Filsafat Ilmu

November 21, 2010 at 3:50 pm | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Filsafat Ilmu

Disalin dari Laely’s Areal’s

BAB I
PENDAHULUAN

 Ilmu = Al-‘ilm (bahasa arab) = Knowledge (bahasa inggris) = Pengetahuan.
 Science hanya sebagian dari al-‘ilm.
 Pengetahuan ialah semua yang diketahui.
 Bayi yang baru lahir tidak mempunyai pengetahuan sedangkan pengetahuan itu akan bertambah seiring dengan bertambahnya usia dengan jumlah yang berbeda-beda.
 Dilihat dari segi motif pengetahuan diperoleh melalui 2 cara, yaitu :
1. Pengetahuan yang diperoleh dengan begitu saja tanpa niat, tanpa keingintahuan dan tanpa sengaja.
2. Pengetahuan yang didasari oleh rasa ingin tahu dan diperoleh karena diusahakan (belajar).
 Rasa ingin tahu yang ada pada manusia sudah dibangun dala penciptaan manusia (rasa ingin tahu itu adalah takdir).

 Salah satu tujuan perkuliahan filsafat ilmu adalah agar kita memahami kapling pengetahuan. Pengetahuan terbagi tiga macam, yaitu:
1. Pengetahuan sain (rasional dan empiris) = pengetahuan yang rasional dan didukung bukti empiris. Pengetahuan sain ini mempunyai paradigma sain dan metode ilmiah. Contoh : jeruk ditanam buahnya jeruk.
Teknologi = sain terapan.
2. Pengetahuan filsafat (hanya rasional) = kebenaran dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan tidak dapat dibuktikan secara empiris. Objek penelitan filsafat ilmu = objek-objek yang bersifat abstrak. Mempunyai paradigm rasional dan metode rasional. Contoh : jeruk selalu berbuah jeruk karena ada hokum yang mengatur demikian.
3. Pengetahuan mistik = kebenaran pada umumnya tidak dapat dibuktikan secara impiris, selalu tidak terjangkau pembuktian rasional.

Pengetahuan Manusia
Pengetahuan | Objek | Paradigma | Metode | Kriteria
————————————————————————————————–
SAIN | empiris | sain | metode ilmiah | rasionalis empiris
FILSAFAT | abstrak rasional | rasionalis | metode rasionalis | rasionalis
MISTIK | abstrak supra rasional | mistik | latihan, percaya | rasa, iman, logis,
kadang empiris

 Pengetahuan yang belum diketahui kedudukannya adalah:
1. Pengetahuan seni => tentang indah dan tidak indah.
2. Pengetahuan etika => tentang baik dan tidak baik.

Logis dan Rasional
1. Rasional
 Menurut kant rasional => suatu pemikiran yang masuk akal tetapi menggunakan ukuran hukum alam.

 Kesimpulan:
1. Sesuatu yang rasional ialah sesuatu yang mengikuti atau yang sesuai dengan hokum alam.
2. Yang tidak rasional adalah yang tidak sesuai dengan hukum alam.
3. Kebenaran akal didukung dengan hukum alam.
 Akal itu sempit, hanya sebatas hokum alam saja.
 Contoh: nabi Ibrahim dibakar tidak hangus (tidak rasional)

2. Logis
a. Logis rasional => sama dengan logis
b. Logis supra-rasional => pemikiran akal yang kebenarannya hanya mengandalkan argumen, ia tidak diukur dengan hukum alam. Contoh: nabi Ibrahim dibakar tidak hangus (logis supra rasional)

 Kesimpulan: pada kasus Ibrahim ini adalah kasus yang tidak rasional tetapi logis dalam arti logis suprarasional.

 Ungkapan yang dapat dibuat:
1. Yang logis ialah yang masuk akal.
2. Yang logis itu mencakup yang rasional dan supra rasional.
3. Yang rasional adalah yang masuk akal dan sesuai dengan hukum alam.
4. Yang supra rasional adalah yang masuk akal sekalipun tidak sesuai dengan hokum alam.
5. Istilah logis boleh dipakai dalam pengertian rasional atau dalam pengertian supra-rasional.

 Kesimpulan sebagai implikasi konsep logis diatas:
1. Isi al-Quran ada yang rasional ada juga yang supra rasional.
2. Isi al-Quran itu semuanya logis; sebagian logis rasional, sebagian lagi logis supra-rasional.
3. Rumus metode ilmiah yang selama ini logika-hypothetico-verificatif dapat diteruskan dengan penjelasan logika itu harus diartikan rasio.
4. Mazhab rasionalisme tidak dapat diterima oleh system ini, yang dapat diterima adalah mazhab logisme.

BAB II
PENGETAHUAN SAIN

A. Ontologi Sain
1. Hakikat Pengetahuan Sain

Pengetahuan sains adalah pengetahuan rasional empiris.
a. Rasional => hipotesis harus bersifat rasional.
b. Empiris => hipotesis harus diuji kebenarannya mengikuti prosedur ilmiah.
 Rumus baku metode ilmiah logika-hypothetico-verificatif : buktikan bahwa itu logis (dalam arti rasional), tarik hipotesis, ajukan bukti empiris.
 Asumsi dasar sain: tidak ada kejadian tanpa sebab.

2. Struktur Sain
a. Sain Kealaman
 Astronomi.
 Fisika : mekanika, bunyi, cahaya dan optic, fisika nuklir.
 Kimia : kimia organic, kimia teknik.
 Ilmu bumi : paleontology, ekologi, geofisika, geokimia, mineralogy, geografi.
 Ilmu hayat : biofisika, botani, zoology.
b. Sain Sosial
 Sosiologi : sosiologi komunikasi, sosiologi politik, sosiologi pendidikan.
 Antropologi : antropologi budaya, antropologi ekonomi, antropologi politik.
 Psikologi: psikologi pendidikan, psikologi anak, psikologi abnormal.
 Ekonomi: ekonomi makro, ekonomi lingkungan, ekonomi pedesaan.
 Politik: politik dalam negri, politik hukum, politik internasional.
c. Humaniora
 Seni : seni abstrak, seni grafika, seni pahat, seni tari.
 Hukum : hukum pidana, hukum tata usaha Negara, hukum adat.
 Filsafat: logika, ethika, estetika.
 Bahasa: sastra
 Agama: Islam, Kristen, Confusius.
 Sejarah: sejarah Indonesia, sejarah dunia.

B. Epistemologi Sain
1. Objek Pengetahuan Sain
Ialah semua objek yang empiris yaitu pengalaman manusia (pengalaman indera).
Objek pengetahuan sain : alam, tumbuhan, hewan, manusia, kejadian alam disekitar.

2. Cara memperoleh pengetahuan sain
Perkembangan sain didorong oleh paham Humanisme, Rasionalisme, Empirisisme, Positifisme.
 Humanisme yaitu paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam sehinga manusia harus membuat aturan untuk mengatur manusia dan alam.
 Rasionalisme : paham yang mengatakan bahwa akal itulah pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal dan temuannya diukur dengan akal pula.
 Empirisme : paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada pula bukti empiris.
 Positivisme : kebenaran ialah yang logis, ada bukti empirisnya yang terukur.
Proses memperoleh pengetahuan sain:
Humanisme → Rasionalisme → Empirisme → Positivisme → Metode ilmiah → Metode Riset → Model-model penelitian → Aturan untuk mengatur manusia dan aturan untuk mengatur alam

3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sain
Pengetahuan sain dikatakan benar apabila memenuhi 2 syarat umum, yaitu:
a. Pengetahuan sain itu logis dibuktikan dengan uji logika.
b. Hipotesis tentang pengetahuan sain itu terbukti dengan uji empiris (dengan mengadakan eksperimen).

C. Aksiologi Sain
1. Kegunaan Pengetahuan Sain

a. Teori Sebagai Alat Ekspalansi (menjelaskan)
b. Teori Sebagai Alat Peramal
c. Teori Sebagai Alat Pengontrol

2. Cara sain menyelesaikan masalah
a. Identifikasi masalah
b. Mencari teori
c. Menetapkan tindakan penyelesaian

 Jangan terlalu mengandalkan sain dalam setiap penyelesaian masalah, sebab:
a. Belum tentu sain mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi.
b. Belum tentu setiap masalah tersedia teori untuk menyelesaikannya.

3. Bonus
Netralisasi Sain
Sain itu tidak netral artinya sain itu seharusnya tidak bebas nilai.
Krisis Sain Modern
Kesalahan-kesalahan sain modern terletak pada:
a. Tentang space atau jagad raya.
b. Tentang matter atau materi.
c. Tentang kausalitas.
d. Tentang uncertainty dari Heisenberg.s
e. Tentang partikel sub-atomik
f. Tentang kerusakan ekologi menyeluruh.

Pengembangan Ilmu
• Teori adalah pendapat yang beralasan.
• Isi ilmu adlaah teori, maka mengembangkan ilmua adalah mengembangkan teorinya.
• Beberapa kemungkinan mengembangkan teori:
a. Menyusun teori baru.
b. Menemukan teori baru untuk mengganti teori lama.
c. Merevisi teori lama
d. Membatalkan teori lama yang sudah tidak sesuai
• Prosedur serta langkah-langkah pengemabangan ilmu akan ditentukan oleh jenis ilmunya yang memerlukan organisasi dan managernya. Itu memerlukan biaya tinggi, kadang memerlukan tenaga yang sedikit atau banyak dan memerlukan waktu yang kadang bias sedikit, lama ataupun sangat lama,

BAB III
PENGETAHUAN FILSAFAT

A. Ontologi Filsafat
 Ontologi filsafat membicarakan hakikat, objek dan struktur filsafat.

1. Hakekat Pengetahuan Filsafat
 Hakekat filsafat yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya.
 Pada hakekatnya pengertian filsafat hanya akan dimengerti apabila orang itu telah banyak mempelajari tentang filsafat.
 Filsafat menurut poedjawijatna yaitu sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka.
 Filsafat menurut Hasbullah Bakry mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilakan pengetahuan tenatng bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
 Jadi inti filasafat adalah hanya hasil pemikiran yang logis. Pengetahuan filsafat logis dan tidak empiris.

2. Struktur Filsafat
 Struktur filsafat yaitu susunan hasil pemikiran untuk menemukan kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam.
 Filsafat terdiri atas 3 cabang besar yang sebenarnya merupakan satu kesatuan yaitu:
• Ontologi : membicarakan hakikat segala sesuatu.
• Epistemologi : cara memperoleh pengetahuan itu
• Aksiologi : membicarakan keguna pengetahuan itu.
 Filsafat Perennial
• Berasal dari bahasa latin perennis yang artinya kekal.
• Filsafat prenial: filsafat yang dipandang dapat menjelaskan segala kejadian yang bersifat hakiki, menyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalani hidup yang benar, yang menjadi hakikat seluruh agama dan tradisi besar spiritualitas manusia.
• Filsafat Perennial adalah pengetahuan filsafat tentang yang selalu ada.
• Hakikat Filsafat Perennial :
1. Metafisika : untuk mengetahui adanya hakikat realitas ilahi yang merupakan substansi dunia ini baik yang material, biologis maupun intelektual.
Filsafat Perennial mengatakan bahwa eksistensi-eksistensi tertata secara hirarkis. Realitas selalu saling terkait, jumlahnya meningkat ketika levelnya naik. Semakin tinggi eksistensi semakin real ia.
2. Psikologi : jalan untuk mengetahui adanya sesuatu dalam diri manusia yang identik dengan realitas ilahi.
Manusia adalah mahluk yang mencerminkan alam raya. Demikian juga sebaliknya. Filsafat perennial bukan berarti tidak menghargai akal. Namun dalam menghargai akal itu yang dihargai ialah orang yang menggunakan. Bukan pada kemampuan akal itu.
3. Etika : meletakkan tujuan akhir kehidupan manusia dimana etika itu sendiri adalah kumpulan petunjuk untuk mengefektifkan usaha transformasi diri yang akan memungkinkan untuk mengalami dunia dengan cara baru.
Suasana batin tertentu pada tataran psikologis ternyata sanggup menembus sampai kesejatiannya yang diperoleh melalui metode-metode tertentu.
 Filsafat Pasca Modern (Post Modern Philosophy)
• Pada intinya filsafat posmo (paska modern) mengkritik filsafat modern karena filsafat modern itu harus didekonstruksi. Karena filsafat modern itu didominasi dengan paham rasionalisme maka yang didekonstruksi itu adalah rasionalisme itu.
• Pada th 1880-an Nietzsche menyatakan bahwa budaya barat telah berada dijurang kehancuran karena terlalu mendewakan rasio/akal dan hanya bias diselamatkan jika mengubah pandangan dengan mengakui keberadaan sumber kebenaran lain selai rasio misalnya agama. Hanya saja agama yang dipilih haruslah ajaran agama yang benar-benar berasal dari tuhan yang maha pintar.

B. Epistemologi Filsafat
1. Objek filsafat
Objek penelitian filsafat lebih luas daripada objek penelitian sain. Sain hanya meneliti objek yang ada, sedangkan filsafat meneliti objek yang mungkin ada. Dimana objek filsafat tergantung pada isi setiap cabang filsafat contoh : filsafat yang memikirkan pendidikan disebut filsafat pendidikan, filsafat yang memikirkan hokum disebut filsafat hokum.

2. Cara memperoleh pengetahuan filsafat
Manusia memperoleh pengetahuan filsafat dengan berfikir secara mendalam artinya ia hendak mengetahui bagian yang abstrak sesuatu itu. Pengetahuan dikatakan mendalam apabila ia sudah berhenti sampai tanda Tanya. Jadi jelas mendalam bagi seseorang belum tentu mendalam bagi orang lain.

3. Ukuran kebenaran pengetahuan filsafat
Pengetahuan filsafai ialah pengetahuan yang logis dan tidak empiris. Jadi ukuran kebenaran filsafat ialah logis tidak pengetahuan itu. Bila logis berarti benar dan bila tidak logis berarti salah. Filsafat tidak menuntut bukti kebenaran filsafat. Pengetahuan filsafat adalah yang pengetahuan yang logis dan hanya logis. Bila logis empiris itu adalah pengetahuan sain.

C. Aksiologi Filsafat
1. Kegunaaan Pengetahuan Filsafat
 Pandangan tentang filsafat :
a. Filsafat sebagai kumpulan dari teori filsafat
Mengetahui teori-teori filsafat amatlah perlu. Selain itu, filsafat perlu dipelajari oleh orang yang akan menjadi pengajar dalam bidang filsafat.
b. Filsafat sebagai metode pemecahan masalah (methodology)
Yaitu cara memecahkan masalah yang dihadapu secara mendalam dan universal.
c. Filsafat sebagai pandangan hidup (philosophy of life)
Filsafat sebagai pandangan hidup (philosophy of life) sama dengan agama dalam hal mempengaruhi sikap dan tindakan penganutnya.
 Kegunaan Filsafat bagi Akidah
• Akidah : bagian dari ajaran agama islam yang mengatur cara berkeyakinan. Pusatnya adalah keyakinan terhadap tuhan.
• Cara memperkuat akidah:
1. Mengamalkan keseluruan ajaran islam secara bersungguh-sungguh.
2. Mempertajam pengertian ajaran islam.
• Tuhan tidak dapat dibuktikan dengan akal rasional.
• Filsafat dapat berguna untuk memperkuat keimanana dengan bukti suara hati yang lebih kuat daripada bukti akliah (rasio).

 Kegunaan Filsafat bagi Hukum
• Hukum yang dimaksud di sini adalah Fikih yang berarni mengetaui.
• Butir-butir aturan dan ketentuan hukum yang ada dalam fikih adalah:
1. Perintah, seperti shalat, zakat, puasa dls.
2. Larangan, seperti larangan musyrik, zina dls.
3. Petunjuk,seperti cara shalat, cara puasa dls.
• Sifat unsur pokok aturan-aturan tersebut adalah:
1. Bersifat tetap, tidak terpengaruh oleh kondisi tertentu seperti aqidah dls..
2. Bersifat dapat diubah sesuai kondisi tertentu yang mencakup bidang ijtihad.
• Tujuan utama adanya fikih = untuk kemaslahatan (kebaikan) hidup manusia. Pembentukan fikih sejalan dengan tuntutan kemaslahatan umat.
• Kegunaan filsafat:
1. Kritik terhadap idiologi saingan yang akan merusak islam atau masyarakat islam.
2. Kritik terhadap hokum islami misalnya mempertanyakan apakah benar hukum itu seperti itu.
• Kesimpulan: filsafat sebagai metodologi berguna bagi pengembangan hukum dalam hal ini hukum islam.
 Kegunaan Filsafat bagi Bahasa
• Fungsi bahasa: alat untuk mengekspresiakn perasaan dan pikiran.
• Kaidah bahasa telah dipengaruhi oleh logika berupa: Bahasa menggunakan kias atau analog sebagaimana digunakan dalam logika.
• Kekeliruan berbahasa melahirkan kekeliruan dalam berfikir, macam kekeliruan yaitu:
1. Kekeliruan karena komposisi
2. Kekeliruan damlam pembagian atau devisi yaitu Kekeliruan karena menetapkan sifat keseluruhan maka keliru pula dalam menetapkan sifat sebagian.
3. Kekeliruan karena tekanan.
4. Kekeliruan karena amfiboli (kalimat mempunyai arti ganda).
• Kesimpulan: filsafat sangan berperan dalam menentukan kualitas bahasa. Tanpa peran logika kesalahan tersebut tidak dapat diperbaiki.

2. Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah
Kegunaan filsafat sebagai methodology maksudnya sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode untuk memandang dunia.
Filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal.
Mendalam: ingin mencari asal masalah.
Universal: masalah dilihat hubungan seluas-luasnya agar penyelesaian itu cepat dan berakibat seluas mungkin.
Langkah filsafat menyelesaikan masalah:
1. Mempelajari asal masalah.
2. Mencari sumber masalah yaitu hal yang berkaitan erat dengan masalah tersebut (bentuknya lebih umum dari masalah itu).

3. Menyelesaikan sumber masalah tersebut.
3. Bonus
Cara orang umum menilai
1. Menilai berdasarkan ketidaktahuan tentang itu, itulah yang dijadikan sebagai ukuran (hanya diam, tidak melakukan apapun).
2. Menilai dengan pendapatnya sebagai ukuran (mempelajarinya).
3. Menilai dengan menggunakan pendapat umumnya pakar sebagai alat ukuran (mempelajari secara luas dan dalam).

Netralisasi Filsafat
Pada netralisasi sain menjelaskan seharusnya sain itu tidak netral artinya sain itu seharusnya tidak bebas nilai. Pada filsafat ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Dalam filsafat ada filsafat Nilai atau Etika.
Filsafat Etika : cabang filsafat yang khusus membicarakan nilai yaitu nilai baik dan buruk. Filsafat membicarakan tentang nilai sedangkan nilai itu bersifat tidak netral. Sehingga, filsafat juga bersifat tidak netral.
2. Filsafat adalah pemikiran orang, maka tidak mungkin sain bersifat netral.
3. Masih ada kemungkinan netralnya filsafat yaitu pada logika. Logika mungkin bersifat netral sehingga filsafat juga mungkin bersifat netral.

BAB IV
PENGETAHUAN MISTIK

• Pengetahuan:
1. Pengetahuan Sain: Pengetahuan yang logis-empirissain: pengetahuan yang logis-empiris tentang objek yang logis empiris.
2. Pengetahuan Filsafat: Pengetahuan logis tentang objek-objek yang abstrak logis.
3. Pengetauan mistik: Pengetahuan supra – rational tentang objek yang supra – rational.

A. Ontologi Pengetahuan Mistik
1. Hakekat Pengetahuan Mistik
• Mistik adalah pengetahuan yang tidak rasional.
• Misti di kaitkan dengan agama = pengetahuan tentang tuhan yang diperoleh melalui meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan pada indera dan rasio.
• Pengetahuan mistik = Pengetahuan yang tidak dapat dipahami oleh rasio.
• Pengetahuan Mistik = Pengetahuan yang supra-natural tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris.

2. Stuktur Pengetahuan Mistik
• Mistik ada 2 yaitu :
a. Mistik Biasa = mistik tanpa kekuatan tertentu.
b. Mistik Magis = mistik yang mengandung kekuatan tertentu dan biasanya untuk mencapai tujuan tertentu. Mistik magis dibagi dua, yaitu:
 M.M putih = mistik magis yang berasal dari agama. Kekuatannya selalu dekat dan bersandar dengan tuhan. Contoh mu’jisat.
 M.M hitam = mistik magis di luar dari agama itu sendiri. Kekuatannya selalu dekat dan bersandar dengan roh jahat atau setan. Contoh santet.
• Jiwa-jiwa yang memiliki kemampuan magis dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Mereka yang memiliki kemampuan atau pengaruh melalui kekuatan mental atau hikmah karena jiwa mereka menyatu dengan roh jahat atau setan. Biasa disebut ahli sihir.
2. Merekan yang melakukan pmagisnya dengan menggunakan watak benda-benda atau elemen-elemen yang ada di dalamnya, baik benda yang ada diangkasa maupun yang ada di bumi. Sering disebut jimat.
3. Mereka yang melakukan pengaruh magisnya melalui kekuatan imaginasi sehingga menimbulkan berbagai fantasi pada orang yang dipengaruhi. Biasa disebut pesulap.

B. Epistemologi Pengetahuan Filsafat
Membahas tentang bagaimana cara pengetahuan mistik diperoleh dan objek kajiannya. Pengetahuan mistik diperoleh tidak melalui indera dan bukan melalui rasio. Pengetahuan ini diperoleh dari rasa, melalui hati sebagai alat merasa.
1. Objek Pengetahuan Mistik
Opengetahuan mistik adalah objek yang supra-rasional (alam gaib, tuhan, surga, neraka, malaikat, jin dll) dan objek yang tidak dapat dipahami oleh rasio yaitu objek-objek supra-natural (kebal, debus, pellet, santet dll).

2. Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik
• Pengetahuan mistik tidak diperoleh melalui indera dan tidak juga dengan menggunakan akal rasional. Pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa.
• Imanuael kant => mengatakan melalui moral. Ada juga yang mengatakan melalui insight, qolbu.
• Thariqat adalah cara membersihkan diri yang merupakan epistemology untuk memperoleh pengetahuan mistik.
• Cara memperoleh pengetahuan mistik pada umumnya adalah denagn riyadhah atau latihan batin. Dimana melalui cara ini manusia memperoleh pengetahuan.
• Kesimpulan epistemology pengetahuan mistik adalah pelatihan batin.

3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Mistik
• Ukuran Kebenaran sain = rasio dan bukti empiris.
• Ukuran Kebenaran filsafat = logis rasional dan logis supra-rasonal.
• Ukuran Kebenaran mistik
a. P. mistik berasal dari tuhan = teks tuhan yang menyebutkan demikian.
b. Kepercayan.
c. Ada sebagian yang dapat dibuktikan dengan bukti empiris.
• Satu-satunya tanda pengetahuan mistik adalah kita tidak dapat menjelasakan hubungan sebab akibat yang ada didalam sesuatu kejadian mistik.

C. Aksiologi Pengetahuan Mistik
1. Kegunaan Pengetahuan Mistik
• Pengetahuan mistik itu sangat subjektif yang mengetahui keguanaannya hanya pemiliknya.
• Pengetahuan mistik putih digunakan untuk kebaikan. Misal pengobatan.
• Pengetahuan mistik hitam digunakan untuk kejahatan.
• Pengetahuan ini dapat menyelesaikan apa yang tidak dapat diselesaikan oleh sain maupun filsafat.
a. Cara membedakan pengetahuan mistik putih atau hitam dapat dilihat dari cara memperolehnya, penggunaannya, ontologi dan aksiologinya. Bila pada cara memperolehnya, penggunaannya, ontologi dan aksiologinya terdapat hal-hal yang berlawanan dengan nilai kebaikan, maka disebut hitam.

2. Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah
Pengetahuan mistik menyelesaika masalah tidak melalui proses inderawi dan tidak juga melalui proses rasio.
• Pengetahuan Mistik-Magis-Putih Menyelesaika masalah yaitu dengan do’a dan wirid yang dapat menjembatani manusia dengan kebutuhannya dan tuhan yang memiliki apa yang dibutuhkan.
• Pengetahuan Mistik-Magis-Hitam Menyelesaika masalah yaitu dengan memunculkan banyak roh jahat yang berakibat segala sesuatu yang dituju tukang sihir benar-benar terjadi.

3. Bonus
Ilmu Putih vs Ilmu Hitam
Cara membedakan ilmu putih dengan ilmu hitam, yaitu:
a. Bila ontologi melawan ajaran benar (agama) maka ilmu itu tergolong golongan hitam dan sebaliknya.
b. Bila epistemologinya melawan ajaran yang benar maka ilmu itu kita katakana hitam dan sebaliknya.
c. Bila segi aksiologinya digunakan untuk tujuan melawan ajaran yang benar, maka tergolong hitam.
Keterangan :
Suatu ilmu mistik haruslah lolos uji dalam ketiga kategori tersebut. Tidak lolos dari salah satu saja berakibat “ilmu” itu dapat digolongkan hitam. Alat pengujiannya adalah kebenaran.
Netralisasai Pengetahuan Mistik
o Sain yang begitu kelihatan kenetralannya, setelah direnungkan kembali ternyata tidak netral.
o Pengetahuan filsafat yang disangka cukup untuk disebut netral ternyata lebih tidak netral disbanding sain.
o Pengetahuan mistik dengan mudah dapat dilihat bahwa ia tidak netral.
o Pengetahuan mistik bersifat subjektif. Bila subjektif maka tidak netral.
o Seperti halnya sain dan filsafat, mistik juga bersifat tidak bebas nilai.

Beberapa Contoh Pengetahuan Mistik
1. Mukasyafah
2. Ilmu Laduni
3. Saefi
4. Jangjawokan
5. Sihir
6. Ilmu Kebal
7. Santet
8. Pelet
9. Debus
10. Tentang Jin
11. Nyambat
12. Ilmu Kanuragan

————————————————————————————————-
Pengertian Filsafat, Mistik dan Sains

Disalin dari Hadad Budiarto

Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab.
Para filsuf memberi batasan yang berbeda-beda mengenai filsafat, namun batasan yang berbeda itu tidak mendasar. Batasan filsafat dapat ditinjau dari dua segi yaitu secara etimologi dan secara terminologi.
Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.

Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Seorang Plato mengatakan bahwa : Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli. Sedangkan muridnya Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lain halnya dengan Al Farabi yang berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.

Berikut ini disajikan beberapa pengertian Filsafat menurut beberapa para ahli :
Plato ( 428 -348 SM ) : Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada.
Aristoteles ( (384 – 322 SM) : Bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.
Cicero ( (106 – 43 SM ) : filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni “( the mother of all the arts“ ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan )
Johann Gotlich Fickte (1762-1814 ) : filsafat sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu , yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.
Paul Nartorp (1854 – 1924 ) : filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya .
Imanuel Kant ( 1724 – 1804 ) : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan.
1. Apakah yang dapat kita kerjakan ?(jawabannya metafisika )
2. Apakah yang seharusnya kita kerjakan (jawabannya Etika )
3. Sampai dimanakah harapan kita ?(jawabannya Agama )
4. Apakah yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi )
Notonegoro: Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.
Driyakarya : filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan “.
Sidi Gazalba: Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.
Harold H. Titus (1979 ): (1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi; (2) Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan; (3) Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian ( konsep ); Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para ahli filsafat.
Hasbullah Bakry: Ilmu Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Prof. Mr.Mumahamd Yamin: Filsafat ialah pemusatan pikiran , sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya didalam kepribadiannya itu dialamiya kesungguhan.
Prof.Dr.Ismaun, M.Pd. : Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati.
Bertrand Russel: Filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi , filsafat berisikan pemikiran-pemikiran mengenai masalah-masalah yang pengetahuan definitif tentangnya, sampai sebegitu jauh, tidak bisa dipastikan;namun, seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian akal manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu.
Dari semua pengertian filsafat secara terminologis di atas, dapat ditegaskan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi tersebut.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia Filsafat mempunyai arti:

1. Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya
2. Teori yang mendasari alam fikiran atau suatu kegiatan
3. Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi
4. Falsafah

PENGETAHUAN MISTIK
A. Ontologi Pengetahuan Mistik

1. Hakikat Pengetahuan Mistik
Mistik adalah pengetahuan yang tidak rasional, ini pengertian yang umum. Adapun pengertian mistik bila dikaitkan dengan agama ialah pengetahuan ( ajaran atau keyakinan) tentang tuhan yang diperoleh dengan cara meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan pada indera dan rasio (A.S. Hornby, A Leaner’s Dictonery Of Current English, 1957:828)
Pengetahuan Mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio, pengetahuan ini kadang-kadang memiliki bukti empiris tapi kebanyakan tidak dapat dibuktikan secara empiris.

2. Struktur Pengetahuan Mistik
Dilihat dari segi sifatnya kita membagi mistik menjadi dua, yaitu mistik biasa dan mistik magis.
Mistik biasa adalah mistik tanpa kekutan tertentu. Dalam Islam mistik yang ini adalah tasawuf. Mistik Magis adalah mistik yang mengandung kekuatan tertentu dan biasanya untuk mencapai tujuan tertentu. Mistik Magis ini dapat dibagi menjadi dua yaitu Mistik Magis Putih dan Mistik Magis Hitam
Mistik Magis Putih dalam islam adalah contohnya ialah Mukjizat, karamah, ilmu hikmah, sedangkan Mistik Magis Hitam contohnya santet dan sejenisnya yang menginduk ke sihir.
Istilah Mistik Magis Putih dan Mistik Magis Hitam digunakan untuk sekedar membedakan kriterianya. Orang menganggap Mistik Magis Putih adalah mistik magis yang berasal dari agama langit (Yahudi, Nasrani dan Islam), sedangkan mistik magis hitam berasal dari luar agama itu. Dalam praketeknya keduanya memiliki kegiatan yang relatif sama, nyaris hanya nilai filsafatnya saja berbeda. Kesamaan itu terlihat dari mistik magis putih menggunakan wirid, do’a sedangkan mistik magis hitam menggunakan mantra, jampi yang keduanya pada segi prakteknya sama.
Perbedaan mendasar ada pada segi filsafatnya. Mistik magis putih selalu berhubungan dan bersandar pada Tuhan, sehingga dukungan Illahi sangat menentukan. Mistik magis hitam selalu dekat, bersandar dan bergantung pada kekutan setan dan roh jahat.

B. Epistemologi Pengetahuan Mistik
1. Objek Pengetahuan Mistik

Yang menjadi objek pengetahuan mistik ialah objek yang abstrak supra rasional, seperti alam gaib termasuk Tuhan, Malaikat, Surga, Neraka, Jin dan lain-lain. Termasuk objek yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah objek-objek yang tidak dapat dipahami oleh rasio, yaitu objek-objek supra natural (supra rasional), seperti Kebal, Debus, Pelet, Penggunaan Jin, Santet Dan Lain-Lain
2. Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik
Bagaimana pengetahuan mistik? Diatas sudah di dikatakan bahwa pengetahuan mistik itu tidak diperoleh melalui indera dan tindakan juga dengan menggunakan akal rasional. Pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa, ada yang mengatakan melalui intuisi, Al-Ghozali mengatakan melalui dhamir atau qalbu.
3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Mistik
Kebenaran mistik dapat diukur dengan berbagai macam ukuran. Bila pengetahuan itu berasal dari tuhan, maka ukurannya adalah teks Tuhan yang menyebutkan demikian. Tetkala tuhan mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa Surga dan Neraka itu ada, maka teks itulah yang menjadi bukti bahwa pernyataan itu benar. Ada kalanya ukuran kebenaran pengetahuan mistik itu kepercayaan. Jadi, suatu dianggap benar karena kita mempercayainya. Kita percaya bahwa jin dapat disuruh oleh kita untuk melakukan pekerjaan, ya kepercayaan itulah yang menjadi kepercayaannya. Ada kalanya kebenaran suatu teori dalam pengetahuan mistik diukur dengan bukti empiris. Dalam hal ini bukti empiris itulah ukuran kebenarannya

C. Aksiologi Pengetahuan Mistik
1. Kegunaan Pengetahuan Mistik

Mustahil pengetahuan mistik mendapat pengikut yang begitu banyak dan berkembang sedemikian pesat bila tidak ada gunanya.
Pengetahuan mistik itu amat subjektif, yang paling tahu penggunaannya ialah pemiliknya. Dikalangan sufi (pengetahuan mistik biasa) dapat menentramkan jiwa mereka. Pengetahuan mereka seiring dapat menyelesaikan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh sain dan filsafat.
Jenis mistik lain seperti kekebalan, pelet, debus dan lain-lain dierlukan atau berguna baig seseorang sesuai dengan kondisi tertentu, terlepas dari benar atau tidak penggunaannya. Kebal misalnya dapat digunakan dalam pertahanan diri, debus dapat digunakan sebagai pertahanan diri dan juga untuk pertunjukan hiburan. Jenis ini dapat meningkatkan harga diri. Sementara mistik magis hitam, dikatakan hitam, antara penggunaanya untuk kejahatan.
Untuk menilai apakah mistik magis itu hitam atau putih kita melihatnya pada segi ontologinya, epistemologinya dan aksiologinya. Bila pada hal ontologinya terdapat hal-hal yang berlawanan dengan kebaikan, maka dari segi ontologi mistik magis itu kita disebut hitam. Bila cara memperolehnya (epistemologi) ada yang berlawanan dengan nilai kebaikan maka kita akan mengatakan mistik magis itu hitam. Bila dalam penggunaan (aksiologi) untuk kejahatan maka kita menyebutnya hitam.

2. Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah
Pengetahuan mistik menyelesaikan masalah tidak melalui proses indrawi dan tidak pula melalui proses rasio. Itu berlaku mistik putih dan mistik hitam.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Mistik mempunyai arti:

1. Subsistem yang ada dihampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan, tasawuf, suluk
2. Hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa

PENGERTIAN SCIENCE
Perkataan science (bahasa inggris) berasal dari bahasa Latin yaitu scientis,yang berarti pengetahuan. Jadi science merupakan pengetahuan, tetapi pernyataan ini sangat luas cakupannya. Suatu bidang materi ilmu pengetahuan yang luas ini perlu pengkhusussan, yaitu suatu pengetahuan yang terorganisir yang daat kita sebut “science”. Perkataan science dalam bahasa Jerman yaitu wisaencheft yang artinya pernyataan kumpulan pengetahuan diartikan untuk menyampaikan pengertian bahwa ada beberapa organisasi kumpulan pengetahuan, seperti halnya dengan tubuh manusia sebagai kumpulan bagian-bagian komponennya yang terorganisir secara sistematik.Tak ada pembatasan untuk menyatakan secara spesifik terhadap dunia alamiah, tetapi
hakekat opservasi dinyatakan secara spesifik. Sesungguhnya science adalah dunia alamiah atau dunia zat, baik berupa makhlukhidup maupun benda-benda mati yang dapat diobservasi. Definisi metode dan observasi yang menekankan pada hakekat science yang dinamis. Selama orang dapat melanjutkan untuk mengobservasi dan menggunakan metode ilmiah, maka science merupakan ilmu pengetahuan yang dinamis, tidak statis, baik dalam prinsip maupun praktek

Sains menurut Kamus:

1. Ilmu pengetahuan pada umumnya
2. Pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisik, termasuk didalamnya botani, fisika, kimia, dll
3. Pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang diselidiki, dipelajari Dll

————————————————————————————————–
FILSAFAT ILMU
Disalin dari AKHMAD SUDRAJAT

A. Pengertian Filsafat Ilmu

Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)

Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.

Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan)

A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)

Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)

May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.

Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan

Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :
Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)

B. Fungsi Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
– Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
– Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.
– Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
– Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan
– Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)

Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.

C.Substansi Filsafat Ilmu

Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi.

1.Fakta atau kenyataan

Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.
Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya.
Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai.
Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan
Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif.
Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.

Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah.

2. Kebenaran (truth)

Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001)

a. Kebenaran koherensi

Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental.

b.Kebenaran korespondensi

Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik

c.Kebenaran performatif

Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan.

d.Kebenaran pragmatik

Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis.

e.Kebenaran proposisi

Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi. Pendapat lain yaitu dari Euclides, bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya, melainkan dilihat dari benar materialnya.

f.Kebenaran struktural paradigmatik

Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh.

3.Konfirmasi

Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi, postulat, atau axioma yang sudah dipastikan benar. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Sedangkan untuk membuat penjelasan, prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif, deduktif, ataupun reflektif.

4.Logika inferensi

Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika, yang menguasai positivisme. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Belief pada Russel memang memuat moral, tapi masih bersifat spesifik, belum ada skema moral yang jelas, tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik.

Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional, koheren antara fakta dengan skema rasio, Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden. (Ismaun,200:9)

Di lain pihak, Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu, yakni berdasarkan logika. Secara garis besarnya, logika terbagi ke dalam 2 bagian, yaitu logika induksi dan logika deduksi.

D. Corak dan Ragam Filsafat Ilmu

Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu, diantaranya:
Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam, yaitu : (1) meta ideologi, (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu.
Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends, melainkan sebagai kepanjangan ide manusia.
Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit, yakni kebudayaan, produk domain kognitif dan produk alasan praktis.

Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata, benar, dan logis. Bila etik dimasukkan, maka perlu ditambah koheren dengan moral. Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional, efisien dan produktif. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human.manusiawi, tidak mengeksploitasi orang lain, atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan.

Daftar Pustaka

Achmad Sanusi,.(1998), Filsafah Ilmu, Teori Keilmuan, dan Metode Penelitian : Memungut dan Meramu Mutiara-Mutiara yang Tercecer, Makalah, Bandung: PPS-IKIP Bandung.

Achmad Sanusi, (1999), Titik Balik Paradigma Wacana Ilmu : Implikasinya Bagi Pendidikan, Makalah, Jakarta : MajelisPendidikan Tinggi Muhammadiyah.

Agraha Suhandi, Drs., SHm.,(1992), Filsafat Sebagai Seni untuk Bertanya, (Diktat Kuliah), Bandung : Fakultas Sastra Unpad Bandung.

Filsafat_Ilmu,

Ismaun, (2001), Filsafat Ilmu, (Diktat Kuliah), Bandung : UPI Bandung.

Jujun S. Suriasumantri, (1982), Filsafah Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan.

Mantiq, .

Moh. Nazir, (1983), Metode Penelitian, Jakarta : Ghalia Indonesia

Muhammad Imaduddin Abdulrahim, (1988), Kuliah Tawhid, Bandung : Yayasan Pembina Sari Insani (Yaasin)

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: