Tugas Peng-Pend

March 15, 2010 at 12:01 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sesuai perkembangan yang terjadi pada saat ini dalam dunia pendidikan dikenal beberapa jenis tujuan:
a. Tujuan pendidikan nasional
Adalah suatu tujuan pendidikan suatu bangsa dan bagi bangsa Indonesia tujuan ini pada saat tertera di GBHN TAP MPR No.II/MPR/1993 tetapi sekarang tujuan pendidikan berubah seperti yang tercantum pada UU No. 2 th 1989 (Sisdiknas). Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
b. Tujuan institusional
Adalah tujuan pendidikan dari suatu jenjang, jalur dan jenis pendidikan tertentu, seperti halnya jenjang pendidikan SD mempunyai tujuan tersendiri yang berbeda dengan tujuan pendidikan SMP dan SMP berbeda dengan tujuan pendidikan SMA.
c. Tujuan kurikuler
Adalah tujuan yang berhubungan dengan setiap bidang studi dalam arti rumusan tujuan kurikuler adalah rumusan tujuan yang diharapkan tercapai setelah siswa mempelajari bidang studi yang bersangkutan.
d. Tujuan pengajaran umum
Adalah merupakan penjabaran dari tujuan kurikuler yang kalau ditinjau dari cakupan materinya merupakan suatu tujuan untuk suatu pokok bahasan tertentu. Dalam merumuskan tujuan pengajaran umum ditentukan beberapa kriteria diantaranya:
– berorientasi pada siswa
– merupakan hasil belajar
– masih diperkenankan memakai kata non operasional
e. Tujuan pengajaran khusus
Adalah tujuan yang terkecil yang merupakan tujuan yang diharapkan berkembang dan dirumuskan dengan kriteria sebagai berikut:
– merupakan penjabaran dari tujuan pengajaran umum
– merupakan indikator terpilih dari pengajaran umum
– dirumuskan sebagai hasil belajar
– memakai kata-kata operasional dan terukur
– spesifik

Pendidik dalam lingkungan sekolah
Mengingat beban tugasnya yang makin berat maka sebagai pendidik di lingkungan formal dituntut memiliki persyaratan dasar, ketrampilan tehnik yang didukung oleh sikap kepribadian yang mantap. Adapan kompetensi yang harus dimiliki adalah:
a. Kompetensi profesional
Artinya memiliki pengetahuan yang luas dalam bidangnya, menguasai berbagai multi metode dan multi media artinya memiliki konsep teoritik pengetahuan yang diperlukan dalam tugasnya dan mampu mengetrapkannya sesuai dengan kebutuhan sehingga terjadi PBM secara efektif dan efisien.
b. Kompetensi personal
Artinya memilikin sikap kepribadian yang mantap, sehingga mampu menjadi sumber identifikasi bagi subyek didik.
c. Kompetensi sosial
Artinya ia menunjukkan berkomunikasi sosial baik dengan murid-muridnya maupun sesama dengan teman guru, dengan orang tua murid dan dengan masyarakat luas.
d. Kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya berarti mengutamakan nilai kemanusiaan dari pada nilai benda materiil.

Tri Pusat Pendidikan
1. Pendidikan Keluarga
Keluarga sebagai lembaga pendidikan mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. sebagai pendidik pertama; artinya pendidikan di keluarga merupakan pendidikan pertama kali diberikan kepada anak.
b. sebagai pendidik utama; artinya pendidikan yang diberikan oleh keluarga sangat penting karena anak sepanjang hidupnya paling banyak waktu yang digunakan dalam keluarga bila dibandingkan dengan lembaga lain. Oleh karenanya pengaruh keluarga terhadap perkembangan anak sangat besar, baik dalam perkembangan jasmani maupun rohani. Di dalam keluarga anak mendapat pendidikan tentang keutamaan, dasar-dasar keagamaan, kesosialan moralitas dan sebagainya.
2. Pendidikan sekolah
Sekolah merupakan lembaga formal, artinya ada tujuan yang jelas yang tercantum dalam kurikulum. Sekolah berbeda dengan keluarga yang bersifat kodrat. Guru mengajar murid bukan karena hungan persaudaraan atau hubungan darah, melainkan karena guru punya profesi sebagai pendidik dan pengajar.
3. Pendidikan lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat adalah merupakan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian anak-anak sesuai keberadaannya. Lingkungan masyarakat akan memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam diri anak apabila diwujudkan dalam proses dan pola yang tepat.

Masyarakat Masa Depan
Beberapa faktor yang mempengaruhi Masyarakat Masa Depan
1. Kecenderungan globalisasi dunia dewasa ini:
a. Globalisasi ekonomi; dunia telah menjadi pasar perilaku ekonomi bagi setiap negara jika ingin maju dan berkembang. Dunia telah menjadi satu kesatuan ekonomi dimana saling hubungan dan ketergantungan dunia.
b. Globalisasi politik; menyebabkan suatu kehidupan berbangsa dan bernegara selalu dalam hubungan dan keterkaitan dengan bangsa lain. Tidak ada suatu negara yang ingin mengisolasi diri atau merasa hidup layak tanpa kehadiran bangsa lain.
c. Globalisasi lingkungan hidup; permasalahan lingkungan hidup sudah harus mempersoalkan dengan suatu orientasi dunia tanpa memperhatikan tapal batas administrasi negara.
d. Globalisasi bidang IPTEK; dengan iptek orang bisa berbicara tanpa batas negara karena sifatnya yang terbuka, obyektif dan universal. Ilmu adalah milik dunia bukan milik suatu bangsa.
2. Perkembangan IPTEK
Ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui dunia riil. Manusia memerlukan informasi tentang dunia sekitar dan dunia lingkungannya serta dirinya sendiri agar dengan mudah menyesuaikan diri serta mengembangkan strategi kehidupan yang lebih baik.
3. Arus komunikasi yang semakin padat dan cepat
Perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat pesat yang temuan-temuannya dimanfaatkan dalam berbagai bidang telah menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang luar biasa di hampir semua sektor kehidupan.
4. Peningkatan pelayanan yang semakin profesional
Meningkatnya kualitas kehidupan masyarakat akan berpengaruh terhadap meningkatnya konsumsi dan pelayanan. Berbagai kegiatan dalam bidang usaha membutuhkan pelayanan yang cepat, praktis serta informasi yang akurat.

Aliran Klasik Dalam Pendidikan
Dalam perkembangan anak menuju ke tingkat dewasa ada beberapa faktor yang turut berperan dalam menentukan bagaimana hasil perkembangan tersebut.
1. Empirisme; dipelopori oleh John Lock (Inggris 1622-1700) mengajarkan bahwa perkembangan pribadi anak ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan (termasuk pendidikan). Teorinya terkenal dangan nama Tabula Rasa yang berpendapat bahwa anak dilahirkan di dunia ini tanpa pembawaan. Pendidik adalah maha kuasa dalam membentuk anak didik menjadi apa yang diinginkannya.
2. Nativisme; oleh Arthur Schopenhauer (Yunani 1788-1860) berpendapat bahwa bayi lahir dengan pembawaan baik atau pembawaan buruk. Berhasil tidaknya perkembangan anak tergantung pada tinggi rendahnya jenis pembawaan yang dimiliki oleh anak didik. Mendidik diartikan membiarkan anak bertumbuh berdasarkan pembawaannya.
3. Naturalisme; oleh J.J. Rouseau (Perancis 1712-1778) berpendapat bahwa semua adalah baik pada waktu baru datang dari tangan sang pencipta, tetapi semua menjadi buruk di tangan manusia. Aliran ini juga disebut Negativisme karena berpendapat bahwa pendidik hanya wajib membiarkan pertumbuhan anak didik dengan sendirinya, serahkan saja pada alam.
4. Konvergensi; oleh William Stern (jerman 1871-1939) berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan seakan-akan dua garis yang menuju ke satu titik pertemuan. Pendidik wajib menimbulkan kesediaan dan semangat pada anak didik agar dengan kekuatan dan otoaktivitasnya mengembangkan bakat dan pembawaan baik yang dimilikinya dan meninggalkan lingkungan yang merugikan.

Masalah-masalah pokok pendidikan di Indonesia:
a. Belum semua program pendidikan berorientasi kepada kebutuhan pembangunan
b. Keterbatasan kemampuan ekonomi orang tua siswa untuk membiayai pendidikan anaknya.
c. Keterbatasan dana untuk membiayai seluruh program pendidikan nasional.
d. Tingginya angka Drop-Out pada berbagai tingkat pendidikan.
e. Keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan dan distribusinya yang belum merata antar daerah dan antar lokasi.
f. Isi kurikulum nasional dan muatan lokal umumnya masih lemah dan belum secara optimal memenuhi kebutuhan peserta didik dan pembangunan.
g. Terdapat kesenjangan dalam jumlah, kualitas, dan distribusi guru / tenaga pendidik pada jenis dan jenjang pendidikan.
h. Pada jenjang pendidikan tinggi masih terdapat keragaman kualitas yang luas antara perguruan tinggi menurut lokasi geografis dan status.

Dari 8 permasalah tersebut dapat dibagi dalam 4 kelompok:
1. Masalah pemerataan pendidikan
Sepintas lalu pendidikan di Indonesia sudah merata, namun di dalamnya terkandung beberapa kesenjangan terutama yang berkaitan dengan masalah kualitas.
2. Masalah kualitas
Untuk meningkatkan kualitas output pendidikan maka kualitas pendidik harus selalu dikembangkan dan ditingkatkan dan terpenuhinya sarana dan fasilitas pendidikan yang memadai sesuai kebutuhan pendidikan.
3. Masalah efisiensi
Artinya dengan menggunakan tenaga dan biaya yang sekecil-kecilnya dapat diperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Jadi sistem pendidikan yang efisien adalah dengan tenaga dan dana yang terbatas dapat dihasilkan sejumlah besar lulusan yang berkualitas tinggi.
4. Masalah relevansi
Perlu keterpaduan di dalam perencanaan dan pelaksanaan pendidikan dengan pembangunan nasional.

Saran-saran untuk mengatasi masalah-masalah pokok pendidikan:
1. Modernisasi pengelolaan pendidikan
Perlu diselenggarakan suatu sistem pengelolaan modern yang dilengkapi dengan pengelola-pengelola yang benar-benar terlatih secara modern. Para pengelola ini perlu dilengkapi dengan informasi yang baik, peralatan yang modern untuk mengadakan penganalisasian, penelitian dan penilaian dan juga dilengkapi dengan tim spesialis yang benar-benar terlatih.
2. Modernisasi guru
Guru harus memiliki kesesempatan untuk menjadi modern yaitu peningkatan produktivitas, penyesuaian diri terhadap pengetahuan baru dan teknik-teknik baru dalam mengajar.
3. Modernisasi program belajar
Bagaimanapun tingkat intelegensi anak, masing-masing anak harus diberi kesempatan belajar sesuai dengan kecepatannya.
4. Penambahan dana untuk pendidikan
Pendidikan yang mahal tidaklah menguntungkan tetapi pendidikan yang baik tidaklah murah. Sistem pendidikan yang baik memerlukan biaya yang lebih banyak.
5. Perluasan pendidikan non formal
Pandangan bahwa hanya mereka yang pernah mendapat pendidikan di sekolah adalah berpendidikan sedangkan yang tidak pernah bersekolah adalah tidak berpendidikan harus diubah. Dalam kaitan ini untuk menghadapi krisis pendidikan pemisahan antara pendidikan formal dan nor-formal hendaklah dipertimbangkan kembali.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: