in which the words an utterance are spoken, or combination or patterns of pitch, stress and juncture.
3. function word—words with little or no lexical meaning which are used in combining other words into larger structures.
Words largely divide of lexical meaning that used to indicate various functional relationship among the lexical words of an utterance (doesn’t have meaning in grammatical but in lexical), e.g. Does she go there?

There are nine types of function word:
• noun determiner; all, twice, one, third, a, an, this, that, these, those, etc.
• auxiliaries; verb, is, am, are, has, have, do, does, did, will
• qualifiers/ compare; fairly, merely, very, pretty, quite, etc.
• preposition; in, on, at, of, over, etc
• conjunction/ coordinator; and, but, nor…or, not only…but also, etc
• interrogator; who, which, what, etc
• includes; when, like, that, whatever, etc
• sentence linkers; consequently, accordingly, however, even though, as a result
• miscellaneous/ interjection

There are two kinds of meaning:
a) lexical meaning : the meaning of morphemes and words considered in isolation (dictionary meaning).
b) Grammatical/structural meaning: the meaning of the way words are combined in larger structures (sentence)
* the word “am” does not has meaning if stand alone, but has meaning if we combine with other words or we put in a sentence.
e.g. I am being interviewed

4. inflection—suffixes, always final, which adapt words to fit varying of structural positions without changing their lexical meaning or part of speech.
Morphemic changes without changing the lexical meaning, e.g. – ed, plural (s/es)
• work — worked (change in the form of word to show a past tense)
• book — books ( to show a plural)

5. derivational contrast—derivational prefixes and suffixes which change words from one part of speech to another. In short, addition of the prefixes or suffixes that change the world class.
e.g. manage—management—manager
lead—leader—leadership
test—pre-test

morphophoneme – (linguistics) the phonemes (or strings of phonemes) that constitute the various allomorphs of a morpheme.
Eg. imperfect = in + perfect
Irregular = in + regular

linguistics – the scientific study of language
allomorph – a variant phonological representation of a morpheme; “the final sounds of `bets’ and `beds’ and `horses’ and `oxen’ are allomorphs of the English plural morpheme”

Assimilation is a common phonological process by which the phonetics of a speech segment becomes more like that of another segment in a word (or at a word boundary). A common example of assimilation would be “don’t be silly” where the /n/ and /t/ in “don’t” are assimilated to /m/ and /p/ by the following /b/, where said naturally in many accents and discourse styles (“dombe silly”).

Progressive assimilation; changes with reference to a preceding segment are traditionally.
Regresive assimilation; if a sound changes with reference to a following segment.

Dissimilation; opposite of assimilation; is the change of one or more sounds to be articulated like another sound or is a phenomenom whereby similar consonant or vowel sound in a word become less similar.
e.g. turtle tur-tur

Branches of phonetic study:
1. Articulation phonetics: The study of the way speech sounds are made by vocal organ.
2. Acoustic phonetics: The study of speech sounds related to physical properties as transmitted between mouth and ear.
3. Auditory phonetics: The study of speech sounds based on the perceptual response of auditory nerve and brain: using physical apparatus such as devices for measuring airflow or for analyzing sound waves.

Stress: The use of significant intensity in speech.
e.g: naturally (naetserlly)
nat surely will come (naet serliy el kem)

Pitch: Intonation which gives contribution to meaning varieties of the sentence.

Timing: Juncture (the type of connection or pause we get between syllables or words)

Definition of sentence:
A sentence is sequence of selected syntactic items combined into a unit in accordance with certain patterns of arrangement, modification, and intonation in any given language.
A sentence is any string of morphemes ending with a final intonation pattern.
To provide the means for analyzing sentences or any other syntactic entities, two terms are used: construction and constituent. A construction is any complete group of words or morphemes. A constituent is a morphemes, a combination of morphemes, or a construction that is a component of a construction.

Basic elements of the sentence.
Subject + Predicate.

Subject:
The subject of a sentence is the person, place, thing, or idea that is doing or being something. You can find the subject of a sentence if you can find the verb. Ask the question, "Who or what ‘verbs’ or ‘verbed’?" and the answer to that question is the subject.

Predicate:
A predicate is the completer of a sentence. The subject names the "do-er" or "be-er“ of the sentence; the predicate does the rest of the work. A simple predicate consists of only a verb, verb string, or compound verb:
– The glacier melted.
– The glacier has been melting.
– The glacier melted, broke apart, and slipped into the sea.

Coordination (conjoining) is one of the basic syntactic devices from which parallel entities are arrangeed side by side.
e.g: John takes cream. John takes sugar.
The two sentences above can be coordinated into : John takes cream and sugar.

Subordination (embedding) is combining two sentences into one sentence by using English relatives and subordinating conjuction.
e.g: John, who likes sugar.

Endocentric construction is one in which the primary constituent(s) are comparable to the complete construction.
e.g: Good old John. John and Mary

Exocentric construction is one in which the primary constituent(s) do not function like the complete construction.
e.g: in the house

Substitution (pro-form), stand for the central entities of basic patterns.
As substitutes for nouns: John likes cream. He likes cream. He likes it.
Substitutes may also be used for verbs: He likes coffee and she does too.
Modals are also widely used as substitutes: He’ll take coffee and so will she.

Entities used as substitutes generally fall into the set of items known as function words. These convey relationships among the content words, such as nouns and verbs, in a language. Examples of function words are auxiliaries, conjunctions, determiners, interjections, postpositions, prepositions and relatives.

Concord, or congruence, is the agreement in form of one word with an other. For example, ‘this’ must be modified to ‘these’ before plurals, as in ‘this tie’, ‘these ties’.
Government is the determination of one from by another. For example, ‘her’ rather than ‘she’ is required in ‘He saw her’ and ‘to her’.

The two basic favorite sentence types of English, verb sentence and BE sentence.
Verb sentence:
– They came. N1 V
– They became friends. N1 V N(1)
– They saw her. N1 V N2
– They gave her candy. N1 V N2 N3
– They elected her mayor. N1 V N2 N(2)

BE sentence:
– It is cold. N BE Adj
– It is here. N BE Adv
– It is Jack. N BE N

Intransitive verbs that do not require a following noun or adjective.
Transitive verbs are subdivided here into two large groups, one of which requires only an object, the other an object plus a noun or a pronoun and those that do. Some grammars call verbs like ‘become’ and ‘seem’ linking verbs.

Overt selection classes, the subject performs an action affecting the object, whereas in ‘I saw her’, there is no such effect.
Covert selection classes, the relationship expressed by verbs like ‘stop’ is hidden in ‘They stopped the car’, with the former object as subject: ‘The car stopped’.

Subclasses of English function words are often specified according to gross sets: those used with verbs as auxiliaries and those used nouns as determiners and prepostions.
e.g: ‘His car broke down’ and ‘His broke down’.

Subclasses of English noun.
The use of determiners, in turn, permits subclassification of nouns. Proper nouns may be distinguished from common nouns by the impossibility of placing determiners before proper nouns. For example, ‘Jack’ is a proper noun in ‘Jack dealt the cards’ but not in ‘He dealt a jack to each of the players’.

Some eggs –> count nouns
Some sugar –> mass nouns
They moved last week –> ‘move’ is intranstive verb
They moved the last house on the block –> ‘move’ is transitive

Expansion of the verb phrase:
They may give her candy.
They have given her candy.
They are giving her candy.
They may have given her candy.
They may be giving her candy.
They have been giving her candy.
They may have been giving her candy.

Expansion of the noun phrase:
their old neighbors
their fine old neighbors
their fine old retired neighbors
their many fine old retired neighbors
all their fine old retired neighbors

Alterations of simple sentences:
1. Question
– with change of intonation, for example, ‘He came?’
– with wh-words, for example, ‘Who came?’
– with auxiliaries or do, for example, ‘May he come?’ or ‘Did he come?’
2. Negative
They didn’t come.
3. Emphatics
They came
4. Requests
Will you come?
5. Passives
She was seen by him

Compound sentences; the clauses so modified are referred to as coordinate and subordinate clauses, and the resulting sentences.
Example: They came and saw her.

Minor sentence types.
Completive; consist of subject plus auxiliary. For example: (Did they come?) They did.
Elliptical; consist of any single sentence component. For example: (How did he come?) Slowly.
Aphoristic; consist of parallel comparison. For example: First come, first served.

Tugas TEFL

June 2, 2010 at 3:41 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Koesnandar (0923385P1), STKIP PGRI Sidoarjo

The Principles of The Grammar-Translation Method

- A fundamental purpose ole learning a foreign language is to be able to read its literature. Literary language is superior to spoken language. Students’ study of the foreign culture is limited to its literature and fine arts.
– An important goal is for students to be able to translate each language into the other. If students can translate from one language into another, they are considered successful language learners.
– The ability to communicate in the target language is not a goal of foreign language instruction.
– The primary skills to be developed are reading and writing. Little attention is given to speaking and listening, and almost none to pronunciation.
– The teacher is the authority in the classroom. It is very important that students get the correct answer.
– It is possible to find native language equivalents for all target language words.
– Learning is facilitated through attention to similarities between the target language and the native language.
– It is important for students to learn about the form of the target language.
– Deductive application of an explicit grammar rule is a useful pedagogical technique.
– Language learning provides good mental exercise.
– Students shuold be conscious of the grammatical rules of the target language.
– Whenever possible, verb conjugations and other grammatical paradigms should be committed to memory.

Reviewing the principles
1. What are the goals of teachers who use the Grammar-Translation Method?
According to the teachers who use the The Grammar-Translation Method, a fundamental purpose of learning a foreign language is to be able to read literature written in the target language. To do this, students need to learn about the grammar rules and vocabulary of the target language. In addition, it is believed that studying a foreign language provides students with good mental exercise with helps develop their mind.

2. What is the role of the teacher? What is the role of the students?
The roles are very traditional. The teacher is the authority in the classroom. The students do as he says so they can learn what he knows.

3. What are some characteristics of the teaching/learning process?
Students are taught to translate from one language to another. Often what they translate are readings in the target language about some aspect of the culture of the foreign language community. Students study grammar deductively; that is, they are given the grammar rules and examples, are told to memorize them, and then are asked to apply the rules to other examples. They also learn grammatical paradigms such as verb conjugations. They memorize native language equivalents for foreign language vocabulary words.

4. What is the nature of student-teacher interaction? What is the nature of student-student interaction?
Most of interaction in the classroom is from the teacher to the students. There is little student initiation and little student-student interaction.

5. How are the feelings of the students dealt with?
There are no priciples of the method which relate to this area.

6. How is language viewed? How is culture viewed?
Literary language is considered superior to spoken language and is therefore the language student study. Culture is viewed as consisting of literature and the fine arts.

7. What areas of language are emphasized? What language skills are emphasized?
Vocabulary and grammar are emphasized. Reading and writing are the primary skills that the students work on. There is much less attention given to speaking and listening. Pronunciation receives little, if any, attention.

8. What is the role of the students’ native language?
The meaning of the target language is made clear by translating it into the students’ native language. The language that is used in class is mostly the students’ native language.

9. How is evaluate on accomplished?
Written tests in which students are asked to translate from their native language to the target language or vice versa are often used. Questions about the foreign culture or question that ask students to apply grammar rules are also common.

10. How does the teacher respond to student errors?
Having the students get the correct answer is considered very important. If students make errors or don’t know an answer, the teacher supplies them with the correct answer.

The Principles of The Direct Method

- Reading in the target language should be taught from the beginning of language instruction; however, the reading skill will be developed through practice with speaking. Language is primarily speech. Culture consists of more than the fine arts (e.g., we observed the students studying geography and cultural values).
– Objects (e.g., realia or pictures) present in the immediate classroom environment should be used to help students understand the meaning.
– The native language should not be used in the classroom.
– The teacher should demonstrate, not explain or translate. It is derisable that students’ make a direct association between the target language and meaning.
– Students should learn to think in the target language as soon as possible. Vocabulary is acquired more naturally if students use it in full sentences, rather than memorizing word lists.
– The purpose of language learning is communication (therefore students need to learn how to ask questions as well as answer them).
– Pronunciation should be worked on right from the beginning of language instruction.
– Self-correction facilitates language learning.
– Lesson should contain some conversational activity – some opportunity for students to use language in real contexts. Students should be encouraged to speak as much as possible.
– Grammar should be taught inductively. There may never be an explicit grammar rule given.
– Writing is an important skill, to be developed from the beginning of language instruction.
– The syllabus is based on situations or topics, not usually on linguistic structures.
– Learning another language also involves learning how speakers of that language live.

Reviewing the principles
1. What are the goals of teachers who use the Direct Method?
Teachers who use the Direct Method intend that students learn how to communicate in the target language. In order to do this successfully, students should learn to think in the target language.

2. What is the role of the teacher? What is the role of the students?
Although the teacher directs the class activities, the students role is less passive than in Grammar-Translation Method. The teacher and the students are more like partners in the teaching/learning process.

3. What are some characteristics of the teaching/learning process?
Teachers who use the Direct Method believe students need to associate meaning and the target language directly. In order to this, when the teacher introduces a new target language word or phrase, he demonstrates its meaning through the use of realia, pictures, or pantomime; he never translates it into the students’ native language.

4. What is the nature of student-teacher interaction? What is the nature of student-student interaction?
The initiation of the interaction goes both ways, from teacher to students and from student to teacher, although the latter is often teacher-directed. Students converse with one another as well.

5. How are the feelings of the students dealt with?
There are no principles of the method which relate to this area.

6. How is language viewed? How is culture viewed?
Language is primarily spoken, not written. Therefore, students study common, everyday speech in the target language. They also study culture consisting of the history of the people who speak the target language, the geography of the country or countries where the language is spoken, and information about the daily lives of the speakers of the language.

7. What areas of language are emphasized? What language skills are emphasized?
Vocabulary is emphasized over grammar. Although work on all four skills (reading, writing, speaking, and listening) occurs from the start, oral communication is seen as basic. Thus the reading and writing exercises are based upon what the students practice orally first. Pronunciation also receives attention right from the beginning of a course.

8. What is the role of the students’ native language?
The students’ native language should not be used in the classroom.

9. How is evaluate on accomplished?
We didn’t actually see any formal evaluation in the class we observed; however, in the Direct Method, students are asked to use the language, not to demonstrate their knowledge about the language. They are asked to do so using both oral and written skills.

10. How does the teacher respond to student errors?
The teacher, employing various techniques, tries to get students to self-correct whenever possible.

The principles of The Audio-Lingual Method

- Language forms do not occurs by themselves; they occur most naturally within a context.
– The native language and the target language have separate linguistic systems. They should be kept apart so that the students’ native language interferes as little as possible with the studenta’ attempts to acquire the target language.
– One of the language teacher’s major roles is that of a model the target language. Teachers should provide students with a native-speaker-like model. By listening to how it is supposed to sound, students should be able to mimic the model.
– Language learning is a process of habit formation. The more often something is repeated, the stronger the habit and the greater the learning.
– It is important to prevent learners from making errors. Errors lead to the formation of bad habits. When errors do accurs, they should be immediately corrected by the teacher.
– The purpose of language learning is to learn how to use the language to communicate.
– Particular parts of speech occupy particular “slots” in sentences. In order to create new sentences, students must learn which part of speech occupies which slot.
– Positive reinforcement helps the students to develop correct habits.
– Students should learn to respond to both verbal and nonverbal stimuli.
– Each language has a finite number of patterns. Pattern practice helps students to form habits which enable the students to use the patterns.
– Students should “overlearn,” i.e., learn to answer automatically without stopping to think.
– The teachers should be like an orchestra leader-conducting, guiding, and controlling the students’ behavior in the target language.
– The learning of a foreign language should be the same as the acquisition of the native language. We do not need to memorize rules in order to use our native language. The rules necessary to use the target language will be figured out or induced from examples.
– The major challenge of foreign language teaching is getting students to overcome the habits of their native language. A comparison between the native and target language will tell the teacher in what areas her students will probably experience difficulty.
– Speech is more basic to language than the written form. The “natural order” – the order children follow when learning their native language – of skill acquisition is: listening, speaking, reading, and writing.
– Language cannot be separated from culture. Culture is not only literature and the arts, but also the everyday behavior of the people who use the target language. One of the teacher’s responsibilities is to present information about that culture.

Reviewing the principles
1. What are the goals of teachers who use the Audio-Lingual Method?
Teachers want their students to be able to use the target language communicatively. In order to do this, they believe students need to overlearn the target language, to learn to use it automatically without stopping to think. Their students achieve this by forming new habits in the target language and overcoming the old habits of their native language.

2. What is the role of the teacher? What is the role of the students?
The teacher is an orchestra leader, directing and controlling the language behavior of her students. She also is responsible for providing her students with a good model for imitation.

3. What are some characteristics of the teaching/learning process?
New vocabulary and structures are presented through dialogs. The dialogs are learned through imitatition and repetition, backward build-up, chain, subtitution, transformation, and question-and-answer) are conducted based upon the patterns present in the dialog.

4. What is the nature of student-teacher interaction? What is the nature of student-student interaction?
There is student-to-student interaction in chain drill or when students take different roles in dialogs, but this interaction is teacher-directed. Most of the interaction is between teacher and students and is initiated by the teacher.

5. How are the feelings of the students dealt with?
There are no principles of the method that relate to this area.

6. How is language viewed? How is culture viewed?
The view of language in the Audio-Lingual Method has been influenced by descriptive linguists. Every language is seen as having its own unique system. The system is comprised of several different levels; phonological, morphological, and syntactic. Each level has its own descriptive patterns. Culture consist of the everyday behavior and lifestyle of the target language speakers.

7. What areas of language are emphasized? What language skills are emphasized?
The structures of the language are emphasized over all the other areas. The syllabus is typically a structural one, with the structures for any particular unit included in the new dialog. Vocabulary is also contextualized within the dialog. It is, however, limited since the emphasis is placed on the acquisition of the patterns of the language. The natural order of skills presentation is adhered to: listening, speaking, reading, and writing. The oral/aural skills receive most of the attention. Pronunciation is taught from the beginning, often by students working in language laboratories on discriminating between members of minimal pairs.

8. What is the role of the students’ native language?
The habits of students’ native language are thought to interfere with the students attempts to master the target language. Therefore, the target language is used in the classroom, not the students native language. A contrastive analysis between the students native language and the target language will reveal where a teacher shuold expect the most interference.

9. How is evaluate on accomplished?
The answer to this question is not obvious because we didn’t discrete-point in nature, that is, each question on the test would focus on only one point of the language at a time. Students might be asked to distinguish between word in a minimal pair.

10. How does the teacher respond to student errors?
Student errors are to be avoided if at all possible through the teacher’s awareness of where the students will have difficulty and restriction of what they are taught to say.

The Principles of The Silent Way

- The teacher should start with something the students already know and build from that to the unknown. Language share a number of features, sounds being the most basic.
– Language learners are intelligent and bring with them the experience of already learning a language. The teachers should give only what help is necessary.
– Language is not learned by repeating after a model. Students need to develop their own “inner criteria” for correctness – to trust and to be responsible for their own production in the target language.
– Students’ actions can tell the teacher whether or not they have learned.
– Students should learn to rely on each other and themselves.
– The teacher works with the students while the students work on the language.
– The teacher makes use of what students already know. The more the teacher does for the students what they can do for themselves, the less they will do for themselves.
– Learning involves transferring what one knows to new contexts.
– Reading is worked on from the beginning but follows from what students have learned to say.
– Silence is a tool. It helps to foster autonomy, or the exercise of initiative. It also removes the teacher from the center of attention so he can listen to and work with students.
– Meaning is made clear by focusing students’ perceptions, not through translation.
– Students can learn from one another. The teacher’s silence encourages group cooperation.
– If the teachers praises (or criticizes) students, they will be less self-reliant. The teacher’s actions can interfere with students’ developing their own criteria.
– Errors are important and necessary to learning. They show the teacher where things are unclear.
– If students are simply given answers, rather than being allowed to self-correct, they won’t retain them.
– Students need to learn to listen to themselves.
– At the beginning, the teacher needs to look for progress, not perfection. Learning takes place in time. Students learn at different rates.
– A teacher’s silence frees the teacher to closely observe the students’ behavior.
– Students learn they must give the teacher their attention in order not to miss what he says. Student attention is a key to learning.
– Students should receive a great deal of meaningful practice without repetition.
– The elements of the language are introduced logically, expanding upon what students already know.
– Students gain autonomy in the language by exploring it and by making choices.
– Language is for self-expression.
– The teacher can gain valuable information from student feedback; for example, he can learn what to work on next. Students learn how to accept responsibility for their own learning.
– Some learning takes place naturally as we sleep. Students will naturally work on the day’s lesson then.
– The syllabus is composed of linguistic structures.
– The structures of the syllabus are not arranged in a linear fashion, but rather are constantly being recycled.
– The skills of speaking, reading, and writing reinforce one another.

Reviewing the principles
1. What are the goals of teachers who use the Silent Way?
Students should be able to use the language for self-expression-to express their thoughts, perceptions, and feelings. In order to do this, they need to develop independence from the teacher, to develop their own inner criteria for correctness.

2. What is the role of the teacher? What is the role of the students?
The teacher is a technician or engineer. “Only the learner can do the learning,” but the teacher, relying on what his students already know, can give what help is necessary, focus the students’ perceptions, “force their awareness,” and “provide exercises to insure their facility” with the language. The role of the students is to make use of what they know, to free themselves of any obstacles that would interfere with giving their most attention to the learning task, and to actively engage in exploring the language.

3. What are some characteristics of the teaching/learning process?
Students begin their study of the language through is basic building blocs, its sounds. These are introduced through a language specific sound-color chart. Relying on what sounds students already know from their knowledge of their native language, teachers lead their students to associate the sounds of the target language, with particular colors. Later, these same colors are used to help students learn the spelling that correspond to the sounds (through the color-coded Fidel Chart) and how to read and pronounce words properly (through the color-coded word charts).

4. What is the nature of student-teacher interaction? What is the nature of student-student interaction?
For much of the student-teacher interaction, the teacher is silent. He is still very active, however-setting up situations to “force awareness,” listening attentively to students’ speech, and silently working with them on their production. When the teacher does speak it is to give clues, not to model the language. Student-student verbal interaction is desirable (students can learn from one another) and is therefore encouraged. The teacher’s silence is one way to do this.

5. How are the feelings of the students dealt with?
The teacher constantly observes the students. When their feelings interfere, the teacher tries to find ways for the students to overcome them.

6. How is language viewed? How is culture viewed?
Languages of the world share a number of features. Howeve, each language also has its own unique reality, or spirit, since it is the expression of a particulair group of people.

7. What areas of language are emphasized? What language skills are emphasized?
Since the sounds are basic to any language, pronunciation is worked on from the beginning. It is important that student acquire the melody of the language. There is also a focus on the structures of the language, although explicit grammar rules may never be supplied. Vocabulary is somewhat restricted at first.

8. What is the role of the students’ native language?
Meaning is made clear by focusing the students’ perceptions, not by translation. The students’ native language can, however, be used to give instructions when necessary, to help a student improve his or her pronunciation, for instance. The native language is also used (at least at beginning levels of proficiency) during the feedback sessions.

9. How is evaluate on accomplished?
Although the teacher may never give a formal test, he assesses student learning all the time. Since “teaching is subordinated to learning,” the teacher must be responsive to immediate learning needs.

10. How does the teacher respond to student errors?
Student errors are seen as a natural, indispensable part of the learning process. Errors are inevitable since the students are encouraged to explore the language.

Thinking about the experience of Suggestopedia

1. Learning is facilitated in a relaxed, cmfortable environment.
2. A student can learn from what is present in the environment, even if his attention is not directed to it (“Peripheral Learning”).
3. If the student trusts and respects the teacher’s authority, he will accept and retain information better.
4. The teacher should recognize that learners bring certain psychological barriers with them to the learning situation. She should attempt to “desuggest” these.
5. Activating the learners’ imagination will aid learning.
6. The teacher attempts to increase her students’ confidence that they will be successful learners. the more confident the student feel, the better they will learn.
7. Assuming a new identity enhances students’ feeling of security and allows them to be more open. They feel less inhibited since their performance is really that of a different person.
8. The dialog that the students learn contains language they can use immediately.
9. When their attention is off the form of the language, and on the process of communicating, students will learn best.
10. The teacher should integrate indirect positive suggestions (“there is no limit to what you can do”) into the learning situation.
11. The teacher should present and explain the grammar and vocabulary, but not dwell on them.
12. One way that meaning is made clear is through mother tongue translation.
13. Communication takes place on “two planes”: on one the linguistic message is encoded; and on the other are factors which influence the linguistic message. On the conscious plane, the learner attends to the language; on the subconscious plane, the music suggest that learning is easy and pleasant. When there is a unity between conscious and subconscious, learning is enhanced.
14. A pseudo-passive state, such as the state one experiences when listening to a concert, is ideal for over-coming psychological barriers and for taking advantage of learning potential.
15. Dramatization is a particularly valueable way of playfully activating the material. Fantasy reduces barriers to learning.
16. The fine arts (music, art, and drama) enable suggestions to reach the subconscious. The arts should, therefore, be integrated as much as possible into the teaching process.
17. The teacher should help the students “activate” the material to which they have been exposed. The means of doing this should be varied so as to avoid repetition as much as possible. Novelty aids acquisition.
18. Music and movement reinforce the linguistic material. It is desirable that students achieve a state of “infantilization” having a childlike attitude so that they will be more open to learning. If they trust the teacher, they will reach this state more easily.
19. Errors are to be tolerated, the emphasis being on content, not form. The teacher should use the form a little later so the students will hear it used correctly.

Reviewing the principles of Suggestopedia
1. What are the goals of teachers who use Suggestopedia?
Teachers hope accelerate the process by which students learn to use a foreign language for everyday communication. In order to do this, more of students’ mental powers must be tapped. This is accomplished by desuggesting the psychological barriers learners bring with them to the learning situation.

2. What is the role of the teacher? What is the role of the students?
The teacher is the authority in the classroom. In order for the method to be successful, the students must trust and respect her. The students will retain information better from someone in whom they have confidence since they will be more responsive to her “desuggesting” their limitations and suggesting how easy it will be for them to succeed.

3. What are some characteristics of the teaching/learning process?
A suggestopedic course is conducted in a classroom in which students are as comfortable as possible. Ideally, easy chairs, soft lighting, and music are all available to contribute to a relaxing environment. Posters displaying grammatical information about the the target language are hung around the room in order to take advantage of students’ peripheral learning. The posters are changed every few weeks.

4. What is the nature of student-teacher interaction? What is the nature of student-student interaction?
The teacher initiates interactions with the whole group of students and with individuals right from the beginning of a language course. Initially, the students can only respond nonverbally or with a few target language words they have practiced. Later the students have more control of the target language and can respond more appropriately and even initiate interaction themselves. Students interact with each other from the beginning in various activities directed by the teacher.

5. How are the feelings of the students dealt with?
A great deal of attention is given to students’ feelings in this method. One of fundamental principles of the method is that if students are relaxed and confident, they will not need to try hard to learn the language. It will just come naturally and easilly.

6. How is language viewed? How is culture viewed?
Language is the first of two planes in the two-plane process of communication. In the second plane are the factors which influence the linguistic message.
The culture which students learn concerns the everyday life of people who speak the language. The use of fine arts is also common in Suggestopedic classes.

7. What areas of language are emphasized? What language skills are emphasized?
Vocabulary is emphasized. Claims about the success of the method often focus on the large number of words that can be acquired. Grammar is dealt with explicitly but minimally. In fact, it is believed that students will learn best if their conscious attention is focused, not on the language forms, but on using the language.
Speaking communicatively is emphasized. Students also read the target language (for example, dialogs) and write (for example, imaginative compositions).

8. What is the role of the students’ native language?
Native language translation is used to make the meaning of the dialog clear. The teacher also uses the mother tongue in class when necessary. As the course proceeds, the teacher uses the native language less and less.

9. How is evaluation accomplished?
Evaluation usually is conducted on students’ normal in-class performance and not through formal tests, which would threaten the relaxed atmosphere considered essential for accelerated learning.

10. How does the teacher respond to student error?
At least at the beginning levels, errors are not corrected immediately since the emphasis is on students communicating their intended meaning. When errors of form do occur, the teacher uses the form correctly later on during class.

Thinking about the experience of Community Language Learning

Whole-person learning means that teachers consider not only their students’ feeling and intellect, but also have some understanding of the relationship among students’ physical reactions, their instinctive protective reaction and their desire to learn.
1. Building a relationship with and among students is very important.
2. Any new learning experinece can be threatening. When students have an idea of what will happen in each activity, they often feel more secure. People learn best when they feel secure.
3. Language is for communication.
4. The superior knowledge and power of the teacher can be threatening. If the teacher does not remain in the front of the classroom, the threat is reduced and the students’ learning is facilititated. Also this fosters interaction among students, rather than from student to teacher.
5. The teacher should be sensitive to students’ limitations and not over-whelm them with more than they can handle.
6. Students feel more secure when they know the limit of an activity.
7. Teacher and students are whole persons.
8. Guided by the knowledge that each learner is unique, the teacher creates an accepting atmosphere. Learners feel free to lower their defenses and the learning experience becomes less threatening.
9. The teacher “counsels” the students. He shows them he is really listening to them and understands what theyare saying. By understanding how students feel, the teacher can help students to overcome their negative feelings, which might otherwise block their learning.
10. The students’ native language is used to make the meaning clear. Students feel more secure when they understand everything.
11. The teacher should take the responsibility for clearly structuring activities in the most appropriate way possible for successfull completion of an activity.
12. Learning at the beginning stages is facilitated if students attend to one task at a time.
13. The teacher encourages student initiative and independence.
14. Students need quiet reflection time in order to learn.
15. Students learn best when they have a choice in what they practice. Students develop an inner wisdom about where they need to work. If students feel in control, they can take more responsibility for their own learning.
16. Students need to learn to discriminate; for example, in perceiving the similarities and differences among the target language forms.
17. In groups, students can begin to feel a sense of community and can learn from each other as well as the teacher. Cooperative, not competition, is encouraged.
18. Teachers should work in a non-threatening way with what the learner has produced.
19. Developing a community among the class members builds trust and can help to reduce the threat of the new learning situation.
20. Learning tends not to take place when the material is too new or, conversely, too familiar. Retention will best take place somewhere in between novelty and familiarity.
21. In additionto reflecting on the language, students reflect on what they have experienced. In this way, they have an opportunity to learn about their own learning as well as learning about the language.
22. In the beginning stages, the “syllabus” is designed primarily by the students. Students are more willing to learn when they have created the material themselves.

Reviewing the principles of Community Language Learning
1. What are the goals of teachers who use of Community Language Learning Method?
Teachers who use the Community Language Learning Method want their students to learn how to use the target language communicately.

2. What is the role of the teacher? What is the role of the students?
The teacher’s intial role is that of a conselor. This does not mean that the teacher is a therapist, or that the teacher does not teaching.

3. What are some characteristics of the teaching/learning process?
In a Stage I class, which is what we observed, students typically have a conversation in their native language. The teacher helps them express what they want to say by giving them the target language translation in chunks. These chunks are recorded, and when they are replayed, it sounds like a fairly fluid conversation.

4. What is the nature of student-teacher interaction? What is the nature of student-student interaction?
The nature of student-teacher interaction in the Community Language Learning changes within the lesson and over time. Sometimes the students are aggressive, as when they are having a conversation.

5. How are the feelings of the students dealt with?
Responding to the student’s feeling is consideredvery important in Conseling-Learning. One regular activity is inviting students to comment on how they feel while the teacher understands. By showing students he understands how they feel, the teacher can help them overcome negative feelings that might othewise block their learning.

6. How is language viewed? How is culture viewed?
Language is for communication. Curran writes that “learning is persons,” that both teacher and student agree to trust one another and the learning process.

7. What areas of language are emphasized? What language skills are emphasized?
In the early stages, typically the students design the syllabus, in that they decide what they want to be able to say in the target language. Later on the teacher might also work with published textbooks.

8. What is the role of the students’ native language?
Students’ security is initially enhanced by using their native language. Where possible. literal native language equivalents are given to the target language words that have been transcribed.

9. How is evaluation accomplished?
That teachers would encourage their students to self-evaluate to look at their own learning and to become aware of their own progress.

10. How does the teacher respond to student error?
Teachers should work with what the learner has produced in a nontreatening way. One way of doing this is for the teacher to repeat correctly what the student has said incorrectly, without calling further attention to the error.

Thinking about the experience of The Total Physical Response Method
1. Meaning in the target language can often be conveyed through actions. Memory is activated through learner response.
2. The students’ understanding of the target language should be developed before speaking.
3. Students can initially learn one part of the language rapidly by moving their bodies.
4. The imperative is a powerful linguistic device through which the teacher can direct student behavior.
5. Student can learn through observing actions as well as by performing the actions themselves.
6. It is very important that students feel successful. Feeling of success and low anxiety facilities learning.
7. Students should not be made to memorize fixed routines.
8. Correction should be carried out in an unobtrusive manner.
9. Students must develop flexibility in understanding novel combinations of target language chunks. They need to understand more than the exact sentences used in training. Novelty is also motivating.
10. Language learning is more effective when it is fun.
11. Spoken language should be emphasized over written language.
12. Students will begin to speak when they are ready.
13. Students are expected to make errors when they first begin speaking. Teachers should be tolerant of them. Work on the fine details of the language should be post-poned until students have become somewhat proficient.

Reviewing the principles of The Total Physical Response Method
1. What are the goals of teachers who use of The Total Physical Response Method?
Teachers who use The Total Physical Response Method believe in the importance of having their students enjoy their experience in learning to communicate in a foreign language.

2. What is the role of the teacher? What is the role of the students?
Initially, the teacher is the director of all student behavior. The students are imitators of her nonverbal model.

3. What are some characteristics of the teaching/learning process?
The first phase of a lesson is one of modelling. The instructor issues commands to a few students, then performs the action with them. In the phase, these same students demonstrate that they can understand the commands by performing them alone. The observers also have an opportunity to demonstrate their understanding.

4. What is the nature of student-teacher interaction? What is the nature of student-student interaction?
The teacher is interacts with the whole group of students and with individual students. Initially the interaction is characterized by the teacher speaking and the students responding nonverbally. Later on, the students become more verbal and the teacher responds nonverbally.

5. How are the feelings of the students dealt with?
It is important that there not be too much modeling, but the students not to be too rushed either. Feelings of success and low anxiety facilitate learning.

6. How is language viewed? How is culture viewed?
Just as with the acquisition of the native language, the oral modality is primary. Culture is the lifestyle of people who speak the language natively.

7. What areas of language are emphasized? What language skills are emphasized?
Grammatical structures and vocabulary are emphasized over other language areas. These are embedded within imperatives. The imperatives are single words and multi-word chunks. One reason for the use of imperatives is their frequency of occurrence in the speech directed at young children learning their mother tongue.

8. What is the role of the students’ native language?
The method is usually introduced in the students’ native language. After the introduction, rarely would the mother tongue be used. Meaning is made clear through body movements.

9. How is evaluation accomplished?
Teachers will know immediately whether or not students understand by observing their students’ actions. Formal evaluations can be conducted simply by commanding individual students to perform a series of actions. As students become more advanced, their performance in skits they have created can become the basis for evaluation.

10. How does the teacher respond to student error?
It is expected that students will make errors when they first begin speaking. Teachers should be tolerant of them and only correct major errors. Even these should be corrected unobtrusively. As students get more advanced, teacher can “fine tune” – correct more minor errors.

Thinking about the experience of The Communicative Approach
1. Whenever possible, “authentic language” – language as it is used in a real context-should be introduced
2. Being able to figure out the speaker’s or writer’s intentions is part of being communicatively competent.
3. The target language is a vehicle for classroom communication, not just the object of study.
4. One function can have many different linguistic forms. Since the focus of the course is on real language use, a variety of linguistic forms are presented together.
5. Students should work with language at the discourse or supra sentential (above the sentence) level. They must learn about cohesion and coherence, those properties of language which bind the sentences together.
6. Games are important because they have certain features in common with real communicative events there is a purpose to the exchange.
7. Students should be given an opportunity to express their ideas and opinions.
8. Errors are tolerated and seen as a natural outcome of the development of communication skills. Students’ success is detemined as much by their fluency as it is by their accuracy.
9. One of the teacher’s major responsibilities is to establish situations likely to promote communication.
10. Communicative interaction encourages cooperative relationship among students. It gives students an opportunity to work on negotiating meaning.
11. The social context of the communicative event is essential in giving meaning to the utterances.
12. Learning to use language forms approriately is an important part of communicative competence.
13. The teacher acts as an advisor during communcative activities.
14. In communicating, a speaker has a choice not only about what to say, but also how to say it.
15. The grammar and vocabulary that the students learn follow from the function, situational context, and the roles of the interlocutors.
16. Students should be given opportunities to develop strategies for interpreting language as it is actually used by native speakers.

Reviewing the principles of The Communicative Approach
1. What is the goal of teachers who use of The Communicative Approach?
The goal is to have one’s students become communicatively competent. While this has been the stated goal of many of the other methods, in The Communicative Approach the nation of what it takes to be communicatively competent is much expanded.

2. What is the role of the teacher? What is the role of the students?
The teacher is a facilitator of his students’ learning. As such he has many roles to fulfill. He is a manager of classroom activities.

3. What are some characteristics of the teaching/learning process?
The most obvious characteristic of The Communicative Approach is that almost everything that is done with a communicative intent. Students use the language a great deal through communicative activities such as games, role-plays, and problem-solving tasks.

4. What is the nature of student-teacher interaction? What is the nature of student-student interaction?
The teacher is the initiator of the activities, but he does not always himself interact with the students. Sometimes he is a co-communicator, but more often he establishes situation that prompt communication between and among the students.

5. How are the feelings of the students dealt with?
Student security is enhanced by the many opportunities for cooperative interactions with their fellow students and the teacher.

6. How is language viewed? How is culture viewed?
Language is for communication. Linguistic comperence, the knowledge of forms and meanings is, however, just one part of communicative comperence.

7. What areas of language are emphasized? What language skills are emphasized?
Language functions are emphasized over forms. Typically, although not always, a functional syllabus is used. A variety of forms are introduced for each function.

8. What is the role of the students’ native language?
The students’ native language has no particular role in The Communicative Approach. The target language should be used not only during communicative activities, but also, for example, in explaining the activities to the students or in assigning homework.

9. How is evaluation accomplished?
A teacher evaluates not only his students’ accuracy, but also their fluency. The student who has the most control of the structures and vocabulary is not always the best communicator.

10. How does the teacher respond to student error?
Errors of form are tolerated and are seen as natural outcome of the development of communication skill. Students can have limited linguistic knowledge and still be successful communicators.

Create a free website or blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.