Dimensi manusia sebagai makhluk

December 5, 2009 at 5:38 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dimensi manusia sebagai makhluk individu atau sebagai makhluk pribadi (Individual being)

Kesadaran manusia akan diri sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia. Manusia sebagai individu atau sebagai pribadi adalah kenyataan yang paling jelas dalam kesadaran manusia.
Tidak ada orang yang dilahirkan persis sama dengan orang lain walaupun mereka yang lahir kembar. Demikian pula dengan apa yang mereka alami dan yang mereka peroleh dari lingkungan yang luas yang selama proses perjalanan hidup dan kehidupannya. Tiap orang memiliki sifat kepribadiannya sendiri.
Makna individualitas itu adalah berupa sifat kemandirian, sifat otonom (kebebasan) dan sifat untuk tiap pribadi. Makin sadar manusia akan diri sendiri, sesungguhnya makin sadar pula akan kesemestaan, dan makin sadar bahwa dirinya adalah bagian yang tak terpisahkan dari kesemestaan itu.
Dengan kesadaran akan kesemestaan ini, timbullah kesadaran akan posisi pribadinya untuk mengalami antar hubungan dan antar aksi dengan konsekuensi bahwa dirinya harus mengakui adanya hak dan kewajiban, adanya norma-norma moral, adanya nilai-nilai sosial dan nilai-nilai supernatural yang harus diperhatikan.
Bahwa anak ingin menjadi seorang (manusia) pribadi dalam arti pribadinya sendiri. Tiap pengaruh yang datang/dialaminya baik yang sengaja atau yang tidak disengaja akan diolahnya, diseleksi, dipertimbangan dan dikembangkan dengan sangat pribadi sampai menjadi bagian dari dirinya sendiri. Tidak ada orang yang sungguh-sungguh ingin menjadi orang lain.
Dalam pendidikan maka peserta didik harus diakui dan diperlakukan sebagai individu (pribadi) yang ideal. Pengakuan dan perlakuan peserta didik sebagai individu juga tertuang dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No.2 tahun 1989 Bab VI pasal 23 ayat 1; Pasal 24 ayat 1, 2, 6 dan 7 serta Pasal 26.
Bab VI Pasal 23 ayat 1 “Pendidikan nasional bersifat terbuka dan memberikan keleluasaan gerak kepada peserta didik”.
Penjelasan : Sesuai dengan dasar, fungsi, dan tujuannya, pendidikan nasional bersifat terbuka. Sifat itu diungkapkan dengan keleluasaan gerak peserta didik. Ini merupakan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengembangkan bakatnya sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Keleluasaan gerak berarti terbukanya kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan dirinya melalui jalur pendidikan yang tersedia dan kemungkinan untuk pindah dari satu jalur ke jalur yang lain, atau dari satu jenis ke jenis pendidikan yang lain dalam jenjang yang sama. Dalam pelaksanaan keleluasaan gerak perlu diperhatikan aspek-aspek proses belajar dan kemampuan sumber daya yang tersedia. Peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah disebut pelajar, murid atau siswa dan pada jenjang pendidikan tinggi disebut mahasiswa. Peserta didik dalam jalur pendidikan luar sekolah disebut warga belajar.
Bab VI Pasal 24 ayat 1 “Setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak-hak mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya”.
Bab VI Pasal 24 ayat 2 “Setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak-hak mengikuti program pendidikan yang bersangkutan atas dasar pendidikan berkelanjutan, baik untuk mengembangkan kemampuan diri maupun untuk memperoleh pengakuan tingkat pendidikan tertentu yang telah dibakukan”.
Bab VI Pasal 24 ayat 6 “Setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak-hak menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan”.
Bab VI Pasal 24 ayat 7 “Setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak-hak mendapat pelayanan khusus bagi yang menyandang cacat”.
Bab VI Pasal 26 “Peserta didik berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan dirinya dengan belajar pada setiap saat”.
Penjelasan : Setiap warga negara berkesempatan seluas-luasnya untuk menjadi peserta didik melalui pendidikan sekolah ataupun pendidikan luar sekolah. Dengan demikian, setiap warga negara diharapkan dapat belajar pada tahap-tahap mana saja dari kehidupannya dalam mengembangkan dirinya sebagai manusia Indonesia. Tetapi tidak diharapkan terus menerus belajar tanpa mengabdikan kemampuan yang diperolehnya untuk kepentingan masyarakat. Penilaian pendidikan berkelanjutan tersebut dimungkinkan melalui ujian persamaan atau ekstranci. Warga negara yang belajar mandiri dapat diberi kesempatan untuk menempuh ujian persamaan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Pengembangan dimensi manusia sebagai makhluk individu
Sebagai makhluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan sekedar tindakan instingtip tetapi selalu bertindak atas pilihannya sendiri dan harus dapat dipertanggungjawabkan atas kesesuaiannya dengan norma-norma/nilai/aturan/adat istiadat yang berlaku. Untuk ini pendidikan harus berusaha mengembangkan kemampuan memperoleh norma dan nilai (kognitip terhadap nilai/norma) kemampuan menentukan sikap terhadap norma/nilai efektif, mampu menentukan pilihan dan sanggup untuk melaksanakan kegiatan sesuai dengan norma/nilai yang baik yang telah dipilihnya tersebut (segi afektip terhadap norma/nilai). Individu harus mampu dan mau melakukan perbuatan yang baik (aspek psiko-motorik dalam norma dan nilai).
Untuk dapat dan mampu “berdiri sendiri” (tidak terlalu tergantung dan menggantungkan diri dari orang lain), maka manusia harus memiliki akal/pikiran yang baik, kemauan yang kuat, perasaan yang halus matang dan mantap, sehat jasmani kuat (energik). Karena itu pendidikan harus berusaha untuk membantu pengembangan kemampuan-kemampuan kognitip pada umumnya, melalui berbagai pembelajaran terkait, seperti bidang ilmu pengetahuan dan cara-cara memperolehnya. Pendidikan harus berusaha mewujudkan berbagai kegiatan dan perasaan.
Untuk dapat menolong diri sendiri, manusia harus memiliki berbagai ketrampilan yang didukung oleh pengetahuan dan kemauan, kretaif dan ulet. Pendidikan dapat memberikan berbagai pendidikan ketrampilan (vocational education), dari bentuk-bentuk ketrampilan sederhana, ketrampilan teknis maupun profesional.
Dapat disimpulkan bahwa untuk pengembangan dimensi manusia sebagai makhluk individu dapat diupayakan melalui pendidikan yang mengacu kepada pengembangan bidang afektip, kognitip dan psikomotorik (bidang sikap, pengenalan dan ketrampilan).
Situasi yang dapat membawa perkembangan kapasitas individual adalah hal-hal yang terkait dengan health, intelectual power, responsibility for moral choices dan aesthetic expression appreciation.

Dimensi manusia sebagai makhluk sosial (Social being)

Manusia memiliki potensi sosial yang dibawa sejak lahir, tumbuh dan berkembang dalam phenomena kehidupannya sehingga menjadi kesadaran sosial.
Bahwa untuk hidup dalam artian yang benar-benar manusiawi, orang harus dalam konteks hidup bersama dengan orang lain. Manusia memerlukan bantuan orang lain dari sejak kelahirannya sampai saat-saat menjelang ajalnya, baik bantuan langsung maupun tidak langsung. Realita kehidupan manusia dalam kebersamaannya (kesemestaannya) berada pada kondisi interdependensi dan interaksi, hal ini memungkinkan terjadinya saling asah, saling asih dan saling asuh, yang menjadi pendorong proses perkembangan dirinya.
Pada waktu dilahirkan manusia telah memerlukan “Biolosical helpness” yaitu pertolongan yang memungkinkan untuk kelangsungan hidupnya. Peristiwa ini yang memaksa anak untuk bersosialisasi dengan orang lain.
Manusia memiliki potensi untuk menjalin hubungan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup berkelompok. Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial terutama tampak dalam kenyataan bahwa tak pernah ada manusia yang mampu hidup tanpa pertolongan orang lain. Dalam kehidupan nyata manusia berada dalam kebersamaan, baik sebagai anggota keluarga, anggota kelompok sebaya, warga masyarakat, warga negara, warga pemeluk suatu agama maupun anggota dari bentuk-bentuk kelompok yang lain.
Sifat interdependensi merupakan sifat inherent kesadaran sosial. Interdependensi tidak hanya dalam bidang material-ekonomis untuk pemenuhan kebutuhan biologis-jasmaniah saja, tetapi juga menyangkut bidang moral-spiritual. Idealnya hidup bersama itu adalah adanya bentuk-bentuk interdependensi dan interaksi yang harmonis, rukun dan sejahtera. Untuk ini maka tiap-tiap individu harus rela mengorbankan sebagian dari hak individualitasnya demi kepentingan bersama agar tidak mengalami kebersamaan yang disharmonis. Namun demikian kehidupan individu dalam kebersamaan itu tidak usah kehilangan identitas, dan tidak harus menonjolkan individualitasnya.
Sebagai perwujudan kebersamaan, yang tampak adalah identitas sosial dengan sifat pluralitasnya, identitas sosial ini mengatasi identitas individu-individu di dalamnya. Dimensi manusia sebagai makhluk sosial ini juga tercermin dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No.2 tahun 1989 Bab II Pasal 4, Bab V Pasal 15 ayat (1); Pasal 16 ayat (1); Bab VI Pasal 24 ayat 3; Pasal 25 ayat 1.
Bab II Pasal 4 “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
Bab V Pasal 15 ayat 1 “Pendidikan menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi”.
Penjelasan : Pendidikan menengah merupakan pendidikan yang lamanya 3 (tiga) tahun sesudah pendidikan dasar dan diselenggarakan di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau satuan pendidikan yang sederajat.
Bab V Pasal 16 ayat 1 “Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian”.
Bab VI Pasal 24 ayat 3 “Setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak-hak mendapat bantuan fasilitas belajar, beasiswa, atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan yang berlaku”.
Bab VI Pasal 25 ayat 1 “Setiap peserta didik berkewajiban untuk: (a) ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan yang berlaku; (b) mematuhi semua peraturan yang berlaku; (c) menghormati tenaga kependidikan; (d) ikut memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban dan keamanan satuan pendidikan yang bersangkutan”.
Penjelasan : Pada dasarnya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan Pemerintah, yang berlaku juga dalam hal biaya penyelenggaraan pendidikan. Pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah pada dasarnya peserta didik ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan yang jumlahnya ditetapkan menurut kemampuan orang tua atau wali peserta didik. Pada jenjang pendidikan yang dikenakan ketentuan wajib belajar, biaya penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah merupakan tanggung jawab Pemerintah sehingga peserta didik tidak dikenakan kewajiban untuk ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. Peserta didik pada jenjang pendidikan lainnya yang ternyata memiliki kecerdasan luar biasa tetapi tidak mampu ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan dapat dibebaskan dari kewajiban tersebut. Pembebanan biaya tambahan yang tidak langsung berhubungan dengan kegiatan belajar- mengajar tidak dibenarkan.

Pengembangan dimensi manusia sebagai makhluk sosial
Kehidupan sosial/budaya manusia dimungkinkan oleh adanya bahasa sebagai alat komunikasi (termasuk bahasa, simbol dan gerak).
Untuk pengembangan dimensi manusia sebagai makhluk sosial diperlukan adanya pengalaman (langsung atau tidak langsung), terutama pengalaman yang dapat menumbuh-kembangkan kemampuan dan ketrampilan berkomunikasi dan kesadaran ekologi. Komunikasi menjembatani adanya interaksi dan interdependensi.
Secara umum pendidikan untuk mengembangkan manusia sebagai makhluk sosial bertujuan untuk membentuk manusia yang mempunyai social understanding, social attitude dan social skill.
Kesadaran sosial (social understanding) dapat dikembangkan melalui pengalaman belajar dalam bidang ilmu-ilmu sosial seperti sejarah, ekonomi, sosiologi, geografi, antropologi, kewarganegaraan (ilmu-ilmu tersebut difungsikan menjadi bidang studi IPS).
Lebih jauh lagi pengembangan manusia sebagai makhluk sosial juga bertujuan untuk membantu manusia agar memperoleh kehidupan yang baik di dalam masyarakat (lingkungan sosialnya). Karena itu pendidikan harus berorientasi pada fungsi sosial sehingga perlu diadakan kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan: self preservation, securing necesseries of life, rearing and diciplining of spring, maintenance of proper social and political relations, miscellaneous activities which make up the leasure part of life, devote to the gratification of the tastes and feelings.
Kegiatan-kegiatan praktis yang dapat menjadi sarana pendidikan sosialitas manusia seperti: diskusi, bakti sosial, study club, camping, berorganisasi, bermain peranan, berkoperasi, KKN, tolong menolong, dan lain-lain.

Dimensi manusia sebagai makhluk susila (Moral being)

Budi nurani manusia adalah sadar nilai dan menjunjung tinggi norma dan sebagai pendukung kesadaran susila (sense of morality). Adanya nilai-nilai, efektivitas nilai-nilai dan berfungsinya nilai-nilai hanya ada dalam kehidupan sosial. Berarti kesusilaan dan moralitas adalah fungsi sosial. Moralitas merupakan dasar fundamental yang membedakan kehidupan sosial manusia dari kehidupan bersama makhluk-makhluk infra human.
Setiap hubungan sosial manusia selalu mengandung hubungan moral. Hubungan sosial manusia dalam arti luas mencakup hubungan horizontal dan hubungan vertikal. Hubungan horizontal adalah hubungan antar sesama manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedang hubungan vertikal adalah hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, bersifat transcendental.
Manusia yang berkepribadian etik adalah manusia yang dalam tindakannya selalu memilih yang baik sesuai dengan penerangan budinya. Tindakan yang baik adalah tindakan yang sesuai dengan derajad manusia, jadi tidak mengurangi atau menentang kemanusiaannya.
Kesusilaan harus dilaksanakan dalam kehidupan manusia. Kesadaran moral sebagai dasar kesusilaan pada manusia tumbuh dan berkembang dari tingkat kesadaran pra-moral sampai ke kesadaran moral yang mantap. Untuk ini pendidikan dapat memberikan kontribusi yang besar.
Ketentuan-ketentuan yang terkait dengan dimensi manusia sebagai makhluk susila seperti yang tercantum dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No.2 tahun 1989 Bab VI Pasal 24 ayat 1; Pasal 25 ayat 1 butir 2, 3 dan 4; Bab VII Pasal 31.
Bab VI Pasal 24 ayat 1 “Setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak-hak mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya”.
Bab VI Pasal 25 ayat 1 butir 2 “Setiap peserta didik berkewajiban untuk mematuhi semua peraturan yang berlaku”.
Bab VI Pasal 25 ayat 1 butir 3 “Setiap peserta didik berkewajiban untuk menghormati tenaga kependidikan”.
Bab VI Pasal 25 ayat 1 butir 4 “Setiap peserta didik berkewajiban untuk ikut memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban dan keamanan satuan pendidikan yang bersangkutan”.
Bab VII Pasal 31 “Setiap tenaga kependidikan berkewajiban untuk : (1) membina loyalitas pribadi dan peserta, didik terhadap ideologi negara Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945; (2) menjunjung tinggi kebudayaan bangsa; (3) melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan pengabdian; (4) meningkatkan kemampuan profesional sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan bangsa; (5) menjaga nama baik sesuai dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat, bangsa dan negara”.
Penjelasan : butir 3. Pelaksanaan tugas dengan penuh tanggung jawab termasuk keteladanan dalam menjalankan tugas.

Pengembangan dimensi manusia sebagai makhluk susila
Hanya manusialah yang dapat menghayati norma/nilai kesusilaan (etika) dalam kehidupannya. Norma/nilai kesusilaan itu dipergunakan untuk menetapkan tingkah laku mana yang tergolong susila (etis) dan tingkah laku mana yang tergolong tidak susila. Apa yang akan terjadi seandainya tingkah laku manusia itu tidak berdasar norma/nilai kesusilaan, tentunya akan kacau seperti kehidupan binatang dan berlaku sekehendaknya.
Melalui pendidikan diusahakan agar manusia tumbuh dan berkembang menjadi manusia pendukung norma dan nilai kesusilaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Norma dan nilai diharapkan menjadi milik (manunggal dengan individu) dan selalu dipersonifikasikan dalam setiap tingkah laku/perbuatannya.
Proses internalisasi norma kadang-kadang terjadi dengan “paksaan” dari masyarakat, karena masyarakat sendiri akan merasa kawatir kalau ada individu yang tidak mematuhi norma kesusilaan akan dapat mengganggu ketenteraman/kestabilan dan kemajuan masyarakat tersebut. Apalagi kalau sebagian anggota masyarakat sudah tidak mematuhi norma/nilai kesusilaan, jelas akan hancurlah kehidupan masyarakat tersebut.
Pendidikan kesusilaan (sering juga disebut pendidikan moral) pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan manusia yang susila, manusia yang berwatak luhur, manusia yang berbuat sesuai dengan kata hati yang murni. Pendidikan kesusilaan mencakup:
a). Pembentukan pengertian, understanding, kesadaran akan norma/nilai kesusilaan (pembentukan domain kognitip tentang norma dan nilai).
b). Pembentukan sikap mental yang positip terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan etika, dengan bersikap negatif untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan etika.
c). Memberikan pengalaman/latihan untuk perbuatan-perbuatan yang susila sampai menjadi karakteristik bagi tingkah lakunya.
Meskipun kita mengenal berbagai kriteria tentang kesusilaan, tetapi sebagai pegangan/pedoman pendidikan etika di Indonesia adalah kriteria berdasar pandangan hidup/falsafah Pancasila. Pelajaran-pelajaran/pendidikan di sekolah seperti PMP, Agama, budi pekerti dan sopan santun dapat menjadi sarana pendidikan etika.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: