Kabupaten Mojokerto (Sejarah, Geografi, Ekonomi, Pariwisata, Makanan Khas, Kode Pos)

October 5, 2020 at 4:08 pm | Posted in Kota di Jawa Timur, Mojokerto Kabupaten | Leave a comment

Kabupaten Mojokerto adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten yang secara resmi didirikan pada tanggal 9 Mei 1293 ini merupakan wilayah tertua ke-10 di Provinsi Jawa Timur.

Penjelasan Lambang Kab Mojokerto
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 1 Tahun 1972 Tambahan Lembaran Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 1973 seri C Tanggal 31 Agustus 1973 No. 166/C :

Pasal 7

” Tiga lingkaran inti bulat yang berwarna kuning emas, abu-abu suram dalam perisai berwarna merah putih adalah melukiskan “

Tiga jaman kehidupan dan perjuangan bangsa Indonesia yaitu :
Kuning emas : Jaman keemasan Mojopahit
Abu abu suram : Jaman penjajahan
Kuning : Jaman kemerdekaan 17 Agustus 1945
Lahiriyah dan bathiniyah :
Lingkaran dalam yang mengibaratkan bhatiniyah
Lingkaran luar yang mengibaratkan lahiriyah;
Kedua lingkaran dalam dan luar (kombinasi) yang mengibaratkan bhatiniyah dan lahiriyah adalah sama-sama (satu);

Pasal 8

” Pura adalah Pura Wringin Lawang yang berwarna putih merah terdiri dari : “

Sususnan pilar pertama (7 buah) :
Kuning emas : Jaman keemasan Mojopahit
Abu abu suram : Jaman penjajahan
Kuning : Jaman kemerdekaan 17 Agustus 1945

Pasal 9

” Pohon beringin dimaksudkan pada pasal 4 Peraturan daerah ini mengandung makna sebagai berikut : “

Pohon berliku 17 melambangkan perjuangan yang abadi yaitu Pemerintah yang memberikan pengayoman bagi rakyatnya di 17 Kecamatan
Pohon bercabang 3 melukiskan 3 landasan perjuangan
Idiil : Pancasila
Strukturil : UUD 1945
Operasional : Keputusan-keputusan Sidang MPR(S)
Daun beringin berliku 17 melukiskan angka 17
Sulur berjumlah 8 melukiskan angka 8
Sulur berjumlah 5 melukiskan Pancasila
Jumlah liku pada akar @3 = 15 ditambang dengan jumlah a, b, c dan d menjadi 15 yang melukiskan angka 45 sehingga pada pohon beringin itu terdapat angka keramat 17-8-45 yang dijiwai pancasila

Pasal 10

” Kata-kata WIJNA dan MANTRIWIRA adalah semboyan dari Gajah Mada yang berarti : “

WIJNA

Bijaksana, berpandangan luas dan penuh hikmah dalam kesukaran dan kepentingan.

MANRIWIRA

Pembela negara yang selalu berani, tidak berbuat salah karena yakin bertindak dengan penuh kesucian demi kepentingan bangsa dan negara.

Pasal 11

Gambar padi dan kapas melukiskan cukup sandang dan pangan
Daun dan buah maja mengingatkan pada sejarah nama Majopahit (buah maja rasanya pahit)
Adalah mengandung makna :
Daun dan bunga kapas serta daun dan buah maja di sebelah kiri lingkaran luar berjumlah 17
Antara gambar padi dan kapas di sebelah bawah terdapat hurup BRA yang berbentuk angka 8
Daun dan buah maja serta butir-butir padi di sebelah kanan lingkaran berjumlah 45
Hiasan pura bersusun 4 kiri kanan = s
Jumlah pilar kanan/kiri (34)
Pura bertingkat (6)
Pura tingkat (5)
Adalah mengandung 2 (dua) makna :
Melambangkan Daerah Kabupaten Mojokerto dengan 17 Kecamatan yang dahulu menjadi pusat Pemerintahan Kerajaan Mojopahit tempat-tempat sisa peninggalan zaman Mojopahit itu. Dalam 17-8-45 daerah Mojokerto mencatat pula banyak sejarah dan peristiwa kepahlawanan yang menunjukkan jiwa patriot dan kesadaran untuk bernegara dari rakyat
Melukiskan angka keramat 17-8-45, yang mengandung arti bahwa bathiniyah yang dilukiskan sebagai lingkaran dalam ayat (1) sub b pasal 7 Peraturan daerah ini adalah berjiwa 17-8-45.
Tangga pada Pura yang berjumlah 5 melukiskan panca tertib sebagai jalan dan cara serta bagi pelaksanaan stabilitas Politik Ekonomi
Sungai adalah sungai Brantas yang melintasi daerah Kabupaten Mojokerto dengan Brantas deltanya
Warna buah maja tidak sama menunjukkan suatu proses perkembangan jalannya Pemerintahan yang makin lama makin disempurnakan sesuai dengan kemajuan Bangsa Indonesia.

Pasal 12

Huruf BRA singkatan dari Brawijaya dapat diartikan Bra berarti agung atau popular dan Wijaya berarti kemenangan gemilang (harum) sedangkan buah maja yang berjumlah semua 9 melukiskan kejayaan.
Jumlah buah Maja 9 menggambarkan walisongo yang kesemuanya berketuhanan Yang maha Esa, lagi pula angka 9 adalah kesatuan yang paling tinggi melukiskan bahwa Kabupaten Mojokerto bercita-cita tinggi
Huruf BRA dilukiskan dengan garis-garis berbentuk lambang yang melukiskan/melambangkan kesatuan dan persatuan yang kokoh kuat dan kekal abadi.

Pasal 13

” Pada lingkaran dalam dan luar terdapat kombinasi sebagai berikut : “

Daun dan buah maja serta daun dan bunga kapas dalam lingkaran sebelah kiri berjumlah 17
Jumlah sulur pohon beringin dalam lingkaran bagian dalam berjumlah 8
Daun dan buah maja serta padi dalam lingkaran luar sebelah kanan berjumlah 45.
* Keseluruhan dari 1, 2, dan 3 tersebut menunjukkan angka keramat 17-8-45 terdapat pada lingkaran bagian luar dan dalam secara kombinasi yang melukiskan adanya jiwa terdapat pada bagian luar dan dalam secara kombinasi yang melukiskan adanya ikatan 17-8-45 antara lahiriyah dan bathiniyah (satu kata dan perbuatan)

Pasal 14

” Bunga teratai putih berujung lima adalah lambing dari Departemen Dalam Negeri yang menunjukkan kesucian hidup ditengah-tengah masyarakat Pancasila.”

Pasal 15

” Perisai bersudut lima berwarna putih melambangkan perjuangan membela Pancasila secara gagah berani dan konsekwen, dengan sifat kesatria dan jujur tanpa pamrih serta penuh kesucian lahir/batin. “

Pasal 16

” Warna-warna yang dipergunakan dalam Lambang daerah berarti sebagai berikut : “

Kuning emas berarti = kebebasan/keluhuran
Kuning biasa berarti harapan
Merah berarti keberanian
Putih berarti kesucian
Hijau berarti kemakmuran
Biru berarti ketenangan yang abadi
Hitam berarti kesatuan/kokoh
Merah bata berarti semangat tak kunjung padam
Abu-abu suram = masa suram dan penuh penderitaan.

Pasal 17

” Dilihat dari keseluruhan Lambang daerah melukiskan Kabupaten Mojokerto sebagai daerah panjang-punjung, pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja, ambeg paramaarta. “

Sejarah
Kabupaten Mojokerto terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Dulu pusat pemerintahan berada tepat di Kota Mojokerto, tetapi kini banyak gedung dan kantor pemerintahan yang dipindahkan ke Kecamatan Mojosari sebelah timur kota Mojokerto setelah Kota Mojokerto berdiri pada tanggal 20 Juni 1918. Kabupaten Jombang dahulu juga merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Mojokerto sebelum diberi kemandirian menjadi sebuah Kabupaten sendiri pada tahun 1910. Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam kawasan metropolitan Surabaya, yaitu Gerbangkertosusila.

Geografi
Secara geografis wilayah Kabupaten Mojokerto terletak antara 111°20’13” s/d 111°40’47” Bujur Timur dan antara 7°18’35” s/d 7°47” Lintang Selatan.

Batas Wilayah
Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Lamongan di utara, Kabupaten Gresik; Kabupaten Sidoarjo; dan Kabupaten Pasuruan di timur, Kabupaten Malang dan Kota Batu di selatan, serta Kabupaten Jombang di barat.

Topografi
Berdasarkan struktur tanahnya, wilayah Kabupaten Mojokerto cenderung cekung di tengah-tengah dan tinggi di bagian selatan dan utara. Bagian selatan merupakan wilayah pegunungan dengan kondisi tanah yang subur, yaitu meliputi Kecamatan Pacet, Trawas, Gondang, dan Jatirejo. Bagian tengah merupakan wilayah dataran sedang, sedangkan bagian utara merupakan daerah perbukitan kapur yang cenderung kurang subur.

Ekonomi
Kabupaten Mojokerto dalam pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) melakukannya di bawah pengawasan Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Secara umum potensi IKM Kab.Mojokerto tersebar di berbagai desa (sentra) di tiap kecamatan. IKM yang paling menonjol di Kab.Mojokerto adalah IKM sepatu (anggota cluster alas kaki) terbukti dengan dibangunnya Pusat Perkulakan Sepatu Trowulan (PPST) yang merupakan pasar sepatu pertama terbesar di Indonesia, melayani pembelian partai maupun eceran, serta spesifikasi produk alas kaki terlengkap termasuk sepatu dan sandal casual, sepatu olahraga, sepatu safety for industry, dan sebagainya.

Adapun potensi IKM lainnya yakni Perhiasan Perak dengan jumlah pengrajin terbanyak terdapat di desa Batankrajan kecamatan Gedeg, yang juga merupakan juara pertama desa percontohan se-kabupaten Mojokerto. Kebanyakan produk perhiasan perak ini dipasarkan ke Bali dan Surabaya bahkan ada yang hingga diekspor ke Jerman.

Kab.Mojokerto juga memiliki potensi IKM di bidang tekstil, di antaranya produksi tas dompet dengan pemasaran Sidoarjo dan Surabaya hingga luar daerah lainnya. Serta produksi kaos olahraga (penyedia terbesar seragam olahraga di wilayah Jawa Timur serta sebagian luar pulau Jawa), topi bordir (supplier terbesar dan tertua atribut topi hingga daerah Bandung) dan konveksi (melayani pemesanan seragam instansi negeri maupun swasta hingga luar pulau Jawa).

Pengrajin patung di desa Watesumpak

Adapun potensi IKM di bidang seni antara lain kerajinan patung batu di daerah Trowulan dengan ciri khas budaya Majapahit, serta kerajinan cor kuningan dengan nuansa yang serupa serta aplikasi produk yang lebih luas baik untuk hiasan dalam dan luar ruangan serta tropi piala, dan segala bentuk sesuai pemesan, dengan pemasaran ke Bali hingga ekspor ke mancanegara termasuk beberapa negara-negara Eropa.

Pengrajin cor kuningan di desa Bejijong

Di Kecamatan Sooko terkenal sebagai sentra industri sepatu dan sandal, Kecamatan Trowulan terkenal dengan kerajinan emas, perak, dan patung batu. Kecamatan Bangsal terkenal dengan kerupuk rambaknya dan juga sekolah polisi negara dan di Kecamatan Dawar Blandong penghasil cabe terbesar di Jawa Timur.

 

Ngoro Industrial Park

Kabupaten Mojokerto yang juga masuk dalam kawasan pembangunan ekonomi GerBangKertoSuSiLa ini mempunyai kawasan industri yang cukup besar yaitu di Kecamatan Ngoro yakni Ngoro Industrial Park (Ngoro Industri Persada) merupakan daerah indutri terbesar di Mojokerto. Di Kecamatan Jetis juga terdapat banyak pabrik-pabrik yang didirikan namun tidak dalam satu komplek. Ada pula rencana membuat komplek industri baru di Kecamatan Kemlagi juga Dawarblandong di kawasan Kabupaten Mojokerto di Utara Sungai Brantas.

Pariwisata
Kabupaten Mojokerto memiliki sejumlah objek wisata menarik.

Mulai dari Kabupaten Mojokerto bagian Utara, ada Kecamatan Kemlagi terdapat wisata yang cukup banyak dikunjungi yaitu Waduk Tanjungan yang terdapat di desa Tanjungan, Kemlagi. Kemudian di Kecamatan Jetis ada Watu Blorok. Ada pula wisata di bantaran sungai Brantas yang biasanya digunakan untuk event-event besar seperti Lomba Dayung, Lomba Layang-layang, dll.

Gapura Bajang Ratu di Trowulan

Di kecamatan trowulan, yang pernah menjadi pusat Kerajaan Majapahit. Ini terlihat dari banyaknya sisa peninggalan sejarah kerajaan tersebut yang dijumpai disana. Trowulan adalah daya tarik utama wisata sejarah di kabupaten ini, karena terdapat puluhan candi peninggalan Kerajaan Majapahit, makam raja-raja Majapahit, serta Pendopo Agung yang diperkirakan berada tepat di pusat istana Majapahit, candi yang terdapat di kecamatan ini antara lain Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, Candi Brahu, Candi Gentong, Candi Wringin Lawang, dan masih banyak Candi lain yang ditemukan.

 

Kawasan pegunungan di kecamatan Pacet dan Kecamatan Trawas di selatan juga merupakan kawasan wisata andalan Kabupaten Mojokerto karena pemandangan yang sangat bagus dan hawa sejuk pegunungan yang dirasa sangat nyaman, di antaranya ada Wisata Arung Jeram dan Lokasi Outbound Training OBECH Wilderness Experience, Pemandian Air Panas di Padusan, Air terjun yang banyak antaranya Air terjun Coban Canggu, Air terjun Grenjengan, Air terjun Watu Ulo, dll, juga vila-vila peristirahatan di Pacet dan Trawas.

Kabupaten Mojokerto memiliki potensi pariwisata yang apabila dikelola dengan benar dapat menyumbangkan Pendapatan Asli Daerah pada Kabupaten Mojokerto cukup besar. Potensi tersebut antara lain obyek wisata Petirtaan Jolotundo Trawas, Air Terjun Coban Canggu, Air Terjun Dlundung Trawas, Wana Wisata dan Kolam Air Panas Padusan Pacet, dan Ekowisata Waduk Tanjungan Kemlagi.

Petirtaan Jolotundo

Lokasi wisata arung jeram – PACET ADVENTURE

 

 

 

 

 

Pemandian Air Panas Pacet

Waduk Tanjungan di Kemlagi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sambel Wader

Kuliner Khas
Kerupuk Rambak Bangsal
Onde-onde
Sate Keong
Sambel Wader
Nasi Jagung
Pentol Bakar

Onde-Onde

 

 

 

 

 

 

Kode Pos

Desa, Kelurahan

Kecamatan, Distrik

Kode Pos

Bangsal Bangsal 61381
Gayam Bangsal 61381
Kedunguneng Bangsal 61381
Kutoporong Bangsal 61381
Mejoyo Bangsal 61381
Mojotamping Bangsal 61381
Ngastemi Bangsal 61381
Ngrowo Bangsal 61381
Pacing Bangsal 61381
Pekuwon Bangsal 61381
Peterongan Bangsal 61381
Puloniti Bangsal 61381
Salen Bangsal 61381
Sidomulyo Bangsal 61381
Sumbertebu Bangsal 61381
Sumberwono Bangsal 61381
Tinggarbuntut Bangsal 61381
Bangeran Dawar Blandong 61354
Banyulegi Dawar Blandong 61354
Brayublandong Dawar Blandong 61354
Cendoro Dawar Blandong 61354
Cinandang Dawar Blandong 61354
Dawarblandong Dawar Blandong 61354
Gunungan Dawar Blandong 61354
Gunungsari Dawar Blandong 61354
Jatirowo Dawar Blandong 61354
Madureso Dawar Blandong 61354
Pucuk Dawar Blandong 61354
Pulorejo Dawar Blandong 61354
Randegan Dawar Blandong 61354
Simongagrok Dawar Blandong 61354
Sumberwuluh Dawar Blandong 61354
Suru Dawar Blandong 61354
Talunblandong Dawar Blandong 61354
Temuireng Dawar Blandong 61354
Dlanggu Dlanggu 61371
Jrambe Dlanggu 61371
Kalen Dlanggu 61371
Kedunggede Dlanggu 61371
Kedunglengkong Dlanggu 61371
Mojokarang Dlanggu 61371
Ngembeh Dlanggu 61371
Pohkecik Dlanggu 61371
Punggul Dlanggu 61371
Randugenengan Dlanggu 61371
Sambilawang Dlanggu 61371
Segunung Dlanggu 61371
Sumberkarang Dlanggu 61371
Sumbersono Dlanggu 61371
Talok Dlanggu 61371
Tumapel Dlanggu 61371
Balongsari Gedeg 61351
Bandung Gedeg 61351
Batankrajan Gedeg 61351
Beratwetan Gedeg 61351
Gedeg Gedeg 61351
Gembongan Gedeg 61351
Gempolkrep Gedeg 61351
Jerukseger Gedeg 61351
Kemantren Gedeg 61351
Ngareskidul Gedeg 61351
Pagerjo Gedeg 61351
Pagerluyung Gedeg 61351
Sidoharjo Gedeg 61351
Terusan Gedeg 61351
Bakalan Gondang 61372
Begaganlimo Gondang 61372
Bening Gondang 61372
Centong Gondang 61372
Dilem Gondang 61372
Gondang Gondang 61372
Gumeng Gondang 61372
Jatidukuh Gondang 61372
Kalikatir Gondang 61372
Karangkuten Gondang 61372
Kebontunggul Gondang 61372
Kemasantani Gondang 61372
Ngembat Gondang 61372
Padi Gondang 61372
Pohjejer Gondang 61372
Pugeran Gondang 61372
Tawar Gondang 61372
Wonoploso Gondang 61372
Baureno Jatirejo 61373
Bleberan Jatirejo 61373
Dinoyo Jatirejo 61373
Dukuhngarjo Jatirejo 61373
Gading Jatirejo 61373
Gebangsari Jatirejo 61373
Jatirejo Jatirejo 61373
Jembul Jatirejo 61373
Karangjeruk Jatirejo 61373
Kumitir Jatirejo 61373
Lebakjabung Jatirejo 61373
Manting Jatirejo 61373
Mojogeneng Jatirejo 61373
Padangasri Jatirejo 61373
Rejosari Jatirejo 61373
Sumberagung Jatirejo 61373
Sumberjati Jatirejo 61373
Sumengko Jatirejo 61373
Tawangrejo Jatirejo 61373
Banjarsari Jetis 61352
Bendung Jetis 61352
Canggu Jetis 61352
Jetis Jetis 61352
Jolotundo Jetis 61352
Kupang Jetis 61352
Lakardowo Jetis 61352
Mlirip Jetis 61352
Mojolebak Jetis 61352
Mojorejo Jetis 61352
Ngabar Jetis 61352
Paringan Jetis 61352
Penompo Jetis 61352
Perning Jetis 61352
Sawo Jetis 61352
Sidorejo Jetis 61352
Beratkulon Kemlagi 61353
Betro Kemlagi 61353
Japanan Kemlagi 61353
Kedungsari Kemlagi 61353
Kemlagi Kemlagi 61353
Mojodadi Kemlagi 61353
Mojodowo Kemlagi 61353
Mojogebang Kemlagi 61353
Mojojajar Kemlagi 61353
Mojokumpul Kemlagi 61353
Mojokusumo Kemlagi 61353
Mojopilang Kemlagi 61353
Mojorejo Kemlagi 61353
Mojosarirejo Kemlagi 61353
Mojowatesrejo Kemlagi 61353
Mojowiryo Kemlagi 61353
Mojowono Kemlagi 61353
Pandankrajan Kemlagi 61353
Tanjungan Kemlagi 61353
Watesprojo Kemlagi 61353
Gedangan Kutorejo 61383
Jiyu Kutorejo 61383
Kaligoro Kutorejo 61383
Karangasem Kutorejo 61383
Karangdiyeng Kutorejo 61383
Kepuharum Kutorejo 61383
Kepuhpandak Kutorejo 61383
Kertosari Kutorejo 61383
Kutorejo Kutorejo 61383
Payungrejo Kutorejo 61383
Pesanggrahan Kutorejo 61383
Sampangagung Kutorejo 61383
Sawo Kutorejo 61383
Simbaringin Kutorejo 61383
Singowangi Kutorejo 61383
Windurejo Kutorejo 61383
Wonodadi Kutorejo 61383
Gayaman Mojoanyar 61364
Gebangmalang Mojoanyar 61364
Jabon Mojoanyar 61364
Jumeneng Mojoanyar 61364
Kepuhanyar Mojoanyar 61364
Kwatu Mojoanyar 61364
Kwedenkembar Mojoanyar 61364
Lengkong Mojoanyar 61364
Ngarjo Mojoanyar 61364
Sadartengah Mojoanyar 61364
Sumberjati Mojoanyar 61364
Wunut Mojoanyar 61364
Awang Awang Mojosari 61382
Belahantengah Mojosari 61382
Jotangan Mojosari 61382
Kauman Mojosari 61382
Kebondalem Mojosari 61382
Kedunggempol Mojosari 61382
Leminggir Mojosari 61382
Menanggal Mojosari 61382
Modopuro Mojosari 61382
Mojosari Mojosari 61382
Mojosulur Mojosari 61382
Ngimbangan Mojosari 61382
Pekukuhan Mojosari 61382
Randubango Mojosari 61382
Sarirejo Mojosari 61382
Sawahan Mojosari 61382
Seduri Mojosari 61382
Sumbertanggul Mojosari 61382
Wonokusumo Mojosari 61382
Bandarasri Ngoro 61385
Candiharjo Ngoro 61385
Jasem Ngoro 61385
Kembangsri Ngoro 61385
Kesemen Ngoro 61385
Kunjorowesi Ngoro 61385
Kutogirang Ngoro 61385
Lolawang Ngoro 61385
Manduro Manggung Gajah Ngoro 61385
Ngoro Ngoro 61385
Purwojati Ngoro 61385
Sedati Ngoro 61385
Srigading Ngoro 61385
Sukoanyar Ngoro 61385
Tambakrejo Ngoro 61385
Tanjangrono Ngoro 61385
Watesnegoro Ngoro 61385
Wonosari Ngoro 61385
Wotanmasjedong Ngoro 61385
Bendunganjati Pacet 61374
Candiwatu Pacet 61374
Cembor Pacet 61374
Cepokolimo Pacet 61374
Claket Pacet 61374
Kembangbelor Pacet 61374
Kemiri Pacet 61374
Kesimantengah Pacet 61374
Kuripansari Pacet 61374
Mojokembang Pacet 61374
Nogosari Pacet 61374
Pacet Pacet 61374
Padusan Pacet 61374
Pandanarum Pacet 61374
Petak Pacet 61374
Sajen Pacet 61374
Sumberkembar Pacet 61374
Tanjungkenongo Pacet 61374
Warugunung Pacet 61374
Wiyu Pacet 61374
Balongmasin Pungging 61384
Bangun Pungging 61384
Banjartanggul Pungging 61384
Curahmojo Pungging 61384
Jabontegal Pungging 61384
Jatilangkung Pungging 61384
Kalipuro Pungging 61384
Kedungmunggal Pungging 61384
Kembangringgit Pungging 61384
Lebaksono Pungging 61384
Mojorejo Pungging 61384
Ngrame Pungging 61384
Pungging Pungging 61384
Purworejo Pungging 61384
Randuharjo Pungging 61384
Sekargadung Pungging 61384
Tempuran Pungging 61384
Tunggalpager Pungging 61384
Watukenongo Pungging 61384
Balongmojo Puri 61363
Banjaragung Puri 61363
Brayung Puri 61363
Kebonagung Puri 61363
Kenanten Puri 61363
Ketemasdungus Puri 61363
Kintelan Puri 61363
Medali Puri 61363
Mlaten Puri 61363
Plososari Puri 61363
Puri Puri 61363
Sumbergirang Puri 61363
Sumolawang Puri 61363
Tambakagung Puri 61363
Tampungrejo Puri 61363
Tangunan Puri 61363
Blimbingsari Sooko 61361
Brangkal Sooko 61361
Gemekan Sooko 61361
Jampirogo Sooko 61361
Japan Sooko 61361
Karangkedawang Sooko 61361
Kedungmaling Sooko 61361
Klinterejo Sooko 61361
Modongan Sooko 61361
Mojoranu Sooko 61361
Ngingasrembyong Sooko 61361
Sambiroto Sooko 61361
Sooko Sooko 61361
Tempuran Sooko 61361
Wringinrejo Sooko 61361
Belik Trawas 61375
Duyung Trawas 61375
Jatijejer Trawas 61375
Kedungudi Trawas 61375
Kesiman Trawas 61375
Ketapanrame Trawas 61375
Penanggungan Trawas 61375
Seloliman Trawas 61375
Selotapak Trawas 61375
Sugeng Trawas 61375
Sukosari Trawas 61375
Tamiajeng Trawas 61375
Trawas Trawas 61375
Balongwono Trowulan 61362
Bejijong Trowulan 61362
Beloh Trowulan 61362
Bicak Trowulan 61362
Domas Trowulan 61362
Jambuwok Trowulan 61362
Jatipasar Trowulan 61362
Kejagan Trowulan 61362
Pakis Trowulan 61362
Panggih Trowulan 61362
Sentonorejo Trowulan 61362
Tawangsari Trowulan 61362
Temon Trowulan 61362
Trowulan Trowulan 61362
Watesumpak Trowulan 61362
Wonorejo Trowulan 61362

Source :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Mojokerto
https://mojokertokab.go.id/
http://poskodepos.blogspot.com/2016/03/kode-pos-kabupaten-mojokerto.html
http://desawatesumpak.blogspot.com/2018/09/desa-penghasil-patung.html
http://brassnytt.blogspot.com/2017/06/tanpa-merek-sepatu-mojokerto-sudah.html
https://nationalgeographic.grid.id/read/131268594/kisah-pengrajin-patung-cor-kuningan-di-desa-bejijong-mojokerto?page=all
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2015/08/13/kualitas-air-terbaik-nomor-3tiga-didunia-terletak-di-mojokerto
http://jurnalmojo.com/2020/02/01/
https://suaramojokerto.com/2019/03/17/

Kota Mojokerto (Sejarah, Geografi, Pariwisata, Makanan Khas, Kode Pos)

October 3, 2020 at 3:38 pm | Posted in Kota di Jawa Timur, Mojokerto Kota | Leave a comment

Kota Mojokerto (Carakan: ꦩꦗꦑꦼꦂꦠ) adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak 50 km barat daya Surabaya. Kota ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dilihat dari penerimaan asli daerah setiap tahun mengalami peningkatan. Kota Mojokerto merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam kawasan metropolitan Surabaya, yaitu Gerbangkertosusila. Wilayah Kota Mojokerto berbatasan langsung dengan kabupaten Mojokerto.

 

LAMBANG KOTA MOJOKERTO
Lambang Kota Mojokerto ditetapkan berdasarkan PERDA Kotamadya Mojokerto Nomor 3 Tahun 1971 tanggal 26 April 1971 oleh DPRGR Kotamadya Mojokerto.

BENTUK LAMBANG
1. Daun lambang berbentuk perisai bersudut 5 (lima).
2. Warna lambang hijau dengan pinggir berwarna kuning emas bergambar padi dan kapas.
3. Di tengah daun lambang terlukiskan :
– Gambar pohon MAJA yang berakar 12, berbuah 9 dan bercabang 3
– Garis biru yang bergelombang
4. Di bawah daun lambang terdapat gambar pita bertuliskan “Kota Mojokerto”

MAKNA BENTUK DAN WARNA LAMBANG
1. Perisai adalah pertahanan
2. Sudut 5 menggambarkan Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia PANCASILA
3. Pinggir berwarna kuning emas dengan gambar padi dan kapas melambangkan kemakmuran
4. Garis biru melambangkan Sungai Brantas yang mengalir di tepi kota dan merupakan salah satu prasarana kemakmuran
5. Warna hijau melambangkan kesejahteraan
6. Pohon MAJA yang berakar 12, berbuah 9 dan bercabang 3 mengandung makna angka tahun 1293 yang mengingatkan akan berdirinya kerajaan Majapahit.

Sejarah

Pada masa pemberlakuan sistem cultuurstelsel, Kota Mojokerto beserta kota yang lainnya yang termasuk dalam Karesidenan Surabaya merupakan pusat perkebunan tebu. Posisi Kota Mojokerto yang berada pada aliran Sungai Brantas membuat kondisi tanah di Kota ini menjadi subur untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan. Terutama untuk tanaman padi dan tebu. Pembangunan jalan di Mojokerto pada awal abad ke-19 bukan merupakan suatu hambatan, karena ada peluang pembiayaan yang dihasilkan dari pajak dan retribusi. Sebagai pusat produksi gula, secara tidak langsung menyebabkan arus migrasi dalam Kota Mojokerto. Banyaknya pabrik gula yang ada di berbagai distrik wilayah Mojokerto menyebabkan tersedianya lapangan kerja sehingga menimbulkan arus migrasi tersebut. Pabrik-pabrik gula tersebut menyerap tenaga kerja yang banyak, sehingga penduduk dari kota lain banyak berdatangan ke Mojokerto. Penduduk asing seperti Eropa, Tionghoa dan Timur Asing banyak ditemui di kota ini.

Gemeente dalam bahasa Belanda berarti suatu kota dengan struktur administrasi yang otonom. Istilah ini mempunyai makna lain yaitu masyarakat desa, ketika dikaitkan dengan istilah Inlandsche Gemeente. Fungsi dan struktur administrasi masa Hindia Belanda yang tertinggi dipegang oleh Gubernur, kemudian Bupati, Wedana dan Lurah. Otonomi daerah merupakan sebuah kebijakan yang sarat dengan cerminan pelimpahan wewenang dan penyerahan wewenang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Wewenang tersebut diberikan kepada daerah untuk melaksanakan fungsi-fungsi publik dan politik, kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan berbagai sumberdaya serta melibatkan sumberdaya yang ada di wilayahnya dalam berbagai kegiatan publik dan politik.

Otonomi daerah sebetulnya telah muncul pertama kali pada tahun 1903. Pada waktu itu otonomi daerah disebut dengan desentralisasi, yang diberlakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Desentralisasi itu timbul karena adanya dorongan yang kuat dari orang-orang Eropa yang berada di daerah dan ingin mengambil alih sebagian wewenang dari pusat untuk dilimpahkan ke daerah. Undang-undang Desentralisasi yang berlaku di Hindia Belanda pada tahun 1903 sebagai awal dari munculnya pemerintahan gemeente. Kota Mojokerto mendapat status gemeente pada tahun 1918. Jumlah penduduk Eropa yang cukup banyak di Mojokerto menyebabkan pembangunan sarana fisik di Kota ini. Pembangunan-pembangunan tersebut sebenarnya diperuntukkan untuk kepentingan penduduk Eropa, tetapi penduduk Bumi Putra dan penduduk asing lainnya juga ikut merasakan dampak dari pembangunan tersebut.

Pembentukan Pemerintah Kota Mojokerto diawali melalui status sebagai staadsgemente, berdasarkan keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda Nomor 324 Tahun 1918 tanggal 20 Juni 1918.
Pada masa Pemerintahan Penduduk Jepang berstatus Sidan diperintah oleh seorang Si Ku Cho dari 8 Mei 1942 sampai dengan 15 Agustus 1945.
Pada zaman revolusi 1945 – 1950 Pemerintah Kota Mojokerto di dalam pelaksanaan Pemerintah menjadi bagian dari Pemerintah Kabupaten Mojokerto dan diperintah oleh seorang Wakil Wali kota disamping Komite Nasional Daerah.
Daerah Otonomi Kota Kecil Mojokerto berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1950, tanggal 14 Agustus 1950 kemudian berubah status sebagai Kota Praja menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957.
Setelah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 berubah menjadi Kotamadya Mojokerto. Selanjutnya berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Mojokerto berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.
Selanjutnya dengan adanya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah, Kotamadya Daerah Tingkat II Mojokerto seperti Daerah-Daerah yang lain berubah Nomenklatur menjadi Pemerintah Kota Mojokerto.

Mojokerto pernah menjadi sebuah kawedanan dengan Asisten Wedana Bapak Supardi Brototanoyo. Perkembangan selanjutnya Bapak Supardi Brototanoyo menjadi Wedana dan terakhir menjadi Wali kota Mojokerto pada saat itu.

Geografi

Kota Mojokerto terletak di tengah-tengah Kabupaten Mojokerto, terbentang pada 7°27′ Lintang Selatan dan 112°26′ Bujur Timur. Kota Mojokerto memiliki luas wilayah 1.646 Ha dan merupakan satu-satunya kota di Jawa Timur yang memiliki satuan wilayah ataupun luas wilayah terkecil, dengan wilayah administrasi hanya terbagi 3 Kecamatan yakni Kecamatan Prajurit Kulon, Kecamatan Magersari dan Kecamatan Kranggan.

Batas wilayah
Batas-batas wilayah Kota Mojokerto adalah sebagai berikut:

Utara Sungai Brantas
Timur Kecamatan Puri dan Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto
Selatan Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto
Barat Kecamatan Sooko dan Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto

Topografi
Wilayah Kota Mojokerto merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 22 m di atas permukaan laut dengan kondisi permukaan tanah yang agak miring ke Timur dan Utara yakni berkisar antara 0-3%. Kota Mojokerto berada pada ketinggian antara 18,75–25 meter di atas permukaan laut. Hampir seluruh wilayah di Kota Mojokerto berada pada ketinggian 18,75 m di atas permukaan laut.

Hidrologi
Kondisi hidrologi Kota Mojokerto sangat dipengaruhi oleh sungai-sungai yang melintasi Kota Mojokerto dan kedalaman air tanahnya. Terdapat 7 (tujuh) sungai yang melintasi Kota Mojokerto yaitu Sungai Brantas, Sungai Brangkal, Sungai Sadar, Sungai Cemporat, Sungai Ngrayung, Sungai Watu Dakon, dan Sungai Ngotok. Air tanah di Kota Mojokerto memiliki kedalaman antara 25 meter.

Geologi
Kondisi Geologi lapisan batuan yang terdapat di Kota Mojokerto sebagian besar merupakan seri batuan Alluvium, Plistosen Fasies Sedimen dan Alluvium Fasies Gunung Api. Jenis alluvium mendominasi di sebagian besar wilayah di Kota Mojokerto seluas 980,35 Ha, Plistosen Fasies Sedimen seluas 223,40 Ha terdapat di Kelurahan Gunung Gedangan dan Kedundung, Alluvium Fasies Gunung Api seluas 442,79 Ha meliputi Kelurahan Surodinawan, Miji, Prajurit Kulon, Blooto, Mentikan, Kauman, Pulorejo, Jagalan, Sentanan, Purwotengan, dan Magersari.

Jenis tanah di Kota Mojokerto yaitu berupa Grumosol kelabu tua dan asosiasi aluvial kelabu dan aluvial coklat kekuningan. Jenis tanah asosiasi aluvial kelabu dan aluvial coklat kekuningan, untuk Kecamatan Prajurit Kulon terdapat di Kelurahan Mentikan, Kauman, untuk Kecamatan Kranggan terdapat di Kelurahan Meri, Kelurahan Jagalan, Kelurahan Sentanan dan Kelurahan Purwotengah, sedangkan untuk Kecamatan Magersari terdapat di seluruh Kelurahan dengan luas total untuk Kota Mojokerto seluas 624,57 Ha. Sedangkan jenis tanah Grumosol mendominasi jenis tanah di Kota Mojokerto, luas wilayah yang memiliki jenis tanah tersebut adalah 1.021,97 Ha terdapat di Kelurahan Meri, Gunung Gedangan, Kedundung, Balongsari, Jagalan, Santanan dan seluruh wilayah di Kecamatan Prajurit Kulon.

Pariwisata

Alun-alun Kota Mojokerto terletak di pusat kota. Bagi warga Kota Mojokerto dan sekitarnya dulu merupakan tempat rekreasi sekaligus sebagai sarana bersantai bagi keluarga di akhir pekan. Namun Sekarang Alun – Alun dikosongkan dan pedagangnya dipindahkan ke Jl.Benteng Pancasila.

Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat merupakan salah satu gereja tertua di Kota Mojokerto dan merupakan peninggalan zaman Belanda. Masjid Agung Al-Fattah didirikan pada zaman Belanda tepatnya pada tanggal 7 Mei 1878 berada di pusat kota sebelah Barat Aloon-aloon.

Klenteng Hok Siang Kiong didirikan pada tahun 1895. Ciri khas kedua bangunan itu adalah bentuk arsitekturnya yang khas Cina.

Bagi mereka yang senang berolahraga dapat menempuh perjalanan 1 km di arena jogging track di dermaga sungai Brantas Indah. Di lokasi ini juga terdapat warung lesehan yang menyediakan beberapa macam makanan. Rekreasi keluarga lainnya dapat dikunjungi Pemandian Sekar Sari terletak di tengah kota. Tempat rekreasi ini dilengkapi kolam renang dengan fasilitas bermain untuk anak-anak, wartel, toko alat-alat olahraga dan rumah makan yang menjual beraneka ragam makanan (bakso, kikil, soto ayam, dan lain-lain).

 

 

Jalan Benteng Pancasila, Kecamatan Magersari merupakan pusat keramaian terbaru di kota Mojokerto. Di Jalan Ini terdapat Pusat Jualan PKL yang menjual beragam produk dari produk garmen sampai sepatu dan tas. Selain itu juga, Jalan Benteng Pancasila atau biasa disebut Benpas merupakan tempat berkumpul kawula muda Mojokerto dan wilayah sekitarnya.

 

 

Makanan Khas

Mojokerto terkenal dengan camilan khasnya yaitu onde-onde. Jajanan tradisional ini dikenal dengan bentuknya yang bulat dengan isian pasta kacang hijau dan permukaan luarnya yang ditaburi biji wijen. Rasanya manis gurih dengan sensasi kenyal renyah saat digigit.

 

Kode Pos

Desa, Kelurahan Kecamatan, Distrik Kode Pos
Purwotengah Kranggan 61311
Sentanan Kranggan 61312
Jagalan Kranggan 61313
Meri Kranggan 61315
Kranggan Kranggan 61321
Miji Kranggan 61322
Balongsari Magersari 61314
Gunung Gedangan Magersari 61315
Kedundung Magersari 61316
Wates Magersari 61317
Magersari Magersari 61318
Gedongan Magersari 61319
Mentikan Prajurit Kulon 61323
Kauman Prajurit Kulon 61324
Pulorejo Prajurit Kulon 61325
Prajurit Kulon Prajurit Kulon 61326
Blooto Prajurit Kulon 61327
Surodinawan Prajurit Kulon 61328

Source :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Mojokerto
https://www.mojokertokota.go.id

Kabupaten Sidoarjo (Sejarah, Geografi, Ekonomi, Kuliner, Pariwisata, Kode Pos)

October 1, 2020 at 5:22 pm | Posted in Kota di Jawa Timur, Sidoarjo Kabupaten, Uncategorized | Leave a comment

Kabupaten Sidoarjo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya adalah kota Sidoarjo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik di utara, Selat Madura di timur, Kabupaten Pasuruan di selatan, serta Kabupaten Mojokerto di barat. Bersama dengan Gresik, Sidoarjo merupakan salah satu penyangga utama Kota Surabaya, dan termasuk dalam kawasan Gerbangkertosusila. Penduduk kabupaten ini berjumlah 2.266.533 jiwa pada tahun 2019.[1]

Logo Kabupaten Sidoarjo

Sejarah
Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Pangabahan. Pada 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare. Sidokare dipimpin R. Notopuro (kemudian bergelar R.T.P. Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya. Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare yang memiliki konotasi kurang bagus diubah namanya menjadi Kabupaten Sidoarjo.

Setelah R. Notopuro wafat tahun 1862, maka kakak almarhum pada tahun 1863 diangkat sebagai bupati, yaitu Bupati R.T.A.A. Tjokronegoro II yang merupakan pindahan dari Lamongan. Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro pensiun, sebagai gantinya diangkat R.P. Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung tetapi hanya 3 bulan saja menjabat sebagai Bupati karena wafat pada tahun itu juga, dan R.A.A.T. Tjondronegoro I diangkat sebagai gantinya.

Pada masa Pedudukan Jepang (8 Maret 1942 – 15 Agustus 1945), daerah delta Sungai Brantas termasuk Sidoarjo juga berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang (yaitu oleh Kaigun, tentara Laut Jepang). Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu. Permulaan bulan Maret 1946 Belanda mulai aktif dalam usaha-usahanya untuk menduduki kembali daerah ini. Ketika Belanda menduduki Gedangan, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan Sidoarjo ke Porong. Daerah Dungus (Kecamatan Sukodono) menjadi daerah rebutan dengan Belanda. Tanggal 24 Desember 1946, Belanda mulai menyerang kota Sidoarjo dengan serangan dari jurusan Tulangan. Sidoarjo jatuh ke tangan Belanda hari itu juga. Pusat pemerintahan Sidoarjo lalu dipindahkan lagi ke daerah Jombang.

Pemerintahan pendudukan Belanda (dikenal dengan nama Recomba) berusaha membentuk kembali pemerintahan seperti pada masa kolonial dulu. Pada November 1948, dibentuklah Negara Jawa Timur salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Sidoarjo berada di bawah pemerintahan Recomba hingga tahun 1949.

Pada 27 Desember 1949, sebagai hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kembali Negara Jawa Timur kepada Republik Indonesia, sehingga daerah delta Brantas dengan sendirinya menjadi daerah Republik Indonesia.

Geografi
Kabupaten Sidoarjo sebagai salah satu penyangga Ibu kota Provinsi Jawa Timur merupakan daerah yang mengalami perkembangan pesat. Keberhasilan ini dicapai karena berbagai potensi yang ada di wilayahnya seperti industri dan perdagangan, pariwisata, serta usaha kecil dan menengah dapat dikemas dengan baik dan terarah. Dengan adanya berbagai potensi daerah serta dukungan sumber daya manusia yang memadai, maka dalam perkembangannya Kabupaten Sidoarjo mampu menjadi salah satu daerah strategis bagi pengembangan perekonomian regional. Kabupaten Sidoarjo terletak antara 112o5’ dan 112o9’ Bujur Timur dan antara 7o3’ dan 7o5’ Lintang Selatan.[1]

Batas Wilayah
Utara Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik
Timur Selat Madura
Selatan Kabupaten Pasuruan
Barat Kabupaten Mojokerto

Topografi
Dataran Delta dengan ketinggian antar 0 s/d 25 m, ketinggian 0-3 m dengan luas 19.006 Ha, meliputi 29,99%, merupakan daerah pertambakkan yang berada di wilayah bagian timur Wilayah Bagian Tengah yang berair tawar dengan ketinggian 3-10 meter dari permukaan laut merupakan daerah pemukiman, perdagangan dan pemerintahan. Meliputi 40,81 %. Wilayah Bagian Barat dengan ketinggian 10-25 meter dari permukaan laut merupakan daerah pertanian. Meliputi 29,20%

Hidrogeologi
Daerah air tanah, payau, dan air asin mencapai luas 16.312.69 Ha. Kedalaman air tanah rata-rata 0–5 m dari permukaan tanah.

Hidrologi
Kabupaten Sidoarjo terletak di antara dua aliran sungai yaitu Kali Surabaya dan Kali Porong yang merupakan cabang dari Kali Brantas yang berhulu di kabupaten Malang.

Klimatologi
Wilayah Sidoarjo beriklim tropis basah dan kering (Aw) dengan dua musim, yaitu musim kemarau pada bulan Juni sampai Bulan Oktober dengan bulan terkering adalah Agustus dan musim hujan pada bulan Desember sampai bulan April dengan bulan terbasah adalah Januari. Curah hujan tahunan di wilayah Sidoarjo berkisar antara 1.300–1.700 mm per tahun dengan jumlah hari hujan berkisar antara 80–120 hari hujan per tahun. Suhu udara di wilayah ini bervariasi antara 21°–34°C dengan tingkat kelembapan nisbi ±76%.

Struktur Tanah
Alluvial kelabu seluas 6.236,37 Ha Assosiasi Alluvial kelabu dan Alluvial Coklat seluas 4.970,23 Ha Alluvial Hidromart seluas 29.346,95 Ha Gromosal kelabu Tua Seluas 870,70 Ha

Kecamatan
Artikel utama: Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Sidoarjo
Kabupaten Sidoarjo terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Kota kecamatan lain yang cukup besar di Kabupaten Sidoarjo di antaranya Taman, Krian, Wonoayu, Candi, Porong, Gedangan, Tarik, Sidoarjo dan Waru. Kecamatan yang ada di Kabupaten Sidoarjo adalah:

Sidoarjo
Balongbendo
Buduran
Candi
Gedangan
Jabon
Krembung
Krian
Prambon
Porong
Sedati
Sukodono
Taman
Tanggulangin
Tarik
Tulangan
Waru
Wonoayu

Lambang Daerah
Lambang Daerah Kabupaten Sidoarjo terdiri dari 5 bagian:

Sebuah segilima beraturan yang sisi-sisinya berbentuk kurung kurawal melambangkan : Falsafah Pancasila yang juga mengandung arti bahwa rakyat Daerah Kabupaten Sidoarjo telah mentrapkan ajaran Pancasila dengan tertib dan pasti,
Sebuah bintang bersudut lima melambangkan : KeTuhanan Yang Maha Esa yang menggambarkan kehidupan ber-KeTuhanan / beragama dari rakyat Daerah Kabupaten Sidoarjo
Setangkai padi, depalan belas butir dan sebatang tebu lima ruas dengan bentuk bulat melambangkan : Hasil bumi yang paling penting dalam daerah Kabupaten Sidoarjo. Sedangkan bentuk yang membulat dari padi dan tebu tersebut menggambarkan kebulatan tekad untuk membangun masyarakat yang adil dan makmur. 18 (delapan belas) butir padi menunjukkan banyaknya Kecamatan dalam daerah Kabupaten Sidoarjo.
Ikan bandeng dan udang membentuk hurus ” S ” melambangkan : Hasil tambak dalam daerah Kabupaten Sidoarjo. Bentuk hurus ” S ” dari ikan bandeng dan udang tersebut menunjukkan huruf pertama dari Sidoarjo

Arti Warna
Warna Biru Laut pada lambang berarti air yang menggambarkan bahwa Daerah Kabupaten Sidoarjo yang terkenal dengan nama: “DELTA BRANTAS” dikelilingi air yaitu sungai dan laut. Warna biru laut yang terlepas dalam lingkaran padi dan tebu berarti air yang menggambarkan bahwa daerah Kabupaten Sidoarjo adalah daerah tambak yang banyak menghasilkan ikan bandeng dan udang.
Warna dasar Hijau menggambarkan kesuburan daerah Kabupaten Sidoarjo (Delta Brantas)
Warna Kuning pada bintang, padi, tebu dan pita menggambarkan kesejahteraan rakyat Kabupaten Sidoarjo
Warna Hitam pada tebu, ikan bandeng, udang dan tulisan Kabupaten Sidoarjo menggambarkan keteguhan Iman rakyat daerah Kabupaten Sidoarjo.
Warna Abu-abu ikan bandeng dan udang adalah warna pelengkap.

Slogan
(Pertanian Maju, Andalan Industri, Bersih, Rapi, Serasi, Hijau, Sehat, Indah dan Nyaman) Artinya Kabupaten Sidoarjo merupakan daerah pertanian yang subur sebagai lumbung pangan, mempertahankan pertanian yang maju agar bisa swasembada pangan dengan cara identifikasi pertanian dan menggunakan mekanisasi teknologi tepat guna, di samping itu mendorong perkembangan industri yang semakin meningkat, maka kedua hal ini harus berkembang secara serasi. Selain itu masyarakat Kabupaten Sidoarjo berbudaya hidup dengan lingkungan yang bersih, rapi, serasi, hijau, sehat, indah dan nyaman.

Ekonomi
Perikanan, industri dan jasa merupakan sektor perekonomian utama Sidoarjo. Selat Madura di sebelah Timur merupakan daerah penghasil perikanan, di antaranya Ikan, Udang, dan Kepiting. Logo Kabupaten menunjukkan bahwa Udang dan Bandeng merupakan komoditas perikanan yang utama kota ini. Sidoarjo dikenal pula dengan sebutan “Kota Petis“. Sektor industri di Sidoarjo berkembang cukup pesat karena lokasi yang berdekatan dengan pusat bisnis Jawa Timur (Surabaya), dekat dengan Pelabuhan Tanjung Perak maupun Bandara Juanda, memiliki sumber daya manusia yang produktif serta kondisi sosial politik dan keamanan yang relatif stabil menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di Sidoarjo. Sektor industri kecil juga berkembang cukup baik, di antaranya sentra industri kerajinan tas dan koper di Tanggulangin, sentra industri sandal dan sepatu di Wedoro – Waru dan Tebel – Gedangan, sentra industri kerupuk di Telasih – Tulangan.

Kuliner Khas
Kupang lontong
Sate kerang
Otak otak bandeng
Ote-Ote Khas Porong
Lontong Balap
Kerupuk udang
Bandeng asap
Bandeng presto
Petis
Klepon

Lontong Kupang

Ote-ote Porong

 

 

 

 

 

 

 

Lontong Balap

Krupuk Udang

 

 

 

 

 

 

Bandeng asap

Klepon

 

 

 

 

 

 

Pariwisata
Monumen Jayandaru
Wisata Lumpur Lapindo, Porong
Gelanggang Olahraga Sidoarjo
Delta Fishing
Wisata Sungai Karanggayam
Wisata Bahari Tlocor
Pulau Sarinah
Makam KH. Ali Mas Ud, Pagerwojo
Makam Dewi Sekardadu, Buduran
Masjid Agung Sidoarjo
Masjid Jami’ Al Abror Sidoarjo
Pura Jala Siddhi Amertha
Tempat Ibadat Tri Dharma Tjong Hok Kiong
Gereja Pantekosta Elohim
Kampung Batik Jetis
Museum Mpu Tantular.
Candi Dermo.
Candi Mendalem.
Candi Pari.
Candi Sumur.
Candi Tawangalun.
Kawasan Pemancingan Kalanganyar, Cemandi.
Kampung Krupuk Desa Kedungrejo, Jabon
Sentra tas dan koper Tanggulangin.
Taman Dwarakerta, Porong
Taman Apkasi, Porong
Taman Abhirama, Pagerwojo
Taman Tanjung Puri, Sidoarjo

Museum Mpu Tantular

Kampung Batik Jetis

 

 

 

 

 

Candi Dermo

Candi Pari

 

 

 

 

 

Monumen Jayandaru

Delta Fishing

 

 

 

 

 

Lumpur Lapindo

Suncity-Waterpark

 

 

 

 

 

 

Makam Putri Ayu Sekar Dadu

Kampung Sepatu Krian

 

 

 

 

 

 

Sentra tas dan koper Tanggulangin

Wisata Tlocor, Jabon

 

 

 

 

 

Kode Pos

Desa, Kelurahan Kecamatan, Distrik Kode Pos
Bakalan Wringinpitu Balongbendo 61263
Bakung Pringgodani Balongbendo 61263
Bakung Temenggungan Balongbendo 61263
Balongbendo Balongbendo 61263
Bogem Pinggir Balongbendo 61263
Gagang Kepuhsari Balongbendo 61263
Jabaran Balongbendo 61263
Jeruk Legi Balongbendo 61263
Kedung Sukodani Balongbendo 61263
Kemangsen Balongbendo 61263
Penambangan Balongbendo 61263
Seduri Balongbendo 61263
Seketi Balongbendo 61263
Singkalan Balongbendo 61263
Sumokembangsri Balongbendo 61263
Suwaluh Balongbendo 61263
Waruberon Balongbendo 61263
Watesari Balongbendo 61263
Wonokarang Balongbendo 61263
Wonokupang Balongbendo 61263
Banjarkemantren Buduran 61252
Banjarsari Buduran 61252
Buduran Buduran 61252
Damarsi Buduran 61252
Dukuhtengah Buduran 61252
Entalsewu Buduran 61252
Pagerwojo Buduran 61252
Prasung Buduran 61252
Sawohan Buduran 61252
Sidokepung Buduran 61252
Sidokerto Buduran 61252
Sidomulyo Buduran 61252
Siwalan Panji Buduran 61252
Sukorejo Buduran 61252
Wadungasih Buduran 61252
Balongdowo Candi 61271
Balonggabus Candi 61271
Bligo Candi 61271
Candi Candi 61271
Durungbanjar Candi 61271
Durungbedug Candi 61271
Gelam Candi 61271
Jambangan Candi 61271
Kalipecabean Candi 61271
Karangtanjung Candi 61271
Kebunsari Candi 61271
Kedung Peluk Candi 61271
Kedungkendo Candi 61271
Kendalpecabean Candi 61271
Klurak Candi 61271
Larangan Candi 61271
Ngampelsari Candi 61271
Sepande Candi 61271
Sidodadi Candi 61271
Sugih Waras Candi 61271
Sumokali Candi 61271
Sumorame Candi 61271
Tenggulunan Candi 61271
Wedoro Klurak Candi 61271
Bangah Gedangan 61254
Ganting Gedangan 61254
Gedangan Gedangan 61254
Gemurung Gedangan 61254
Karangbong Gedangan 61254
Keboananom Gedangan 61254
Keboansikep Gedangan 61254
Ketajen Gedangan 61254
Kragan Gedangan 61254
Punggul Gedangan 61254
Sawotratap Gedangan 61254
Semambung Gedangan 61254
Sruni Gedangan 61254
Tebel Gedangan 61254
Wedi Gedangan 61254
Balongtani Jabon 61276
Besuki Jabon 61276
Dukuhsari Jabon 61276
Jemirahan Jabon 61276
Keboguyang Jabon 61276
Kedungcangkring Jabon 61276
Kedungpandan Jabon 61276
Kedungrejo Jabon 61276
Kupang Jabon 61276
Panggreh Jabon 61276
Pejarakan Jabon 61276
Permisan Jabon 61276
Semambung Jabon 61276
Tambak Kalisogo Jabon 61276
Trompoasri Jabon 61276
Balong Garut Krembung 61275
Cangkring Krembung 61275
Gading Krembung 61275
Jenggot Krembung 61275
Kandangan Krembung 61275
Kedungrawan Krembung 61275
Kedungsumur Krembung 61275
Keper Krembung 61275
Keret Krembung 61275
Krembung Krembung 61275
Lemujut Krembung 61275
Mojoruntut Krembung 61275
Ploso Krembung 61275
Rejeni Krembung 61275
Tambakrejo Krembung 61275
Tanjeg Wagir Krembung 61275
Wangkal Krembung 61275
Waung Krembung 61275
Wonomlati Krembung 61275
Barengkrajan Krian 61262
Gamping Krian 61262
Jatikalang Krian 61262
Jeruk Gamping Krian 61262
Junwangi Krian 61262
Katrungan (Katerungan) Krian 61262
Keboharan Krian 61262
Kemasan Krian 61262
Kraton Krian 61262
Krian Krian 61262
Ponokawan Krian 61262
Sedengan Mijen Krian 61262
Sidomojo Krian 61262
Sidomulyo Krian 61262
Sidorejo Krian 61262
Tambak Kemerakan Krian 61262
Tempel Krian 61262
Terik Krian 61262
Terung Kulon Krian 61262
Terung Wetan Krian 61262
Tropodo Krian 61262
Watugolong Krian 61262
Candipari Porong 61274
Gedang Porong 61274
Glagah Arum Porong 61274
Jatirejo Porong 61274
Juwet Kenongo Porong 61274
Kebakalan Porong 61274
Kebonagung Porong 61274
Kedungboto Porong 61274
Kedungsolo Porong 61274
Kesambi Porong 61274
Lajuk Porong 61274
Mindi Porong 61274
Pamotan Porong 61274
Pesawahan Porong 61274
Plumbon Porong 61274
Porong Porong 61274
Renokenongo Porong 61274
Siring Porong 61274
Wunut Porong 61274
Bendotretek Prambon 61264
Bulang Prambon 61264
Cangkringturi Prambon 61264
Gampang Prambon 61264
Gedangrowo Prambon 61264
Jati Alun Alun Prambon 61264
Jatikalang Prambon 61264
Jedongcangkring Prambon 61264
Kajartengguli Prambon 61264
Kedungkembar Prambon 61264
Kedungsugo Prambon 61264
Kedungwonokerto Prambon 61264
Pejangkungan Prambon 61264
Prambon Prambon 61264
Simogirang Prambon 61264
Simpang Prambon 61264
Temu Prambon 61264
Watutulis Prambon 61264
Wirobiting Prambon 61264
Wono Plintahan Prambon 61264
Banjar Kemuning Sedati 61253
Betro Sedati 61253
Buncitan Sedati 61253
Cemandi Sedati 61253
Gisik Cemandi Sedati 61253
Kalanganyar Sedati 61253
Kwangsan Sedati 61253
Pabean Sedati 61253
Pepe Sedati 61253
Pranti Sedati 61253
Pulungan Sedati 61253
Sedati Agung Sedati 61253
Sedati Gede Sedati 61253
Segoro Tambak Sedati 61253
Semampir Sedati 61253
Tambak Cemandi Sedati 61253
Magersari Sidoarjo 61212
Sidokumpul Sidoarjo 61212
Lemahputro Sidoarjo 61213
Pekauman Sidoarjo 61213
Sidokare Sidoarjo 61214
Celep Sidoarjo 61215
Sekardangan Sidoarjo 61215
Pucanganom Sidoarjo 61217
Sidoklumpuk Sidoarjo 61218
Pucang Sidoarjo 61219
Lebo Sidoarjo 61223
Suko Sidoarjo 61224
Banjarbendo Sidoarjo 61225
Jati Sidoarjo 61226
Sumput Sidoarjo 61228
Gebang Sidoarjo 61231
Bluru Kidul Sidoarjo 61233
Bulusidokare Sidoarjo 61234
Cemeng Bakalan Sidoarjo 61234
Cemeng Kalang Sidoarjo 61234
Kemiri Sidoarjo 61234
Rangkahkidul Sidoarjo 61234
Sari Rogo Sidoarjo 61234
Urangagung (Jedong) Sidoarjo 61234
Panjunan Sukodono 61216
Anggaswangi Sukodono 61258
Bangsri Sukodono 61258
Cangkringsari Sukodono 61258
Jogosatru Sukodono 61258
Jumputrejo Sukodono 61258
Kebonagung Sukodono 61258
Keloposepuluh Sukodono 61258
Masangan Kulon Sukodono 61258
Masangan Wetan Sukodono 61258
Ngaresrejo Sukodono 61258
Pademonegoro Sukodono 61258
Pekarungan Sukodono 61258
Plumbungan Sukodono 61258
Sambungrejo Sukodono 61258
Suko Sukodono 61258
Sukodono Sukodono 61258
Suruh Sukodono 61258
Wilayut Sukodono 61258
Krembangan Taman 61212
Bebekan Taman 61257
Bohar Taman 61257
Bringinbendo Taman 61257
Geluran Taman 61257
Gilang Taman 61257
Jemundo Taman 61257
Kalijaten Taman 61257
Kedungturi Taman 61257
Ketegan Taman 61257
Kletek Taman 61257
Kramat Jegu Taman 61257
Ngelom Taman 61257
Pertapan Maduretno Taman 61257
Sadang Taman 61257
Sambi Bulu Taman 61257
Sepanjang Taman 61257
Sidodadi Taman 61257
Taman Taman 61257
Tanjungsari Taman 61257
Tawangsari Taman 61257
Trosobo Taman 61257
Wage Taman 61257
Wonocolo Taman 61257
Banjar Asri Tanggulangin 61272
Banjar Panji Tanggulangin 61272
Boro Tanggulangin 61272
Ganggang Panjang Tanggulangin 61272
Gempol Sari Tanggulangin 61272
Kalidawir Tanggulangin 61272
Kalisampurno Tanggulangin 61272
Kalitengah Tanggulangin 61272
Kedensari Tanggulangin 61272
Kedung Banteng Tanggulangin 61272
Kedung Bendo Tanggulangin 61272
Ketapang Tanggulangin 61272
Ketegan Tanggulangin 61272
Kludan Tanggulangin 61272
Ngaban Tanggulangin 61272
Penatarsewu Tanggulangin 61272
Putat Tanggulangin 61272
Randegan Tanggulangin 61272
Sentul Tanggulangin 61272
Balongmacekan Tarik 61265
Banjarwungu Tarik 61265
Gampingrowo Tarik 61265
Gempolklutuk Tarik 61265
Janti Tarik 61265
Kalimati Tarik 61265
Kedinding Tarik 61265
Kedungbocok Tarik 61265
Kemuning Tarik 61265
Kendalsewu Tarik 61265
Klantingsari Tarik 61265
Kramat Temenggung Tarik 61265
Mergobener Tarik 61265
Mergosari Tarik 61265
Mindugading Tarik 61265
Mliriprowo Tarik 61265
Sebani Tarik 61265
Segodobancang Tarik 61265
Singogalih Tarik 61265
Tarik Tarik 61265
Gelang Tulangan 61273
Grabagan Tulangan 61273
Grinting Tulangan 61273
Grogol Tulangan 61273
Janti Tulangan 61273
Jiken Tulangan 61273
Kajeksan Tulangan 61273
Kebaron Tulangan 61273
Kedondong Tulangan 61273
Kemantren Tulangan 61273
Kenongo Tulangan 61273
Kepadangan Tulangan 61273
Kepatihan Tulangan 61273
Kepuh Kemiri Tulangan 61273
Kepunten Tulangan 61273
Medalem Tulangan 61273
Modong Tulangan 61273
Pangkemiri Tulangan 61273
Singopadu Tulangan 61273
Sudimoro Tulangan 61273
Tlasih Tulangan 61273
Tulangan Tulangan 61273
Berbek Waru 61256
Bungurasih Waru 61256
Janti Waru 61256
Kedungrejo Waru 61256
Kepuh Kiriman Waru 61256
Kureksari Waru 61256
Medaeng Waru 61256
Ngingas Waru 61256
Pepelegi Waru 61256
Tambak Oso Waru 61256
Tambak Rejo Waru 61256
Tambak Sawah Waru 61256
Tambak Sumur Waru 61256
Tropodo Waru 61256
Wadungasri Waru 61256
Waru Waru 61256
Wedoro Waru 61256
Becirongengor Wonoayu 61261
Candinegoro Wonoayu 61261
Jimbaran Kulon Wonoayu 61261
Jimbaran Wetan Wonoayu 61261
Karangpuri Wonoayu 61261
Ketimang Wonoayu 61261
Lambangan Wonoayu 61261
Mojorangagung Wonoayu 61261
Mulyodadi Wonoayu 61261
Pagerngumbuk Wonoayu 61261
Pilang Wonoayu 61261
Plaosan Wonoayu 61261
Ploso Wonoayu 61261
Popoh Wonoayu 61261
Sawocangkring Wonoayu 61261
Semambung Wonoayu 61261
Simo Angin Angin Wonoayu 61261
Simoketawang Wonoayu 61261
Sumberejo Wonoayu 61261
Tanggul Wonoayu 61261
Wonoayu Wonoayu 61261
Wonokalang Wonoayu 61261
Wonokasian Wonoayu 61261

 

[1] “Kabupaten Sidoarjo Dalam Angka 2020”

Source :

https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sidoarjo
https://listkodepos.com/daftar-lengkap-kode-pos-sidoarjo/

Kota Surabaya (Sejarah, Geografi, Bahasa, Pariwisata, Kebudayaan, Kuliner, Tokoh, Kode Pos)

September 28, 2020 at 7:43 am | Posted in Kota di Jawa Timur, Surabaya Kota, Uncategorized | Leave a comment

Kota Provinsi Jawa Timur, Indonesia, sekaligus kota metropolitan terbesar di provinsi tersebut. Surabaya juga merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Kota ini terletak 800 km sebelah timur Jakarta, atau 435 km sebelah barat laut Denpasar, Bali. Surabaya terletak di pantai utara Pulau Jawa bagian timur dan berhadapan dengan Selat Madura serta Laut Jawa.
Surabaya memiliki luas sekitar ±326,81 km², dan 3.158.943 jiwa penduduk pada tahun 2019[1]. Daerah metropolitan Surabaya yaitu Gerbangkertosusila yang berpenduduk sekitar 10 juta jiwa, adalah kawasan metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jabodetabek. Surabaya dan wilayah Gerbangkertosusila dilayani oleh sebuah bandar udara, yakni Bandar Udara Internasional Juanda yang berada 20 km di sebelah selatan kota, serta dua pelabuhan, yakni Pelabuhan Tanjung Perak dan Pelabuhan Ujung.
Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan Arek-Arek Suroboyo (Pemuda-pemuda Surabaya) dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari serangan penjajah. Menurut Bappenas, Surabaya adalah salah satu dari empat pusat pertumbuhan utama di Indonesia, bersama dengan Medan, Jakarta, dan Makassar. [2][3]

Sejarah
Etimologi
Kata Surabaya sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan air. Selain itu, dari kata Surabaya juga muncul mitos pertempuran antara ikan sura / suro (ikan hiu) dan baya / boyo (buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa terbentuknya nama “Surabaya” muncul setelah terjadinya pertempuran tersebut.

Lambang Kota Surabaya

Asal usul Surabaya
Bukti sejarah menunjukkan bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, seperti yang tercantum dalam prasasti Trowulan I, berangka 1358 M. Dalam prasasti tersebut terungkap bahwa Surabaya (Churabhaya) masih berupa desa di tepi sungai Brantas dan juga sebagai salah satu tempat penyeberangan penting sepanjang daerah aliran sungai Brantas. Surabaya juga tercantum dalam pujasastra Kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh Empu Prapañca yang bercerita tentang perjalanan pesiar Raja Hayam Wuruk pada tahun 1365 M dalam pupuh XVII (bait ke-5, baris terakhir).
Walaupun bukti tertulis tertua mencantumkan nama Surabaya berangka tahun 1358 M (Prasasti Trowulan) dan 1365 M (Nagarakretagama), para ahli menduga bahwa wilayah Surabaya sudah ada sebelum tahun-tahun tersebut. Menurut pendapat budayawan Surabaya berkebangsaan Jerman Von Faber, wilayah Surabaya didirikan tahun 1275 M oleh Raja Kertanegara sebagai tempat permukiman baru bagi para prajuritnya yang berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan pada tahun 1270 M. Pendapat yang lainnya mengatakan bahwa Surabaya dahulu merupakan sebuah daerah yang bernama Ujung Galuh.
Versi lain menyebutkan, Surabaya berasal dari cerita tentang perkelahian hidup-mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon, setelah mengalahkan pasukan Kekaisaran Mongol utusan Kubilai Khan atau yang dikenal dengan pasukan Tartar, Raden Wijaya mendirikan sebuah keraton di daerah Ujung Galuh dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama-lama karena menguasai ilmu buaya, Jayengrono semakin kuat dan mandiri sehingga mengancam kedaulatan Kerajaan Majapahit. Untuk menaklukkan Jayengrono, maka diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu sura.
Adu kesaktian dilakukan di pinggir Kali Mas, di wilayah Peneleh. Perkelahian itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dan berakhir dengan tragis, karena keduanya meninggal setelah kehilangan tenaga.
Nama Śūrabhaya  sendiri dikukuhkan sebagai nama resmi pada abad ke-14 oleh penguasa Ujung Galuh, Arya Lêmbu Sora.

Era prakolonial
Wilayah Surabaya dahulu merupakan gerbang utama untuk memasuki ibu kota Kerajaan Majapahit dari arah lautan, yakni di muara Kali Mas. Bahkan hari jadi kota Surabaya ditetapkan yaitu pada tanggal 31 Mei 1293.

Lambang kota Surabaya pada masa Hindia Belanda (1931).

Hari itu sebenarnya merupakan hari kemenangan pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya terhadap serangan pasukan Mongol. Pasukan Mongol yang datang dari laut digambarkan sebagai SURA (ikan hiu / berani) dan pasukan Raden Wijaya yang datang dari darat digambarkan sebagai BAYA (buaya / bahaya), jadi secara harfiah diartikan berani menghadapi bahaya yang datang mengancam. Maka hari kemenangan itu diperingati sebagai hari jadi Surabaya.
Pada abad ke-15, Islam mulai menyebar dengan pesat di daerah Surabaya. Salah satu anggota Walisongo, Sunan Ampel, mendirikan masjid dan pesantren di wilayah Ampel. Tahun 1530, Surabaya menjadi bagian dari Kerajaan Demak.
Menyusul runtuhnya Demak, Surabaya menjadi sasaran penaklukan Kesultanan Mataram, diserbu Panembahan Senopati tahun 1598, diserang besar-besaran oleh Panembahan Seda ing Krapyak tahun 1610, dan diserang Sultan Agung tahun 1614. Pemblokan aliran Sungai Brantas oleh Sultan Agung akhirnya memaksa Surabaya menyerah. Suatu tulisan VOC tahun 1620 menggambarkan, Surabaya sebagai wilayah yang kaya dan berkuasa. Panjang lingkarannya sekitar 5 mijlen Belanda (sekitar 37 km), dikelilingi kanal dan diperkuat meriam. Tahun tersebut, untuk melawan Mataram, tentaranya sebesar 30.000 prajurit[4].
Tahun 1675, Trunojoyo dari Madura merebut Surabaya, namun akhirnya didepak VOC pada tahun 1677.
Dalam perjanjian antara Pakubuwono II dan VOC pada tanggal 11 November 1743, Surabaya diserahkan penguasaannya kepada VOC. Gedung pusat pemerintahan Karesidenan Surabaya berada di mulut sebelah barat Jembatan Merah. Jembatan inilah yang membatasi permukiman orang Eropa (Europeesche Wijk) waktu itu, yang ada di sebelah barat jembatan dengan tempat permukiman orang Tionghoa; Melayu; Arab; dan sebagainya (Vremde Oosterlingen), yang ada di sebelah timur jembatan tersebut. Hingga tahun 1900-an, pusat kota Surabaya hanya berkisar di sekitar Jembatan Merah saja.

Era kolonial
Pada masa Hindia Belanda, Surabaya berstatus sebagai ibu kota Karesidenan Surabaya, yang wilayahnya juga mencakup daerah yang kini wilayah Kabupaten Gresik; Sidoarjo; Mojokerto; dan Jombang. Pada tahun 1905, Surabaya mendapat status kotamadya (gemeente). Pada tahun 1926, Surabaya ditetapkan sebagai ibu kota provinsi Jawa Timur. Sejak saat itu Surabaya berkembang menjadi kota modern terbesar kedua di Hindia Belanda setelah Batavia.
Sebelum tahun 1900, pusat kota Surabaya hanya berkisar di sekitar Jembatan Merah saja. Pada tahun 1910, fasilitas pelabuhan modern dibangun di Surabaya, yang kini dikenal dengan nama Pelabuhan Tanjung Perak. Sampai tahun 1920-an, tumbuh permukiman baru seperti daerah Darmo; Gubeng; Sawahan; dan Ketabang.
Tanggal 3 Februari 1942, Jepang menjatuhkan bom di Surabaya. Pada bulan Maret 1942, Jepang berhasil merebut Surabaya. Surabaya kemudian menjadi sasaran serangan udara tentara Sekutu pada tanggal 17 Mei 1944.

Mobil Brigjen Mallaby yang terbakar di tempat ia terbunuh dalam pertempuran di Surabaya tanggal 30 Oktober 1945.

Era kemerdekaan
Pertempuran mempertahankan Surabaya
Setelah Perang Dunia II usai, pada 25 Oktober 1945, 6.000 pasukan Inggris-India yaitu Brigade 49, Divisi 23 yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby mendarat di Surabaya dengan perintah utama melucuti tentara Jepang, tentara dan milisi Indonesia. Mereka juga bertugas mengurus bekas tawanan perang dan memulangkan tentara Jepang. Pasukan Jepang menyerahkan semua senjata mereka, tetapi milisi dan lebih dari 20.000 pasukan Indonesia menolak.
26 Oktober 1945, tercapai persetujuan antara R.M. Soerjo, Gubernur Jawa Timur dengan Brigjen Mallaby bahwa pasukan Indonesia dan milisi tidak harus menyerahkan senjata mereka. Sayangnya terjadi salah pengertian antara pasukan Inggris di Surabaya dengan markas tentara Inggris di Jakarta yang dipimpin Letnan Jenderal Philip Christison.
Pada tanggal 27 Oktober 1945, pukul 11.00, pesawat Dakota Angkatan Udara Inggris dari Jakarta menjatuhkan selebaran di Surabaya yang memerintahkan semua tentara Indonesia dan milisi untuk menyerahkan senjata. Para pimpinan tentara dan milisi Indonesia menjadi marah ketika membaca selebaran ini dan menganggap Brigjen Mallaby tidak menepati perjanjian yang ditanda tangani satu hari sebelumnya. Pada 28 Oktober 1945, pasukan Indonesia dan milisi menggempur pasukan Inggris di Surabaya. Untuk menghindari kekalahan di Surabaya, Brigjen Mallaby meminta agar Presiden RI Soekarno dan panglima pasukan Inggris Divisi 23, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk pergi ke Surabaya dan mengusahakan perdamaian.
29 Oktober 1945, Presiden Soekarno; Wakil Presiden Mohammad Hatta; dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin bersama Mayjen Hawthorn pergi ke Surabaya untuk berunding.
Pada siang hari, 30 Oktober 1945, dicapai persetujuan yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Panglima Divisi 23 Mayjen Hawthorn. Isi perjanjian tersebut adalah diadakan perhentian tembak menembak dan pasukan Inggris akan ditarik mundur dari Surabaya secepatnya. Mayjen Hawthorn dan para pimpinan RI tersebut meninggalkan Surabaya dan kembali ke Jakarta.
Pada sore hari, 30 Oktober 1945, Brigjen Mallaby berkeliling ke berbagai pos pasukan Inggris di Surabaya untuk memberitahukan soal persetujuan tersebut. Saat mendekati pos pasukan Inggris di gedung Internatio, dekat Jembatan Merah, mobil Brigjen Mallaby dikepung oleh milisi yang sebelumnya telah mengepung gedung Internatio.
Karena mengira komandannya akan diserang oleh milisi, pasukan Inggris kompi D yang dipimpin Mayor Venu K. Gopal melepaskan tembakan ke atas untuk membubarkan para milisi. Para milisi mengira mereka diserang / ditembaki tentara Inggris dari dalam gedung Internatio dan balas menembak. Seorang perwira Inggris, Kapten R.C. Smith melemparkan granat ke arah milisi Indonesia, tetapi meleset dan jatuh tepat di mobil Brigjen Mallaby.
Granat meledak dan mobil terbakar. Akibatnya Brigjen Mallaby dan sopirnya tewas. Laporan awal yang diberikan pasukan Inggris di Surabaya ke markas besar pasukan Inggris di Jakarta menyebutkan Brigjen Mallaby tewas ditembak oleh milisi Indonesia.
Letjen Philip Christison marah besar mendengar kabar kematian Brigjen Mallaby tersebut dan mengerahkan 24.000 pasukan tambahan untuk menguasai Surabaya.
9 November 1945, Inggris menyebarkan ultimatum agar semua senjata tentara Indonesia dan milisi segera diserahkan ke tentara Inggris, tetapi ultimatum ini tidak diindahkan.
10 November 1945, Inggris mulai membom Surabaya dan perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Dua pesawat Inggris ditembak jatuh pasukan RI dan salah seorang penumpang, Brigadir Jenderal Robert Guy Loder-Symonds terluka parah dan meninggal keesokan harinya.
20 November 1945, Inggris berhasil menguasai Surabaya dengan korban ribuan orang prajurit tewas. Lebih dari 20.000 tentara Indonesia, milisi dan penduduk Surabaya tewas. Seluruh kota Surabaya hancur lebur.
Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan Inggris pada dekade 1940-an. Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah.
Karena sengitnya pertempuran dan besarnya korban jiwa, setelah pertempuran ini, jumlah pasukan Inggris di Indonesia mulai dikurangi secara bertahap dan digantikan oleh pasukan Belanda. Pertempuran pada tanggal 10 November 1945 tersebut hingga saat ini dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Geografi
Surabaya secara geografis berada pada 07°09`00“ – 07°21`00“ Lintang Selatan dan 112°36`- 112°54` Bujur Timur. Luas wilayah Surabaya meliputi daratan dengan luas 326,81 km² dan lautan seluas 190,39 km².

Geologi
Kondisi geologi Kota Surabaya terdiri dari Daratan Alluvium; Formasi Kabuh; Pucangan; Lidah; Madura; dan Sonde. Sedangkan untuk wilayah perairan, Surabaya tidak berada pada jalur sesar aktif ataupun berhadapan langsung dengan samudera, sehingga relatif aman dari bencana alam. Berdasarkan kondisi geologi dan wilayah perairannya, Surabaya dikategorikan ke dalam kawasan yang relatif aman terhadap bencana gempa bumi maupun tanah amblesan sehingga pembangunan infrastruktur tidak memerlukan rekayasa geoteknik yang dapat menelan biaya besar.

Topografi
Utara: Selat Madura
Timur: Selat Madura
Selatan: Kabupaten Sidoarjo
Barat: Kabupaten Gresik

Surabaya terletak di tepi pantai utara provinsi Jawa Timur. Wilayahnya berbatasan dengan Selat Madura di sebelah utara dan timur, Kabupaten Sidoarjo di sebelah selatan, serta Kabupaten Gresik di sebelah barat. Sebagian besar wilayah Surabaya merupakan dataran rendah yaitu 80,72% dengan ketinggian antara -0,5 – 5m SHVP atau 3 – 8 m di atas permukaan laut, sedangkan sisanya merupakan daerah perbukitan yang terletak di wilayah Surabaya Barat (12,77%) dan Surabaya Selatan (6,52%). Di wilayah Surabaya Selatan terdapat 2 bukit landai yaitu di daerah Lidah dan Gayungan yang ketinggiannya antara 25 – 50 m di atas permukaan laut dan di wilayah Surabaya Barat memiliki kontur tanah perbukitan yang bergelombang. Struktur tanah di Surabaya terdiri dari tanah aluvial, hasil endapan sungai dan pantai, dan di bagian barat terdapat perbukitan yang mengandung kapur tinggi. Di Surabaya terdapat muara Kali Mas, yakni satu dari dua pecahan Sungai Brantas. Kali Mas adalah salah satu dari tiga sungai utama yang membelah sebagian wilayah Surabaya bersama dengan Kali Surabaya dan Kali Wonokromo. Areal sawah dan tegalan terdapat di kawasan barat dan selatan kota, sedangkan areal tambak berada di kawasan pesisir timur dan utara.

Iklim
Surabaya memiliki iklim tropis seperti kota besar di Indonesia pada umumnya. Berdasarkan klasifikasi iklim Koppen, Kota Surabaya termasuk dalam kategori iklim tropis basah dan kering dengan dua musim dalam setahun yaitu musim hujan dan kemarau. Curah hujan di Surabaya rata-rata 165,3 mm. Curah hujan tertinggi di atas 200 mm terjadi pada kurun Januari hingga Maret dan November hingga Desember. Suhu udara rata-rata di Surabaya berkisar antara 23,6 °C hingga 33,8 °C.

Bahasa
Surabaya memiliki dialek khas Bahasa Jawa yang dikenal dengan boso Suroboyoan (bahasa ke-Surabaya-an). Dialek ini dituturkan di daerah Surabaya dan sekitarnya, dan memiliki pengaruh yang sangat besar di hampir semua wilayah Provinsi Jawa Timur. Dialek ini dikenal egaliter, blak-blakan, dan masyarakat Surabaya dikenal cukup fanatik dan bangga terhadap bahasanya. Namun sebagian besar penduduk Surabaya masih menjunjung tinggi adat istiadat Jawa, termasuk penggunaan bahasa Jawa halus untuk menghormati orang yang lebih tua atau orang yang baru dikenalnya. Tetapi sebagai dampak peradaban yang maju dan banyaknya pendatang yang datang ke Surabaya, secara tidak langsung telah mencampuradukkan bahasa asli Surabaya, ngoko, dan bahasa Madura, sehingga diperkirakan banyak kosakata asli bahasa Surabaya yang sudah punah. Beberapa contoh adalah njegog:belok, ndherok:berhenti, gog:paman, maklik:bibi. Bahasa yang dituturkan penduduk Madura di Surabaya pada umumnya terjadi pencampuran antara bahasa Madura dan Jawa di dalam komunikasi sehari-hari, sedangkan bahasa yang dituturkan warga keturunan Tionghoa di Surabaya memiliki dialek khas yang merupakan pencampuran antara bahasa Indonesia; Jawa; Hokkien; Khek; dan Mandarin yang dikenal dengan dialek Tionghoa Surabaya. Namun terlepas dari itu, seluruh penduduk Surabaya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi nasional di dalam acara; kegiatan; maupun komunikasi formal.

Pariwisata
Surabaya memiliki beragam destinasi wisata yang menarik. Kebanyakan destinasi wisata di kota ini erat kaitannya dengan sejarah penyebaran agama Islam di tanah Jawa, serta perjuangan nasional Indonesia. Selain itu, Surabaya juga memiliki wisata alam yang menarik, di antaranya adalah Ekowisata Mangrove Wonorejo dan Pantai Kenjeran. Surabaya juga dikenal sebagai kota tempat singgahnya wisatawan mancanegara yang akan berwisata di wilayah Malang Raya, Gunung Bromo, maupun Gunung Ijen.

Alam
-Ekowisata Mangrove Wonorejo
-Pantai Kenjeran

Balai Kota Surabaya Kantor Wali Kota Surabaya

Monumen Jalesveva Jayamahe di Pantai Utara Surabaya.

Jembatan Suramadu pada sore hari.

Sejarah
-Gedung Balai Kota Surabaya
-Gedung Internatio
-Gedung De Javasche Bank
-Pabrik Sirup Telasih
-Jembatan Merah
-Kawasan Kota Tua Surabaya
-Monumen Bambu Runcing
-Monumen Jalesveva Jayamahe
-Monumen Jenderal Soedirman
-Monumen Kapal Selam
-Monumen Mayangkara
-Museum Kedokteran
-Museum Loka Jala Crana
-Museum Nahdlatul ‘Ulama
-Museum Negeri Mpu Tantular
-Museum W. R. Soepratman
-Tugu Pahlawan

Religi
-Gereja Santa Maria Tak Berdosa Surabaya
-Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria
-Gereja Katolik Santo Yakobus Surabaya
-Kelenteng Hong Tiek Hian
-Kelenteng Boen Bio
-Kelenteng Sanggar Agung
-Makam Sunan Ampel
-Masjid Cheng Ho Surabaya
-Masjid Nasional Al Akbar
-Pura Jagad Karana

Taman Harmoni Surabaya

Wisata keluarga
-Ciputra Waterpark
-Jalan Tunjungan
-Kebun Bibit Surabaya
-Kebun Binatang Surabaya
-Pasar Buah Peneleh
-Pasar Bunga Bratang
-Pasar Bunga Kayoon
-Patung Buddha Empat Wajah, di Sukolilo
-Patung Joko Dolog
-Rumah Batik
-Taman Bungkul
-Taman Harmoni
-Taman Remaja Surabaya

Kebudayaan
Kebudayaan Jawa di Surabaya memiliki ciri khas dibandingkan dengan daerah lainnya, yakni karakteristiknya yang lebih egaliter dan terbuka. Surabaya dikenal memiliki beberapa kesenian khas, yaitu:

– Ludruk, adalah seni pertunjukan drama yang menceritakan kehidupan rakyat sehari-hari.
– Tari Remo, adalah tarian selamat datang yang umumnya dipersembahkan untuk tamu istimewa
– Kidungan, adalah pantun yang dilagukan, dan mengandung unsur humor

Ludruk Irama Budaya, salah satu grup kesenian ludruk di Surabaya.

Kartolo CS merupakan grup kesenian ludruk ternama asal Surabaya.

Selain kesenian di atas, budaya panggilan arek atau rek (panggilan khas Surabaya) juga menjadi ciri khas yang unik. Di samping itu, di Surabaya juga dikenal panggilan khas lainnya, yakni Cak untuk laki-laki dan Ning untuk perempuan. Sebagai upaya untuk melestarikan budaya, setiap satu tahun sekali diadakan pemilihan Cak & Ning Surabaya. Cak & Ning Surabaya dan para finalis terpilih merupakan duta wisata dan ikon generasi muda kota Surabaya.

Setiap setahun sekali diadakan Festival Cak Durasim (FCD), yakni sebuah festival seni untuk melestarikan budaya Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Festival Cak Durasim ini biasanya diadakan di Gedung Cak Durasim, Surabaya. Selain itu ada juga Festival Seni Surabaya (FSS) yang mengangkat segala macam bentuk kesenian misalnya teater, tari, musik, seminar sastra, pameran lukisan. Pengisi acara biasanya selain dari kelompok seni di Surabaya juga berasal dari luar Surabaya. Diramaikan pula pemutaran film layar tancap, pameran kaos oblong dan lain sebagainya. Festival Seni Surabaya ini diadakan setiap satu tahun sekali di bulan Juni dan biasanya bertempat di Balai Pemuda.

Selain kebudayaan Jawa, sebagai kota yang mengalami perkembangan pesat, di Surabaya juga terjadi pencampuran beragam kebudayaan dari Madura, Islam, Arab, Tionghoa, dan lain sebagainya.

Kuliner

Masakan
Surabaya memiliki sejumlah masakan khas, di antaranya:
-Lontong Balap

Lontong Balap.

-Tahu Tek

-Krengsengan
-Tempe Penyet-Lontong Mie
-Kupang Lontong
-Rawon

Nasi Rawon

-Tahu Campur
-Sop Kikil
-Sup buntut-Kari Kambing
-Bakwan Surabaya
-Nasi Sayur
-Nasi Goreng Jawa
-Bakso

 

Salad
Surabaya memiliki sejumlah salad tradisional khas, di antaranya:

Rujak Cingur

-Pecel Semanggi

-Rujak Cingur

-Urap
-Gado-gado
-Pecel

Jajanan
Surabaya memiliki sejumlah jajanan khas, di antaranya:
-Roti Perut Ayam
-Getas (ketan putih / hitam yang digoreng lalu diberi taburan gula bubuk)
-Kue Leker
-Kue Lapis Surabaya
-Bikang (Carabika)
-Jongkong
-Onde-onde Surabaya
-Lupis
-Almond Crispy Cheese
-Cakue
-Roti Goreng

Minuman
Surabaya memiliki sejumlah minuman khas, di antaranya:
-Angsle
-Ronde
-Tahwa
-STMJ (Susu Telur Madu Jahe)

Daftar tokoh Surabaya

Pahlawan nasional
– Abdurrahman Baswedan, tokoh BPUPKI dan mantan Wakil Menteri Penerangan Kabinet Sjahrir III
– Bung Tomo, dengan nama asli Soetomo adalah orator yang membangkitkan semangat perjuangan rakyat Surabaya melawan pendudukan tentara Sekutu pada pertempuran November 1945
– H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh pergerakan nasional dan pemimpin organisasi Sarekat Islam
– K.H. Mas Mansoer, mantan pemimpin Muhammadiyah
– M.T. Haryono, pahlawan revolusi
– Roeslan Abdulgani, sejarawan nasional, mantan wartawan, dan mantan Menteri Luar Negeri Kabinet Ali Sastroamidjojo II
– Soekarno, proklamator kemerdekaan dan Presiden Republik Indonesia pertama

Tokoh politik
– Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Kabinet Indonesia Maju, mantan Menteri Perindustrian Kabinet Kerja, dan Ketua Umum Partai Golkar
– Dossy Iskandar, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
– Dwi Soetjipto, Kepala SKK Migas dan mantan Direktur Utama Pertamina
– Hayono Isman, mantan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Kabinet Pembangunan VI
– Ignasius Jonan, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Kabinet Kerja dan mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia
– Indah Kurnia, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
– Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur periode 2019-2024, mantan Menteri Sosial Kabinet Kerja, dan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan Kabinet Persatuan Nasional
– Mar’ie Muhammad, mantan Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VI
– Mohammad Nuh, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Bersatu II
– Try Sutrisno, Wakil Presiden Republik Indonesia keenam

Tokoh agama
– Sunan Ampel
– Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Uskup Surabaya

Tokoh kuliner
– Arnold Poernomo
– Bondan Winarno
– Reynold Poernomo
– Rudy Choirudin
– Sisca Soewitomo
– Yosi Warsa

Ilmuwan
– Hermawan Kartajaya
– J.E. Sahetapy, ahli hukum Indonesia dan mantan Ketua Komisi Hukum Nasional

Seniman
– Kartolo, legenda hidup seniman ludruk Surabaya

Selebriti
– Achmad Albar
– Ahmad Dhani
– Ari Lasso
– Astrid Ellena
– Astrid Sartiasari
– Bob Tutupoly
– Bubi Chen
– Brandon De Angelo
– Didi Petet
– Dwi Sasono
– Franky Sahilatua
– Gisella Anastasia
– Gombloh
– Ita Purnamasari
– Joshua Suherman
– Leo Kristi
– Log Zhelebour
– Maia Estianty
– Mus Mulyadi
– Piyu (grup musik Padi)
– Ratno Timoer
– Romy Rafael
– Sandra Angelia
– Soe Tjen Marching
– Thessa Kaunang
– Verlita Evelyn

Atlet
– Alan Budikusuma
– Evan Dimas
– Gerry Salim
– Lilies Handayani
– Njoo Kim Bie
– Rudy Hartono
– Sony Dwi Kuncoro

Pengusaha
– Alim Markus – Maspion Group
– Boy Johnny Bolang
– Dahlan Iskan – Jawa Pos Group, mantan Direktur Utama PLN, dan mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara Kabinet Indonesia Bersatu II
– Hary Tanoesoedibjo – Bhakti Investama / Global Mediacom
– La Nyalla Mattalitti – Autamaras Group, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia periode 2019-2024, mantan Ketua Umum PSSI, dan mantan Wakil Ketua Umum PSSI
– Putera Sampoerna – Sampoerna Group
– Raam Punjabi – Multivision Plus

Jurnalis
– Andy F. Noya – Metro TV
– Kwee Hing Tjiat – Sin Po
– Marissa Anita – NET.
– Michael Tjandra – RTV
– Imam Suwandi – Metro TV

Daftar Kode Pos Kota Surabaya

1. Kecamatan Asemrowo
– Kelurahan/Desa Asemrowo (Kodepos : 60182)
– Kelurahan/Desa Genting (Kodepos : 60182)
– Kelurahan/Desa Greges (Kodepos : 60183)
– Kelurahan/Desa Kalianak (Kodepos : 60183)
– Kelurahan/Desa Tambak Langon (Kodepos : 60184)

2. Kecamatan Benowo
– Kelurahan/Desa Tambakoso Wilangon (Kodepos : 60191)
– Kelurahan/Desa Romokalisari (Babat Jerawat) (Kodepos : 60192)
– Kelurahan/Desa Klakah Rejo (Kodepos : 60198)
– Kelurahan/Desa Sememi (Kodepos : 60198)
– Kelurahan/Desa Kandangan (Kodepos : 60199)

3. Kecamatan Bubutan
– Kelurahan/Desa Jepara (Kodepos : 60171)
– Kelurahan/Desa Gundih (Kodepos : 60172)
– Kelurahan/Desa Tembok Dukuh (Kodepos : 60173)
– Kelurahan/Desa Alon Alon Contong (Kodepos : 60174)
– Kelurahan/Desa Bubutan (Kodepos : 60174)

4. Kecamatan Bulak
– Kelurahan/Desa Komplek Kenjeran (Kodepos : 60121)
– Kelurahan/Desa Sukolilo (Kodepos : 60122)
– Kelurahan/Desa Kenjeran (Kodepos : 60123)
– Kelurahan/Desa Bulak (Kodepos : 60124)
– Kelurahan/Desa Kedung Cowek (Kodepos : 60125)

5. Kecamatan Dukuh Pakis
– Kelurahan/Desa Gunungsari (Kodepos : 60224)
– Kelurahan/Desa Dukuh Kupang (Kodepos : 60225)
– Kelurahan/Desa Dukuh Pakis (Kodepos : 60225)
– Kelurahan/Desa Pradah Kali Kendal (Kodepos : 60226)

6. Kecamatan Gayungan
– Kelurahan/Desa Ketintang (Kodepos : 60231)
– Kelurahan/Desa Dukuh Menanggal (Kodepos : 60234)
– Kelurahan/Desa Menanggal (Kodepos : 60234)
– Kelurahan/Desa Gayungan (Kodepos : 60235)

7. Kecamatan Genteng
– Kelurahan/Desa Embong Kaliasin (Kodepos : 60271)
– Kelurahan/Desa Ketabang (Kodepos : 60272)
– Kelurahan/Desa Kapasari (Kodepos : 60273)
– Kelurahan/Desa Peneleh (Kodepos : 60274)
– Kelurahan/Desa Genteng (Kodepos : 60275)

8. Kecamatan Gubeng
– Kelurahan/Desa Gubeng (Kodepos : 60281)
– Kelurahan/Desa Kertajaya (Kodepos : 60282)
– Kelurahan/Desa Pucang Sewu (Kodepos : 60283)
– Kelurahan/Desa Baratajaya (Kodepos : 60284)
– Kelurahan/Desa Mojo (Kodepos : 60285)
– Kelurahan/Desa Airlangga (Kodepos : 60286)

9. Kecamatan Gununganyar
– Kelurahan/Desa Rungkut Menanggal (Kodepos : 60293)
– Kelurahan/Desa Rungkut Tengah (Kodepos : 60293)
– Kelurahan/Desa Gunung Anyar (Kodepos : 60294)
– Kelurahan/Desa Gunung Anyar Tambak (Kodepos : 60294)

10. Kecamatan Jambangan
– Kelurahan/Desa Jambangan (Kodepos : 60232)
– Kelurahan/Desa Karah (Kodepos : 60232)
– Kelurahan/Desa Kebonsari (Kodepos : 60233)
– Kelurahan/Desa Pagesangan (Kodepos : 60233)

11. Kecamatan Karangpilang
– Kelurahan/Desa Karangpilang (Kodepos : 60221)
– Kelurahan/Desa Waru Gunung (Kodepos : 60221)
– Kelurahan/Desa Kebraon (Kodepos : 60222)
– Kelurahan/Desa Kedurus (Kodepos : 60223)

12. Kecamatan Kenjeran
– Kelurahan/Desa Tambak Wedi (Kodepos : 60126)
– Kelurahan/Desa Bulak Banteng (Kodepos : 60127)
– Kelurahan/Desa Sidotopo/Sidoropo Wetan (Kodepos : 60128)
– Kelurahan/Desa Tanah Kali Kedinding (Kodepos : 60129)

13. Kecamatan Krembangan
– Kelurahan/Desa Krembangan Selatan (Kodepos : 60175)
– Kelurahan/Desa Kemayoran (Kodepos : 60176)
– Kelurahan/Desa Perak Barat (Kodepos : 60177)
– Kelurahan/Desa Moro Krembangan (Kodepos : 60178)
– Kelurahan/Desa Dupak (Kodepos : 60179)

14. Kecamatan Lakarsantri
– Kelurahan/Desa Lakar Santri (Kodepos : 60211)
– Kelurahan/Desa Jeruk (Kodepos : 60212)
– Kelurahan/Desa Lidah Kulon (Kodepos : 60213)
– Kelurahan/Desa Lidah Wetan (Kodepos : 60213)
– Kelurahan/Desa Bangkingan (Bangkringan) (Kodepos : 60214)
– Kelurahan/Desa Sumur Welut (Kodepos : 60215)

15. Kecamatan Mulyorejo
– Kelurahan/Desa Kalisari (Kodepos : 60112)
– Kelurahan/Desa Kejawen Putih Tambak (Kodepos : 60112)
– Kelurahan/Desa Dukuh Sutorejo (Kodepos : 60113)
– Kelurahan/Desa Kalijudan (Kodepos : 60114)
– Kelurahan/Desa Mulyorejo (Kodepos : 60115)
– Kelurahan/Desa Manyar Sabrangan (Kodepos : 60116)

16. Kecamatan Pabean Cantikan
– Kelurahan/Desa Bongkaran (Kodepos : 60161)
– Kelurahan/Desa Nyamplungan (Kodepos : 60162)
– Kelurahan/Desa Krembangan Utara (Kodepos : 60163)
– Kelurahan/Desa Perak Timur (Kodepos : 60164)
– Kelurahan/Desa Perak Utara (Kodepos : 60165)

17. Kecamatan Pakal
– Kelurahan/Desa Sombe Rejo (Kodepos : 60192)
– Kelurahan/Desa Tambak Dono (Kodepos : 60193)
– Kelurahan/Desa Benowo (Kodepos : 60195)
– Kelurahan/Desa Pakal (Kodepos : 60196)
– Kelurahan/Desa Babat Jerawat (Kodepos : 60197)

18. Kecamatan Rungkut
– Kelurahan/Desa Kali Rungkut (Kodepos : 60293)
– Kelurahan/Desa Rungkut Kidul (Kodepos : 60293)
– Kelurahan/Desa Medokan Ayu (Kodepos : 60295)
– Kelurahan/Desa Wonorejo (Kodepos : 60296)
– Kelurahan/Desa Penjaringan Sari (Kodepos : 60297)
– Kelurahan/Desa Kedung Baruk (Kodepos : 60298)

19. Kecamatan Sambikerep
– Kelurahan/Desa Lontar (Kodepos : 60216)
– Kelurahan/Desa Sambikerep (Kodepos : 60217)
– Kelurahan/Desa Bringin (Kodepos : 60218)
– Kelurahan/Desa Made (Kodepos : 60219)

20. Kecamatan Sawahan
– Kelurahan/Desa Sawahan (Kodepos : 60251)
– Kelurahan/Desa Petemon (Kodepos : 60252)
– Kelurahan/Desa Kupang Krajan (Kodepos : 60253)
– Kelurahan/Desa Banyu Urip (Kodepos : 60254)
– Kelurahan/Desa Putat Jaya (Kodepos : 60255)
– Kelurahan/Desa Pakis (Kodepos : 60256)

21. Kecamatan Semampir
– Kelurahan/Desa Ampel (Kodepos : 60151)
– Kelurahan/Desa Sidotopo (Kodepos : 60152)
– Kelurahan/Desa Pegirian (Kodepos : 60153)
– Kelurahan/Desa Wonokusumo (Kodepos : 60154)
– Kelurahan/Desa Ujung (Kodepos : 60155)

22. Kecamatan Simokerto
– Kelurahan/Desa Kapasan (Kodepos : 60141)
– Kelurahan/Desa Tambakrejo (Kodepos : 60142)
– Kelurahan/Desa Simokerto (Kodepos : 60143)
– Kelurahan/Desa Simolawang (Kodepos : 60144)
– Kelurahan/Desa Sidodadi (Kodepos : 60145)

23. Kecamatan Sukolilo
– Kelurahan/Desa Keputih (Kodepos : 60111)
– Kelurahan/Desa Gebang Putih (Kodepos : 60117)
– Kelurahan/Desa Klampis Ngasem (Kodepos : 60117)
– Kelurahan/Desa Menur Pumpungan (Kodepos : 60118)
– Kelurahan/Desa Nginden Jangkungan (Kodepos : 60118)
– Kelurahan/Desa Medokan Semampir (Kodepos : 60119)
– Kelurahan/Desa Semolowaru (Kodepos : 60119)

24. Kecamatan Sukomanunggal
– Kelurahan/Desa Tanjungsari (Kodepos : 60187)
– Kelurahan/Desa Suko Manunggal (Kodepos : 60188)
– Kelurahan/Desa Putat Gede (Kodepos : 60189)
– Kelurahan/Desa Sonokwijenan (Kodepos : 60189)
– Kelurahan/Desa Simomulyo (Kodepos : 60281)

25. Kecamatan Tambaksari
– Kelurahan/Desa Pacar Keling (Kodepos : 60131)
– Kelurahan/Desa Pacar Kembang (Kodepos : 60132)
– Kelurahan/Desa Ploso (Kodepos : 60133)
– Kelurahan/Desa Gading (Kodepos : 60134)
– Kelurahan/Desa Rangkah (Kodepos : 60135)
– Kelurahan/Desa Tambaksari (Kodepos : 60136)

26. Kecamatan Tandes
– Kelurahan/Desa Buntaran (Kodepos : 60184)
– Kelurahan/Desa Banjar Sugian (Kodepos : 60185)
– Kelurahan/Desa Manukan Kulon (Kodepos : 60185)
– Kelurahan/Desa Manukan Wetan (Kodepos : 60185)
– Kelurahan/Desa Balong Sari (Kodepos : 60186)
– Kelurahan/Desa Bibis (Kodepos : 60186)
– Kelurahan/Desa Gedang Asin (Kodepos : 60186)
– Kelurahan/Desa Karang Poh (Kodepos : 60186)
– Kelurahan/Desa Tandes Kidul (Kodepos : 60187)
– Kelurahan/Desa Tandes Lor (Kodepos : 60187)
– Kelurahan/Desa Gadel (Kodepos : 60188)
– Kelurahan/Desa Tubanan (Kodepos : 60188)

27. Kecamatan Tegalsari
– Kelurahan/Desa Kedungdoro (Kodepos : 60261)
– Kelurahan/Desa Tegalsari (Kodepos : 60262)
– Kelurahan/Desa Wonorejo (Kodepos : 60263)
– Kelurahan/Desa Dr. Sutomo (Kodepos : 60264)
– Kelurahan/Desa Keputran (Kodepos : 60265)

28. Kecamatan Tenggilis Mejoyo
– Kelurahan/Desa Kutisari (Kodepos : 60291)
– Kelurahan/Desa Kendangsari (Kodepos : 60292)
– Kelurahan/Desa Tenggilis Mejoyo (Kodepos : 60292)
– Kelurahan/Desa Panjang Jiwo (Kodepos : 60299)
– Kelurahan/Desa Prapen (Kodepos : 60299)

29. Kecamatan Wiyung
– Kelurahan/Desa Balas Klumprik (Kodepos : 60222)
– Kelurahan/Desa Babatan (Kodepos : 60227)
– Kelurahan/Desa Wiyung (Kodepos : 60228)
– Kelurahan/Desa Jajartunggal (Kodepos : 60229)

30. Kecamatan Wonocolo
– Kelurahan/Desa Siwalankerto (Kodepos : 60236)
– Kelurahan/Desa Jemur Wonosari (Kodepos : 60237)
– Kelurahan/Desa Margorejo (Kodepos : 60238)
– Kelurahan/Desa Bendul Merisi (Kodepos : 60239)
– Kelurahan/Desa Sidosermo (Kodepos : 60239)

31. Kecamatan Wonokromo
– Kelurahan/Desa Darmo (Kodepos : 60241)
– Kelurahan/Desa Sawunggaling (Kodepos : 60242)
– Kelurahan/Desa Wonokromo (Kodepos : 60243)
– Kelurahan/Desa Jagir (Kodepos : 60244)
– Kelurahan/Desa Ngagelrejo (Kodepos : 60245)
– Kelurahan/Desa Ngagel (Kodepos : 60246)

[1] “Kota Surabaya Dalam Angka 2020” (pdf). http://www.surabayakota.bps.go.id.
[2] https://www.bappenas.go.id/files/2713/5227/9312/bag-z-74-75-cek__20090130070903__25.doc
[3] https://books.google.co.id/books?id=MMaqCLchf9UC&pg=PT114&lpg=PT114#v=onepage&q&f=false
[4] M. C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia since c. 1200, 2008

Source :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Surabaya
https://listkodepos.com/daftar-lengkap-kode-pos-kota-surabaya/

Materi Kuliah: Pragmatics

November 23, 2011 at 9:43 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

By: Koesnandar, S.Kom (0923385P1 – STKIP PGRI Sidoarjo)

What is pragmatics?

“Pragmatics studies the factors that govern our choice of language in social interaction and the effects of our choice on others.” (David Crystal)

Pragmatics is a systematic way of explaining language use in context. It seeks to explain aspects of meaning which cannot be found in the plain sense of words or structures, as explained by semantics.

Context is a dynamic…concept…as the continually changing surrounding…that enable the participants in the communication process to interact, and in which the linguistic expressions of their interaction become intelligible.

The key word “dynamic” reminds us that context is changeable according to different circumstances. Only in certain context can our language become pragmatic meaningful and allow our utterance “to be counted as true pragmatic acts”.

Speech acts

Speech act theory broadly explains these utterances as having three parts or aspects: locutionary, illocutionary and perlocutionary acts.

* Locutionary acts are simply the speech acts that have taken place.
* Illocutionary acts are the real actions which are performed by the utterance, where saying equals doing, as in betting, plighting one’s troth, welcoming and warning.
* Perlocutionary acts are the effects of the utterance on the listener, who accepts the bet or pledge of marriage, is welcomed or warned.

Some linguists have attempted to classify illocutionary acts into a number of categories or types. David Crystal, quoting J.R. Searle, gives five such categories: representatives, directives, commissives, expressives and declarations. (Perhaps he would have preferred declaratives, but this term was already taken as a description of a kind of sentence that expresses a statement.)

* Representatives: here the speaker asserts a proposition to be true, using such verbs as: affirm, believe, conclude, deny, report.
* Directives: here the speaker tries to make the hearer do something, with such words as: ask, beg, challenge, command, dare, invite, insist, request.
* Commissives: here the speaker commits himself (or herself) to a (future) course of action, with verbs such as: guarantee, pledge, promise, swear, vow, undertake, warrant.
* Expressives: the speaker expresses an attitude to or about a state of affairs, using such verbs as: apologize, appreciate, congratulate, deplore, detest, regret, thank, welcome.
* Declarations the speaker alters the external status or condition of an object or situation, solely by making the utterance: I now pronounce you man and wife, I sentence you to be hanged by the neck until you be dead, I name this ship

Conversational maxims and the cooperative principle

The success of a conversation depends upon the various speakers’ approach to the interaction. The way in which people try to make conversations work is sometimes called the cooperative principle. We can understand it partly by noting those people who are exceptions to the rule, and are not capable of making the conversation work. We may also, sometimes, find it useful deliberately to infringe or disregard it – as when we receive an unwelcome call from a telephone salesperson, or where we are being interviewed by a police officer on suspicion of some terrible crime.

Paul Grice proposes that in ordinary conversation, speakers and hearers share a cooperative principle. Speakers shape their utterances to be understood by hearers. The principle can be explained by four underlying rules or maxims. (David Crystal calls them conversational maxims. They are also sometimes named Grice’s or Gricean maxims.)

They are the maxims of quality, quantity, relevance and manner.

* Quality: speakers should be truthful. They should not say what they think is false, or make statements for which they have no evidence.
* Quantity: a contribution should be as informative as is required for the conversation to proceed. It should be neither too little, nor too much. (It is not clear how one can decide what quantity of information satisfies the maxim in a given case.)
* Relevance: speakers’ contributions should relate clearly to the purpose of the exchange.
* Manner: speakers’ contributions should be perspicuous: clear, orderly and brief, avoiding obscurity and ambiguity.

What is an implicature?

An implicature is anything that is inferred from an utterance but that is not a condition for the truth of the utterance.

Example :
The expression Some of the boys were at the party implicates in most contexts Not all of the boys were at the party.

Conversational implicature

Paul Grice identified three types of general conversational implicature:

1. The speaker deliberately flouts a conversational maxim to convey an additional meaning not expressed literally. For instance, a speaker responds to the question “How did you like the guest speaker?” with the following utterance:

Well, I’m sure he was speaking English.

If the speaker is assumed to be following the cooperative principle, in spite of flouting the Maxim of Quantity, then the utterance must have an additional nonliteral meaning, such as: “The content of the speaker’s speech was confusing.”

2. The speaker’s desire to fulfill two conflicting maxims results in his or her flouting one maxim to invoke the other. For instance, a speaker responds to the question “Where is John?” with the following utterance:

He’s either in the cafeteria or in his office.

In this case, the Maxim of Quantity and the Maxim of Quality are in conflict. A cooperative speaker does not want to be ambiguous but also does not want to give false information by giving a specific answer in spite of his uncertainty. By flouting the Maxim of Quantity, the speaker invokes the Maxim of Quality, leading to the implicature that the speaker does not have the evidence to give a specific location where he believes John is.

3. The speaker invokes a maxim as a basis for interpreting the utterance. In the following exchange:

Do you know where I can get some gas?
There’s a gas station around the corner.

The second speaker invokes the Maxim of Relevance, resulting in the implicature that “the gas station is open and one can probably get gas there”

Scalar implicature

According to Grice (1975), another form of conversational implicature is also known as a scalar implicature. This concerns the conventional uses of words like “all” or “some” in conversation.

I ate some of the pie.

This sentence implies “I did not eat all of the pie.” While the statement “I ate some pie” is still true if the entire pie was eaten, the conventional meaning of the word “some” and the implicature generated by the statement is “not all”.

Conventional implicature

Conventional implicature is independent of the cooperative principle and its maxims. A statement always carries its conventional implicature.

Joe is poor but happy.

This sentence implies poverty and happiness are not compatible but in spite of this Joe is still happy. The conventional interpretation of the word “but” will always create the implicature of a sense of contrast. So Joe is poor but happy will always necessarily imply “Surprisingly Joe is happy in spite of being poor”.

Reference and Anaphora

1 Definition of Reference:
The relationship between a word and the things, actions, events and qualities they stand for.
Reference: (1) direct reference—-proper reference—-proper noun
(2) Indirect reference—-regular nouns
For regular nouns, they have a certain indefiniteness in their naming, so
They need an indexical expression to refer to a particular name.

2 Indexical and deictic
(1) Index:
Is use to denote the body part which serves as the human pointer.
Indexical expressions: are particular kinds of referential expression.
Are pragmatically determined, that is they depend for their reference on the persons who use them.
(2) Deictic: the adjective to deixis.
The act of point.
Is use to indicate the function that the certain words have in the language which is always bound up with the tine and place of the utterance, seen in relation to the speaker.

3 Deixis and Anaphora
(1) Anaphora: the referent comes before the pronoun the pure functions of the referring to earlier mentions of the noun that the definite article in question identifier. This referring function is called anaphora.
(2) Contrast to anaphora, there is cataphora—-the referent occurs in later in the text
(3) Pragmatic approach to anaphora concerns not only the antecedent, but also the whole situation.

Anaphora

1. The deliberate repetition of a word or phrase at the beginning of several successive verses, clauses, or paragraphs; for example, “We shall fight on the beaches, we shall fight on the landing grounds, we shall fight in the fields and in the streets, we shall fight in the hills” (Winston S. Churchill).
2. Linguistics The use of a linguistic unit, such as a pronoun, to refer back to another unit, as the use of her to refer to Anne in the sentence Anne asked Edward to pass her the salt.

Most proper nouns (for example, Fred, New York, Mars, Coca Cola) begin with a capital letter. Proper nouns are not usually preceded by articles or other determiners. Most proper nouns are singular.

An indexical expression (such as today, that, here, utterance, and you) is a word or phrase that is associated with different meanings (or referents) on different occasions.

Deictic is a word (such as this, that, these, those, now, then) that points to the time, place, or situation in which the speaker is speaking. Also known as deixis.

“The term deixis applies to the use of expressions in which the meaning can be traced directly to features of the act of utterance–when and where it takes place, and who is involved as speaker and as addressee. In their primary meaning, for example, now and here are used deictically to refer respectively to the time and place of the utterance. Similarly, this country is likely to be interpreted deictically as the country in which the utterance takes place.

Materi Kuliah : Ilmu Alamiah Dasar (Bab. 3)

November 20, 2011 at 3:22 pm | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Copied from : Nelly Wedyawati, S.Si (STKIP MELAWI)
Pasted by : Koesnandar, S.Kom (STKIP PGRI Sidoarjo)

BAB 3. ALAM SEMESTA DAN TATA SURYA

A. Alam Semesta
Jika kita berada di suatu tempat yang tinggi di luar kota, jauh dari sinar gemerlapan kota dan pada saat itu tidak ada bulan dan langit bebas dari awan, maka akan tampak bintang-bintang. Jika kita menggunakan teropong binokular atau teleskop, jumlah bintang yang kita lihat semakin banyak. Pengamatan lebih lanjut yang dilakukan oleh para ahli Astronomi dengan menggunakan alat-alat atau instrumen mutakhir menunjukkan bahwa di alam semesta terdapat bintang-bintang yang beredar mengikuti suatu pusat yang berupa suatu kabut gas pijar yang sangat besar, dikelilingi oleh kelompok-kelompok bintang yang sangat dekat satu sama lain (cluster) dan juga dikelilingi oleh gumpalan-gumpalan kabut gas pijar yang lebih kecil dari pusatnya (nebula) dan tebaran ribuan bintang. Keseluruhan itu termasuk Matahari kita, yang selanjutnya disebut galaksi. Galaksi itu ternyata tidak satu, tetapi beribu-ribu jumlahnya. Galaksi dimana Bumi kita berinduk diberi nama Milky Way atau Bhima Sakti.

Galaksi merupakan kumpulan bintang-bintang yang jumlahnya 10″ atau 100 miliar, dan salah satu di antaranya adalah Matahari. Matahari merupakan pusat tata surya kita. Kumpulan bintang-bintang di dalam galaksi bentuknya menyerupai lensa.

B. Susunan Tata Surya
Telah disebutkan bahwa matahari adalah salah satu dari 100 milyar bintang di dalam Galaksi. Matahari sebagai pusat tata surya berada pada jarak 30 tahun cahaya dari pusat Bhima Sakti. Pada zaman Yunani kuno, seorang ahli filsafat bernama Clausius Ptolomeus mengemukakan pendapatnya bahwa Bumi adalah pusat dari alam semesta. Menurut pandangan ini, matahari, bulan, dan planet-planet beredar mengelilingi bumi yang tetap diam sebagai pusatnya. Pandangan Geosentris ini selama 14 abad lamanya dianut orang. Pada waktu itu, pengamatan secara kasar orang-orang Yunani telah dapat mengenal 5 planet, yaitu Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, dan Saturnus.
Merkurius dan Venus disebut planet dalam, sedangkan Mars, Yupiter, dan Saturnus yang berada di luar garis edar Matahari disebut planet luar. Pada abad ke-16, seorang ilmuwan Polandia bernama Nikolas Kopernikus berhasil mengubah pandangan salah yang telah dianut berabad-abad lamanya. Menurut Kopernikus, Bumi adalah Planet, dan seperti halnya dengan planet yang lain, beredar

Disamping planet dan satelit, benda angkasa lain yang juga beredar mengelilingi Matahari adalah komet-komet, meteor-meteor, debu, dan gas antar planet. Suatu sistem dimana benda-benda langit beredar mengelilingi Matahari sebagai pusat disebut sistem tata surya.
Peredaran planet mengelilingi Matahari disebut gerak revolusi. Disamping itu, planet-planet beredar mengelilingi sumbunya yang disebut rotasi. Adanya gerak rotasi pada bumi dan planet menyebabkan timbulnya peredaran siang dan malam pada bumi dan planet-planet.
Dilihat dari selatan, gerak revolusi maupun gerak rotasi planet-planet berlawanan arah jarum jam, atau dari Timur ke Barat, ada beberapa yang searah jarum jam. Waktu untuk satu putaran revolusi disebut kala revolusi, sedang waktu satu putaran rotasi disebut kala rotasi. Untuk bumi, kala revolusinya adalah 1 tahun (365 1/4 hari), sedangkan kala rotasinya 1 hari (24 jam).

Berikut ini beberapa kesimpulan secara kualitatif yang dapat diperoleh :
Matahari merupakan anggota tata surya yang paling besar.
Yupiter merupakan planet yang terbesar, sedangkan Merkurius merupakan planet terkecil (di luar Asteroida).
Pluto mempunyai massa jenis paling besar dibandingkan planet yang lain. Saturnus mempunyai massa jenis paling kecil, dan lebih kecil dari massa jenis air sehingsa Saturnus akan terapung di dalam air.
Semakin jauh planet dari Matahari, semakin besar kala revolusinya.
Sepintas lalu, tidak ada kaitan antara kala rotasi planet dengan massa, garis tengah, massa jenis dan jaraknya terhadap Matahari.

C. Bagian-Bagian Tata Surya
Tata surya terdiri dari Matahari sebagai pusat dan benda-benda lain seperti planet, satelit, meteor-meteor, komet-komet, debu, dan gas antarplanet beredar mengelilinginya. Keseluruhan sistem ini bergerak mengelilingi pusat galaksi:
1. Matahari
Matahari merupakan anggota tata surya yang paling besar. Pada tata surya kita di mana 98% massa tata surya terkumpul pada Matahari. Disamping sebagai pusat peredaran, Matahari juga merupakan pusat sumber tenaga di lingkungan tata surya. Matahari terdiri dari inti dan tiga lapisan kulit, masing-masing fotosfer, chromosfer, dan corona. Pada pusat Matahari, suhunya mencapai jutaan derajat Celcius dan tekanannya ratusan juta atmosfer.
Kulit fotosfer suhunya ± 6000° C dan memancarkan hampir semua cahaya.
Menurut J.R. Meyer, panas Matahari berasal dari batu meteor yang berjatuhan dengan kecepatan tinggi pada permukaan Matahari. Sedangkan menurut teori kontraksi H. Helmholz, panas itu berasal dari menyusutnya bola gas.
Matahari sangat penting bagi kehidupan di muka bumi karena:
Merupakan sumber energi (sinar panas). Energi yang terkandung dalam batubara dan minyak bumi sebenarnya juga berasal dari matahari.
Mengontrol stabilitas peredaran bumi yang juga berarti mengontrol terjadinya siang dan malam, bulan, tahun, serta peredaran planet lain. Dengan mempelajari matahari yang merupakan bintang yang terdekat, berarti mempelajari bintang-bintang lain.

2. Planet Merkurius
Merkurius merupakan planet terkecil dan terdekat dengan Matahari. Merkurius tidak mempunyai satelit atau bulan dan tidak mempunyai hawa. Planet ini mengandung albedo, yaitu perbandingan antara cahaya yang dipantulkan dengan yang diterima dari Matahari sebesar 0,07. Ini berarti 0,93 atau 93% cahaya yang berasal dari Matahari diserap. Garis tengahnya 4.500 km, lebih besar daripada garis tengah bulan yang hanya 3.160 km. Karena letaknya yang begitu dekat dengan Matahari, maka bagian yang menghadap matahari sangat panas. Sebaliknya, yang tidak menghadap Matahari menjadi dingin sekali (karena tidak ada air maupun udara). Diperkirakan tidak ada kehidupan sama sekali di Merkurius. Merkurius mengadakan rotasi dalam waktu 58,6 hari. Ini berarti panjang siang harinya 28 hari lebih demikian juga malam harinya. Merkurius mengelilingi Matahari dalam waktu 88 hari.

3. Planet Venus
Planet ini lebih kecil dari Bumi, mempunyai albedo 0,8 atau 20 rc cahaya Matahari yang datang diserap. Planet ini diliputi awan tebal (atmosfer) yang mungkin terjadi dari karbon dioksida, tetapi tidak mengandung uap air dan oksigen. Planet ini tidak mempunyai satelit.
Venus menempati urutan kedua terdekat dengan Matahari. Planet ini terkenal dengan Bintang Kejora yang bersinar terang pada waktu sore atau pagi hari. Besarnya hampir sama dengan Bumi, yakni bergaris tengah 12.320 km, sedangkan Bumi bergaris tengah 12.640 km. Rotasi Venus ± 247 hari. dan berevolusi (mengelilingi Matahari) selama 225 hari, artinya 1 tahun Venus adalah 225 hari.

4. Bumi
Bumi menempati urutan ketiga terdekat dengan Matahari. Ukuran besarnya hampir sama dengan Venus dan bergaris tengah 12.640 km. Jarak antara Bumi dengan Matahari adalah 149 juta km. Jarak ini sering diubah menjadi satuan jarak Astronomis atau Astronomical Unit (AU). Jadi 1 AU = 140 juta km. Bumi mengadakan rotasi 24 jam, berarti hari bumi = 24 jam.
Satu hari Venus = 247 hari bumi atau 247 x 24 jam bumi.
Bumi mempunyai atmosfer dan mempunyai sebuah satelit, yaitu Bulan. Bumi mengadakan revolusi selama 365 1/4 hari. Sekali memutar keliling Matahari disebut juga 1 tahun. Bandingkan 1 tahun Merkurius = 88 hari, sedangkan 1 tahun Mars lamanya 1,9 tahun Bumi. Massa jenis Bumi rata-rata ± 5,52.

a. Gerak Rotasi Bumi
Gerak Bumi berputar pada porosnya disebut rotasi dari bumi. Arah rotasi bumi sama dengan arah revolusinya, yakni dari Barat ke Timur. Inilah sebabnya mengapa matahari terbit lebih dulu di Irian Jaya daripada di Jawa. Satu kali rotasi Bumi menjalani 360° yang ditempuh selama 24 jam. Jadi, setiap derajat ditempuh dalam 4 menit. Rotasi Bumi ini tidak dapat kita saksikan. Gerak dari Timur ke Barat Matahari serta benda-benda langit lainnya disebut gerak semu harian Matahari. Tempat-tempat yang terletak pada garis bujur yang sama, maka sama pula waktunya.

b. Akibat Rotasi Bumi
Gerak semu harian dari Matahari, yang seakan-akan Matahari, bulan, bintang-bintang, dan benda-benda langit lainnya terbit di Timur dan terbenam di Barat. Pergantian siang dan malam dimana separuh dari bola bumi menerima sinar Matahari (siang), sedangkan separuh bola lainnya mengalami kegelapan (malam). Batas siang dan malam ini merupakan sebuah lingkaran di sekeliling bumi.
Penyerangan atau penyimpangan arah angin, arus laut, yang dapat diterangkan dengan hukum Buys Ballot. Arus-arus hawa (angin) tidak bergerak lurus dari daerah maksimum ke daerah minimum, tetapi membias ke kanan bagi belah bulatan Utara dan membias ke kiri bagi belah bulatan Selatan. Hukum ini tidak hanya berlaku bagi arus hawa, tetapi juga bagi arus air laut dan arus air sungai.
Penggelembungan di Khatulistiwa serta Pemepatan di kedua kutub Bumi.
Timbulnya gaya sentrifugal yang menyebabkan pemepatan Bumi tersebut serta pengurangan saya tarik hingga arah vertikal (unting-unting) tidak tepat menuju ke titik pusat Bumi, kecuali di khatulistiwa dan di Kutub. Adanya dua kali air pasang naik dan pasang surut dalam sehari semalam. Perbedaan waktu antara tempat-tempat yang berbeda derajat busurnya.

c. Gerak Revolusi dari Bumi
Berkat penyelidikan tiga sarjana, yaitu Galileo Galilei, Tycho Brahe, dan Keppler maka susunan alam secara Heliosentris dari Kopernikus diakui keunggulannya. Dalam susunan ini,maka bumi berevolusi mengelilingi Matahari. Bumi beredar mengelilingi matahari dalam satu kali revolusi selama waktu satu tahun.
Selama mengedari matahari ternyata sumbu bumi miring dengan arah yang sama terhadap bidang ekliptika. Kemiringan sumbu bumi ini besarnya 23 1/2° terhadap bidang ekliptika tersebut. Akibat dari revolusi bumi ialah: Pergantian empat musim, yakni di sebelah Utara garis balik Utara (23 1/2 LU). Perubahan lamanya siang dan malam.
Terlihatnya rasi (konstelasi) bintang yang beredar dari bulan ke bulan.

d. Gaya Gravitasi Terrestrial dari Bumi
Bumi kita ini mempunyai gaya gerak atau gaya berat. Gaya tarik bumi ini dinamakan gaya gravitasi terrestrial Bumi. Benda di Bumi ini memiliki bobot karena pengaruh gaya gravitasi tersebut.

e. Waktu
Kita telah mengenal waktu satu hari satu malam yang lamanya 24 jam. Waktu 24 jam ini adalah sehari semalam solar (Matahari) berdasarkan gerak semu Matahari dalam membuat satu revolusi lengkap. Sehari semalam sederal atau sideris adalah waktu bintang berdasarkan merembangnya titik Aries antara buta huruf mengenal mangsa-mangsa itu dengan melihat kedudukan rasi Waluku atau lintang Waluku (Orion). Berikut ini akan kita berikan pelbagai hari pekan di Jawa. Perhitungan waktu dengan lain satuan ukuran yang dipakai di Jawa ialah sebagai berikut:

Satu pekan dari lima hari pasaran. Pasaran-pasaran ini adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Satu pekan dari enam Peringkelan dipakai dalam perhitungan mencari hari baik atau jelek. Keenam peringkelan itu ialah Tungle, Haryang, Warukung, Paningrim, Was, dan Mawulu.

Satu pekan dari 7 hari mingguan, yakni Senin, Selasa, Rabu dan seterusnya. Nama hari Mingguan ini berasal dari bahasa Arab dan berarti hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Pekan dari 7 hari adalah pekan yang umum, dipakai di seluruh dunia.

Satu pekan dari 210 hari adalah jumlah gabungan hari-hari mingguan (7). peringkelan (6), dan pasaran (5), terdiri dari 30 wuku. Wuku-wuku itu antara lain: Sinta, Landep, Wukir, Kurantil, Tuli, Gumbreg, Wariga, dan sebagainya. Misalnya, pada setiap wuku Landep dikenal susunan hari-hari: Mawulu, Pon Wrespati dan sebagainya.

Satu pekan dari 8 tahun yang disebut windu terdiri dari Alip, Ehe, Jimawal, Je, dai, Be, Wawu, dan Jimakir.

Satu pekan dari 100 tahun disebut abad.

f. Tahun Penanggalan (Kalender)
Bangsa Mesir kuno, Sumeria, dan bangsa Hindu sejak zaman dahulu memiliki perhitungan waktu. Waktu ini berdasarkan revolusi bumi dan tahunnya disebut tahun Matahari. Semenjak Julius Caesar (46 BC) telah ditetapkan bahwa setiap tahun terdiri dari 365 hari.

5. Planet Mars
Planet ini berwarna kemerah-merahan yang diduga tanahnya mengandung banyak besi oksigen, sehingga kalau oksigen masih ada, jumlahnya sangat sedikit. Pada permukaan planet ini, didapatkan warna-warna hijau, biru, dan sawo matang yang selalu berubah sepanjang masa tahun. Diperkirakan perubahan warna tersebut sebagai perubahan musim dan memungkinkan adanya lumut dan tumbuhan tingkat rendah yang lain. Penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa Planet Mars terdapat uap air, meskipun dalam jumlah yang sangat kecil.
Namun, para ahli lebih cenderung berpendapat perubahan warna permukaan planet disebabkan oleh angin pasir dan bukannya organisme. Mars mempunyai dua satelit atau bulan yaitu phobus dan daimus.
Jarak planet mars dengan Matahari ialah 226,48 juta km. Garis tengah adalah 6272 km dan revolusinya 1,9 tahun; rotasinya 24 jam 37 menit. Berdasar data yang dikirim oleh satelit Mariner IV, di Mars tidak ada oksigen, hampir tidak ada air, sedangkan kutub es yang diperkirakan mengandung banyak air itu tak lebih merupakan lapisan salju yang sangat tipis. Oleh karena itu, kutub yang berwarna putih itu sering lenyap.

6. Planet Yupiter
Yupiter merupakan planet terbesar. Berdasarkan analisis spektroskopis, planet ini mengandung gas metana dan amoniak yang banyak serta mengandung gas hidrogen, albedonya 0,44. Yupiter mempunyai kurang lebih 14 satelit atau bulan. Planet Yupiter bergaris tengah 138.560 km, rotasinya cepat yaitu 10 jam (bandingkan dengan bumi yang berotasi 24 jam). Yupiter tampak sebagai “bintang” yang terang muncul pada tengah malam.

7. Planet Saturnus
Saturnus mempunyai massa jenis yang sangat lebih kecil dari air yaitu 0,75 g/cm3 sehingga akan terapung di air. Ternyata, planet ini berupa gas yang terdiri dari metana dan amoniak dengan suhu rata-rata 103°C. Saturnus mempunyai 10 satelit dan diantaranya yang terbesar disebut Titan (besarnya 2 kali besar bulan bumi), yang lain disebut Phoebe yang bergerak berlawanan arah dengan 9 satelit lainnya, yang menunjukkan bahwa phoebe bukan “anak kandungnya”. Planet Saturnus merupakan planet terbesar kedua setelah Yupiter. Planet ini bergaris tengah 118.400 km, berotasi cepat yaitu 10 jam. Planet ini merupakan planet yang mempunyai cincin sabuk raksasa.
Keanehan Phoebe dan sabuk raksasa itu memperkuat teori Tidal. Kecuali itu, sabuk Saturnus itu mengembang dan merapat pada permukaan planet 15 tahun sekali.

8. Planet Uranus
Uranus memiliki 5 satelit. Berbeda dengan planet yang lain, arah gerak rotasi Uranus dari Timur ke Barat. Jarak ke Matahari adalah 2.860 juta km dan mengelilingi Matahari dalam waktu 84 tahun. Rotasinya 10 jam 47 detik. Planet ini diketemukan oleh Herschel dan keluarganya dengan tidak sengaja pada tahun 1781 ketika mereka mengamati Saturnus. Besar uranus kurang dari setengah Saturnus, bergaris tengah 50.560 km. Berdasar pengamatan pesawat VOYAGER pada bulan Januari 1986, Uranus memiliki 14 buah satelit.

9. Planet Neptunus
Neptunus mempunyai dua satelit, satu di antaranya disebut Triton. Satelit Triton beredar berlawanan arah dengan gerak rotasi Neptunus. Jarak ke Matahari 4.470 juta km, mengelilingi Matahari dalam 165 tahun sekali seputar. Planet diketemukan pada tahun 1846 ketika para astronom sedang mengamati planet Uranus yang agak menyimpang orbitnya. Berdasarkan hipotesis para astronom, penyimpangan tersebut pasti ada yang mempengaruhi dan itu ternyata benar.

10. Planet Pluto
Pluto merupakan planet terjauh dari matahari, planet ini baru diketahui pada tahun 1930. Pluto disebut juga sebagai Trans-neptunus karena ada dugaan planet ini merupakan bagian satelit Neptunus yang terlepas. Suhu rata-rata pada planet ini adalah 2.200°C. Pluto adalah nama Dewa Kegelapan dari bangsa Yunani dan pemberian nama itu berdasarkan planet yang mendapat sinar matahari paling sedikit.

D. Benda-benda Lain dalam Tata Surya
Pada tata surya, kecuali terdapat planet-planet yang telah disebutkan di muka, terdapat pula benda-benda lain berikut ini.
1. Planetoida atau Asteroida
Pada tahun 1801, Piazzi, seorang astronom bangsa Italia melalui observasinya dengan teleskop menemukan benda langit yang berdiameter± 900 km (Bulan berdiameter 3.000 km) beredar mengelilingi Matahari. Dalam beberapa tahun kemudian ternyata ditemukan pula beberapa benda semacam itu. Benda-benda itu mengorbit mengelilingi Matahari pada jarak antara Mars dan Yupiter. Pada saat ini, benda semacam itu telah diketahui sebanyak + 2000 buah, berbentuk bulat dan kecil. Yang terbesar bernama Ceres dengan diameter 750 km. Benda-benda langit itu disebut planetoida atau “bukan planet”, untuk membedakannya dengan planet utama yang telah diterangkan.

2. Komet atau Bintang Berekor
Meskipun komet disebut sebagai bintang berekor, tetapi komet bukan tergolong bintang alam dalam arti yang sebenarnya. Komet merupakan anggota tata surya, yang beredar mengelilingi Matahari dan menerima energinya dari Matahari.

3. Meteor atau Bintang Beralih
Meteor bukan tergolong bintang karena meteor merupakan anggota tata surya. Meteor berupa batu-batu kecil yang berdiameter antara 0,2 sampai 0,5 mm dan massanya tidak lebih dari 1 gram. Meteor ini semacam debu angkasa yang bergerak dengan kecepatan rata-rata 60 km/detik atau 60 x 60 x 60 km per jam.

4. Satelit
Satelit merupakan pengiring planet. Satelit beredar mengelilingi planet, dan bersama-sama beredar mengelilingi Matahari. Peredaran satelit mengelilingi planet disebut gerak revolusi satelit. Disamping itu, satelit juga melakukan gerak rotasi, yaitu beredar mengelilingi sumbunya sendiri. Pada umumnya, arah rotasi dan revolusi satelit sama dengan arah rotasi dan revolusi planetnya, yaitu dari Barat ke Timur, kecuali satelit dari planet Neptunus. Planet yang telah diketahui tidak mempunyai satelit adalah Merkurius, Venus, dan mungkin juga Pluto.

E. Asal Usul Tata Surya
Tentang teori asal tata surya ini banyak dikemukakan orang, tetapi belum ada satu pun yang dapat diterima oleh semua pihak.
Berikut ini di antara teori-teori tersebut.
1. Teori Tidal atau Teori Pasang Surut
Teori ini dikemukakan oleh James H. Jeans dan Harold Jef-fres pada tahun 1919. Menurut teori ini, ratusan juta tahun yang lalu sebuah bintang bergerak mendekati Matahari dan kemudian menghilang. Pada saat itu, sebagian Matahari tertarik dan lepas. Dari bagian Matahari yang lepas inilah kemudian terbentuk planet-planet.

2. Teori Bintang Kembar
Menurut teori ini, kemungkinan dahulu matahari merupakan sepasang bintang kembar. Oleh sesuatu sebab, salah satu bintang meledak dan oleh gaya tarik gravitasi bintang yang satunya (Matahari yang sekarang), pecahan tersebut tetap berada di sekitar dan beredar mengelilinginya.

3. Teori Nebular
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Kant dan Laplace pada tahun 1796. Menurut teori ini, mula-mula ada kabut gas dan debu atau nebule. Kabut gas ini sebagian besar terdiri dari hidrogen dan sedikit Helium. Nebule ini mengisi seluruh ruang alam semesta. Karena proses pendinginan, kabut gas tersebut menyusut dan mulai berpusing. Proses ini mula-mula lambat, kemudian semakin cepat dan bentuknya berubah dari bulat bola menjadi semacam cakram.

4. Teori Big Bang
Teori ini dikembangkan oleh George Lemaitre. Menurut teori ini, pada mulanya alam semesta berupa sebuah “primeval atom” yang berisi semua materi dalam keadaan yang sangat padat. Suatu ketika, atom ini meledak dan seluruh materinya terlempar ke ruang alam semesta. Sejak itu, dimulailah ekspansi yang berlangsung ribuan juta tahun dan akan terus berlangsung jutaan tahun lagi. Timbul dua gaya saling bertentangan, yang satu disebut gaya gravitasi, dan lainnya dinamakan repulsi kosmis. Dari kedua gaya tersebut, gaya kosmis lebih dominan sehingga alam semesta masih terus akan ekspansi. Pada suatu saat nanti, ekspansi tersebut pasti berakhir.

5. Teori-Creatio Continua
Teori ini dikemukakan oleh Fred Hoyle, Bendi, dan Gold. Menurut teori creatio continua atau continuous creation, saat diciptakan, alam semesta ini tidak ada. Alam semesta ini selamanya ada dan akan tetap ada, atau dengan kata lain alam semesta ini tidak pernah bermula dan tidak akan berakhir. Pada setiap saat, ada partikel yang dilahirkan dan ada yang lenyap. Partikel-partikel tersebut kemudian mengembun menjadi kabut-kabut spiral dengan bintang-bintang dan jasad-jasad alam semesta. Karena partikel yang dilahirkan lebih besar daripada yang lenyap, maka jumlah materi semakin bertambah dan mengakibatkan pemuaian alam semesta.

6. Teori G.P. Kuiper
Pada tahun 1950, G.P. Kuiper mengajukan teori berdasarkan keadaan yang ditemui di luar tata surya dan menyuarakan penyempurnaan atas teori-teori yang telah dikemukakan yang mengandaikan bahwa Matahari serta semua planet berasal dari gas purba yang ada di ruang angkasa. Pada saat ini, terdapat banyak kabut gas dan di antara kabut terlihat dalam proses melahirkan bintang.

F. Bumi
Di muka telah dibahas sedikit tentang Bumi sebagai salah satu planet, maka sekarang akan dibahas lebih terinci, sehubungan sebagai tempat makhluk lain dan kita hidup.

Kelahiran Bumi
Asal-usul bumi, seperti asal-usul planet lain, telah dikemukakan di muka. Kapan bumi lahir, maka untuk menghitungnya banyak dikemukakan teori yang antara lain adalah berikut ini.
a. Teori Sedimen
Pengukuran usia Bumi didasarkan atas perhitungan tebal lapisan sedimen yang membentuk batuan. Dengan mengetahui ketebalan lapisan sedimen rata-rata yang terbentuk setiap tahunnya dengan memperbandingkan tebal batuan sedimen yang terdapat di Bumi sekarang ini, maka dapat dihitung umur lapisan tertua kerak Bumi. Berdasar perhitungan macam ini diperkirakan Bumi terbentuk 500 juta tahun yang lalu.

b. Teori Kadar Garam
Pengukuran usia Bumi berdasarkan perhitungan kadar garam di laut. Diduga bahwa mula-mula laut itu berair tawar. Dengan adanya sirkulasi air dalam alam ini, maka air yang mengalir dari darat melalui sungai ke laut membawa garam-garam. Keadaan semacam itu berlangsung terus-menerus sepanjang abad. Dengan mengetahui kenaikan kadar garam setiap tahun, yang dibandingkan dengan kadar garam pada saat ini, yaitu kurang lebih 320, maka dihasilkan perhitungan bahwa bumi telah terbentuk 1.000 juta tahun yang lalu.

c. Teori Termal
Pengukuran usia Bumi berdasarkan perhitungan suhu Bumi. Diduga bahwa Bumi mula-mula merupakan batuan yang sangat panas yang lama-kelamaan mendingin. Dengan mengetahui massa dan suhu Bumi saat ini, maka ahli fisika bangsa Inggris yang bernama Elfin memperkirakan bahwa perubahan bumi menjadi batuan yang dingin seperti saat ini dari batuan yang sangat panas pada permulaannya memerlukan waktu 20.000 juta tahun.

d. Teori Radioaktivitas
Pengukuran usia bumi yang dianggap paling benar ialah berdasarkan waktu peluruhan unsur-unsur radioaktif. Dalam perhitungan ini, diperlukan pengetahuan tentang waktu paroh unsur-unsur radioaktif. Waktu paroh adalah waktu yang dibutuhkan unsur radioaktif untuk luruh atau mengurai sehingga massanya tinggal separoh.
Dengan mengetahui perbandingan kadar unsur radioaktif dengan unsur hasil peluruhan dalam suatu batuan dapat dihitung umur batuan tersebut. Misalnya, 1 gram U238 mempunyai waktu paroh 4,5 x 109 tahun, meluruh menjadi 0,5 gram U235 + 0,0064 gram He dan 0.436 gram Pb206. Bila dalam suatu batuan terdapat perbandingan berat antara U238 dan Pb206, seperti contoh tersebut, maka umur batuan sama dengan paroh U238, yaitu 4500 juta tahun.
Berdasarkan perhitungan seperti tersebut, dapat disimpulkan bahwa usia bumi berkisar antara 5 sampai 7 ribu juta tahun.

2. Struktur Bumi
Seperti halnya kebanyakan benda langit, Bumi berbentuk bola, meskipun agak pepat pada kedua kutubnya. Kepepatan itu akibat gerak rotasi mengelilingi sumbunya. Oleh karena itu, jarak pusat Bumi terhadap khatulistiwa lebih panjang daripada terhadap kutubnya.
Panjang diameter pada khatulistiwa = 12.762 km, sedangkan panjang diameter pada kutub = 12.306 km. Diameter rata-rata Bumi = 12.784 km. Berat jenis Bumi adalah 5.5, sedangkan beratnya adalah 6,6 x 102′ ton. Bumi diselimuti oleh gas yang disebut atmosfer. Pada permukaan Bumi terdapat lapisan air yang disebut hidrosfer. Bagian Bumi yang padat terdiri atas kulit (kerak) atau lithosfer, dan bagian inti yang disebut centrosfer.

a. Lithosfer dan Centrosfer
Lithosfer tebalnya hanya kurang lebih 32 km (=32.000 m) dan merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia yang berupa benua-benua dan pulau-pulau sebagai tempat tinggal. Ketebalan lithosfer tidak sama. Bagian tebal berupa benua setebal 8 km, bagian tipis berupa dasar laut yang dalam setebal 3,5 km dan terdiri atas 2 lapisan, yaitu lapisan sebelah atas. terdiri dari silikon dan aluminium dengan Berat Massa (BM) rata-rata 2,65 dan lapisan sebelah dalam, terdiri dari silikon dan magnesium dengan BM 2,9.
Di bawah lithosfer terdapat centrosfer yang dapat dibagi atas:
Bagian paling dalam yang disebut inti dalam,
Bagian luar disebut inti luar, dan
Bagian mantel (lihat bagan); BM inti Bumi = 10,7

Berdasarkan BM sebesar 10,7 maka orang menduga bahwa inti Bumi terdiri atas campuran logam Nikel dan Ferum (besi), dan inti inilah yang menimbulkan adanya sifat-sifat kemagnetan Bumi, dengan kutub Utara di bagian Selatan dan kutub Selatan terletak di bagian Utara. Letak itu tidak tepat, tetapi mempunyai penyimpangan 17° dilihat dari pusat Bumi.

b. Hidrosfer
Hidrosfer tidak sepenuhnya menutupi seluruh permukaan Bumi, tetapi hanya 75 % yang meliputi lautan, danau-danau, dan es yang terdapat dalam kedua kutub. Kedalaman laut rata-rata 4000 m dan yang terdalam adalah di dekat pulau Guam dengan kedalaman 11000 m.
Hidrosfer mempunyai pengaruh yang besar terhadap atmosfer karena air yang menguap akan membentuk awan yang selanjutnya menimbulkan hujan, kembali ke laut lagi. Siklus air semacam itu berlangsung berabad-abad. Siklus itu menyebabkan air laut menjadi asin karena garam mineral yang mudah larut pada kerak Bumi terbawa ke laut secara terus-menerus.

c. Atmosfer
Atmosfer merupakan lapisan gas yang menyelubungi Bumi, yang dalam kehidupan sehari-hari disebut udara. Tebal atmosfer sebesar 4.800 km, terhitung dari permukaan air laut. BJ bagian bawah 0,013, dan semakin ke atas semakin kecil sampai mendekati 0. Atmosfer terbagi atas tiga lapisan, yaitu (1) lapisan terbawah setebal 16 km disebut troposfer; (2) lapisan tengah di atas 16-80 km disebut Stratosfer, dan (3) lapisan teratas di atas 80 km disebut ionosfer. Berikut ini uraian lebih terinci.
1). Troposfer
Lapisan setebal 16 km ini, pada daerah khatulistiwa menipis hingga hanya 8 km pada kutub-kutub Bumi. Hampir seluruh uap air yang terkandung dalam atmosfer terdapat di dalam lapisan ini. Sehubungan dengan kandungan uap air itulah terjadi hujan, salju, angin, dan badai. Pesawat terbang mengarungi udara hanya sampai batas troposfer. Suhu troposfer terhitung dari permukaan Bumi ke atas ternyata turun secara teratur, setiap 1,6 km turun secara drastis menjadi 0.

2). Stratosfer
Lapisan ini mulai dari 16 km sampai 80 km di atas Bumi. Suhu rata-rata sekitar -35° C. Pesawat terbang sebenarnya masih dapat mengarungi pada lapisan terbawah dari stratosfer, asal semua pintu kabin dapat ditutup rapat dan udara di dalam pesawat diatur, terutama kadar oksigennya hingga seperti kondisi dalam troposfer.

3). Ionosfer
Lapisan ini terdapat di atas 80 km dengan tekanan udara sangat rendah sehingga semua partikel terurai menjadi ion-ion. Lapisan ionosfer sangat penting sehubungan dengan komunikasi radio jarak jauh karena lapisan ini merupakan pemantul gelombang radio. Fungsi pemantul gelombang radio, sehubungan dengan permukaan Bumi melengkung dan dalam troposfer sering terjadi gangguan cuaca.

3. Pembentukan Benua dan Samudera
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa bumi sebagai benda alam semesta pada permulaannya merupakan benda yang berpijar kemudian mendingin. Pada proses mendingin tersebut maka yang menjadi keras adalah lapisan terluar yang sering kita sebut kulit Bumi atau kerak Bumi dan dalam istilah asing disebut lithosfer. Pada tahap awal, lapisan lithosfer sangat labil, tetapi tetap berotasi. Karena rotasi itu, lapisan kerak bumi yang labil dapat menggeser ke arah horizonal atau vertikal (geonklinal). Hal ini juga terjadi karena lapisan di bawah kerak Bumi pada saat itu masih leleh. Wegener seorang ahli geografi bangsa Jerman mengemukakan suatu teori yang disebut juga teori Wegener (1915). Menurut teori ini, Bumi pada 2.500 juta tahun yang lalu hanya terdapat satu benua yang sangat besar yang retak dan kemudian bergeser saling menjauhi satu dengan yang lain. Akibat pergeseran itu, terbentuklah benua-benua Amerika, Asia, Eropa, Afrika, Australia, dan Antartika. Teori Wegener didukung oleh fakta yaitu: sepanjang Timur dari Amerika Selatan ternyata mempunyai bentuk dan lekukan yang kira-kira sama dengan lekukan pada benua Afrika sebelah Barat dan lekukan bagian Selatan benua Australia cocok dengan tonjolan benua Antartika.
Demikian juga semenanjung India dan pulau Madagaskar cocok dengan teluk yang terbentuk antara Afrika dengan Antartika. Kecocokan itu tidak hanya pada segi geografik, tetapi ternyata cocok pula ditinjau dari segi geologi yakni jenis dan umur batu-batuan adalah kira-kira sama (lihat gambar 29). Peristiwa pergeseran itu berlangsung dalam jutaan tahun.
Secara kronologis dapat digambarkan bahwa:
a. Pada 225 juta tahun yang lalu, masih terdapat benua “Super Continental”.
b. Pada 200 juta tahun yang lalu, “Super Continental” pecah menjadi 3 bagian, yakni benua Eropa-Asia, Afrika-Amerika, dan Antartika-Australia.
c. Pada 135 juta tahun yang lalu. Afrika dan Amerika mulai memisah.
d. Pada 65 juta tahun yang lalu. Australia dan Antartika memisahkan diri. Pergeseran sampai saat ini pun masih berlangsung.

Pembentukan Samudera terjadi karena:
1). Pergeseran vertikal, yaitu samudera India (Indonesia) dimana kerak Bumi menggeser ke bawah dan sebagai imbangannya bagian sisi lain menggeser ke atas menjadi dataran tinggi atau gunung Himalaya (gunung tertinggi didunia).
2). Tertarik oleh benda alam semesta lain (ingat teori Tidal) dan gaya sentripetal sehingga bagian Bumi terlepas menjadi planet yaitu Bulan, maka terbentuk samudera Pasifik.
Berdasarkan penelitian batu-batuannya, maka batu-batuan di Bulan sama dengan batu-batuan pada dasar Samudera Pasifik, yaitu batuan Silisium-Magnesium.
Lapisan Bumi yang berupa lithosfer, hidrosfer. dan fotosfer yang dihuni oleh berbagai makhluk hidup disebut biosfer.

Materi Kuliah: Ilmu Alamiah Dasar (Bab 2)

November 20, 2011 at 10:49 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Copied from: Imron Hama
Pasted by: Koesnandar, S.Kom (0923385P1 – STKIP PGRI Sidoarjo)

BAB. 2
MATERI DAN ENERGI

A. PENGERTIAN MATERI

Materi didefinisikan sebagai sesuatu yang mempunyai massa yang menempati ruang. Udara tersusun atas gas-gas yang tidak dapat dilihat, tapi dapat dibuktikan adanya. Dengan mengibaskan sehelai kertas, kita akan merasakan adanya angin. Angin adalah udara yang bergerak. Walau udara amat ringan, tapi dapat dibuktikan bahwa udara memiliki massa. Ikatan seutas tali pada tangan-tangan sebatang kayu. Pada kedua ujung kayu itu masing-masing gantungkanlah sebuah balon yang sudah ditiup dan yang belum ditiup pada ujung yang lain. Apa yang terlihat? dari percobaan itu dapat disimpulkan bahwa udara memiliki massa dan menepati ruang.

1. Wujud Materi

Dikenal tiga macam wujud materi, yakni padat, cair dan gas. Zat padat memiliki bentuk dan volume tetap, selama tidak ada pengaruh dari luar. Contoh, bentuk volume sebatang emas tetap dimanapun emas itu berada.

Berbeda dengan zat cair, bentuk zat cair berubah-ubah mengikuti bentuk ruang yang ditempatinya. Di dalam gas air akan mengambil bentuk ruang gelas, di dalam botol air akan mengambil bentuk ruang botol. Seperti zat padat volume zat cair juga tetap.

2. Massa dan Berat

Massa suatu benda menyatakan jumlah materi yang ada pada benda tersebut. Massa suatu benda tetap di segala tempat. Massa merupakan sifat dasar materi yang paling. Massa dan berat suatu benda yang tidak identik tetapi sering dianggap sama; berat menyatakan gaya gravitasi bumi terhadap benda itu dan bergantung pada letak benda dari pusat bumi.

Berat sebuah benda dapat diukur langsung dengan menimbangnya, tapi massa sebuah benda di bumi dapat dihitung jika diketahui beratnya dan gaya gravitasi di tempat penimbangan itu dilakukan. Untuk itu, dipakailah neraca menimbang dengan neraca adalah membandingkan massa benda yang ditimbang dengan massa benda lain yang diketahui anak timbangannya. Dua benda yang massanya sama bila ditimbang di tempat yang sama, beratnya akan sama. Karena itu, yang dimaksud berat sebuah benda sebenarnya adalah massanya, maka timbul pengertian bahwa massa sama dengan berat.

3. Klasifikasi Materi

Suatu bahan dapat dikatakan serba sama (homogen) atau serba aneka (heterogen). Suatu benda yang seluruh bagiannya memiliki sifat-sifat yang sama disebut bahan homogen. Perhatikan larutan gula dalam air. Keseluruh bagian akan kita amati suatu cairan yang agak kekuning-kuningan dan bila pada setiap bagian kita ambil untuk dicicipi, terasa manis. Jadi, larutan gula ini bersifat homogen. Larutan memang suatu campuran yang serba sama, sedangkan tanah dan campuran minyak dengan air merupakan campuran heterogen.

Suatu bahan yang tersusun dari dua atau lebih zat-zat yang sifatnya berbeda disebut campuran. Komposisi campuran tidak tetap, melainkan bervariasi. Oleh sebab itu, akan kita kenal campuran homogen dan campuran heterogen. Zat-zat yang ditemukan di alam jarang sekali dalam keadaan murni. Pada umumnya ditemukan campuran heterogen. Lihat batu kapur, granit, batu pualam yang ditemukan, akan tampak jelas heterogenitas sifat-sifatnya.

Setiap materi yang homogen dan susunan kimianya tetap disebut zat atau subtansi. Setiap zat memiliki sifat fisika dan sifat kimia tertentu. Dikenal dua macam zat, yakni unsur dan senyawa. Zat yang dengan reaksi kimia biasa dapat diuraikan menjadi beberapa zat lain yang lebih sederhana disebut senyawa. Jadi air adalah senyawa. Zat yang dengan reaksi kimia tidak dapat diuraikan lagi menjadi zat-zat lain disebut unsur. Jadi Oksigen (O) dan hidrogen (H) adalah unsur. Menurut sifat-sifat, dikenal unsur logam dan nonlogam, Besi, tembaga, dan seng, misalnya adalah unsur logam, sedangkan Arang, Belerang dan fosfor adalah unsur nonlogam

4. Atom dan Molekul

Atom adalah satuan yang amat kecil dalam setiap bahan yang ada di sekitar kita. Sejak zaman kuno, filosof-filosof Yunani sudah memikirkan struktur materi. Bertentangan dengan ajaran makrokosmos, pada abad lima sebelum masehi, Leukippos dan demokritos telah mengembangkan ajaran mikrokosmos tentang hebatnya materi.

Struktur zat discountinue dan bahwa semua materi terdiri atas partikel-partikel yang amat kecil yang disebut atom (a = tidak, tomos = dibagi ). Hal ini bertentangan dengan pendapat Aristoteles yang menyatakan bahwa zat yang bersifat continue (dapat dibagi terus), kedua pendapat itu bersifat sangat spekulatif dan tidak dapat ditunjang oleh eksperimen.

Pada masa Robet Boyle, yakni pada abad ke 17, para ahli fisika mengembangkan sebuah teori baru tentang struktur materi, yakni teori molekul. Menurut pendapat ini partikel terkecil zat disebut molekul dan molekul-molekul zat yang sama akan sama semua sifatnya. Teori ini dapat menerangkan antara lain peristiwa diferensiasi zat, perubahan wujud gas dan sifat-sifat gas dengan memuaskan.

a. Teori Atom Dalton

Seorang guru sekolah di Inggris, berdasarkan obeservasi-obeservasi kuantitatifnya pada awal abad ke-19 mengungkapakan teori atomnya yang terkenal yang dapat menerangkan kejadian-kejadian kimia. Dengan teorinya ini, Dalton mampu menerangkan dua buah hukum dasar ilmu kima, yakni Hukum Kekekalan Massa dari Laviesier dan Hukum Ketetapan Perbandingan dari Proust. Hipotesis Dalton berpangkal dari anggapan Demokritos, kemudian menjadi besar teori atom antara lain sebagai berikut :

1) Tiap-tiap unsur terdiri dari partikel-partikel kecil yang disebut atom. Atom tidak dapat dibagi-bagi

2) Atom-atom unsur yang sama, sifatnya sama, atom dari unsur yang berbeda, sifatnya juga berbeda

3) Atom tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan

4) Reaksi kimia terjadi penggabungan atau pemisahan atom-atom

5) Senyawa ialah hasil reaksi atom-atom penyusunnya

5. Susunan Atom

Untuk menjelaskan berbagai pertanyaan yang masih belum terjawab oleh teori atom, maka orang harus mengetahui susunan atom. Misalnya, pertanyaan tentang apa penyebeab atom-atom terikat bersama-bersama sehingga membentuk zat yang lebih kompleks? Mengapa atom suatu unsur dapat bereaksi dengan atom lain, mengapa atom tembaga berbeda dengan atom besi? pengetahuan tentang susunan atom menjadi lebih jelas setelah penelitian-penelitian dari Sir Humphry Davy dan Michael Faraday, keduanya berasal dari Inggris.

a. Penemuan Elektron Dan Proton

Elektron merupakan partikel atom pertama yang ditemukan. penemuan elektron berawal dari penyelidikan tentang listrik melalui gas-gas pada tekanan rendah. Joseph John Thomson dan kawan-kawannya telah mela­kukan percobaan mengenai hantaran listrik melalui berbagai gas dengan menggunakan suatu tabung tertutup yang dapat dihampakan seperti tertera pada gambar berikut ini. Pada ujung­-ujung tabung itu terdapat kutub listrik positif atau anoda dan kutub negatif atau katoda

Bila katoda dan anoda dihubungkan dengan sumber lis­trik bertegangan tinggi dan tekanan gas di dalam tabung di­kurangi menjadi sangat kecil, yaitu sekitar 106 (10 pangkat 6) atmosfer, akan terjadi pancaran sinar yang berasal dari katoda dan menuju ke katoda. sinar itu disebut sinar katoda.

Sinar katoda mempunyai sifat cahaya, tetapi sinar itu juga mempunyai sifat-sifat lain. antara lain, sinar itu dapat menggerakkan baling-baling yang diletakkan dalam jalannya dan di dalam medan listrik sinar itu dibelokkan ke arah pelat elektroda positif. Sifat-sifat tersebut menunjukkan bahwa sinar katoda terdiri dari partikel-partikel bermuatan listrik negatif. Partikel-partikel sinar katoda dilepaskan oleh atom-atom yang terdapat pada katoda. Pada tahun 1897, J.J. Thomson (1856-1940) membuktikan dengan eksperimen bahwa partikel sinar katoda tidak bergan­tung pada bahan katoda. partikel itu disebut elektron. Berdasarkan pengamatan ini, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa tiap atom unsur tentu mengandung elektron.

Seorang berkebangsaan Jerman bernama E. Goldstein pada tahun 1886 menemukan suatu sinar lain di dalam tabung sinar katoda. la menemukan bahwa apabila lempeng tabung katoda itu berlubang-lubang maka gas yang terdapat di belakang katoda akan berpijar.

b. Model Atom

Dalton menggambarkan atom sebagai bola padat yang tidak dapat dibagi lagi. dengan penemuan elektron, maka (1) model atom dalton diganti dengan (2) model atom Thomson. Menurut Thomson, atom berupa bola bermuatan positif dan pada tempat-tempat tertentu di dalam bola terdapat elektron-elek­tron, seperti kismis di dalam roti. Jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatif sehingga atom bersifat netral.

Model atom Thomson mulai ditinggalkan ketika Ernest Rutherford pada tahun 1909, yang dibantu oleh Hans Geiger dan Ernest Marsden menemukan bukti-bukti baru tentang sifat-sifat atom. bukti-bukti itu diperoleh dari eksperimen yang disebut eksperimen penghabluran sinar alfa.

c. Model Atom Bohr

Pola atom Rutherford masih memiliki kelemahan-kelemah­an yang serius. Misalnya, terhadap pertanyaan-pertanyaan: me­ngapa elektron-elektron yang bermuatan negatif tidak tertarik dan melekat pada inti yang positif?

Menurut teori mekanika klasik tentang cahaya, elektron yang bergerak harus disertai kehilangan tenaga kinetik elektron. Dengan demikian, kecepatan elektron itu semakin lama semakin berkurang, jaraknya terhadap inti semakin kecil, dan akhirnya elektron itu akan jatuh dan melekat pada inti. Disamping itu, terdapat beberapa pertanyaan yang tidak terjawab. Misalnya, apakah semua atom mempunyai jumlah elektron yang sama banyaknya? Apabila terdapat banyak elektron dalam sebuah atom, bagaimana elektron-elektron itu disusun? Apakah yang menyebabkan inti dan juga elektron-elektron tidak terlepas satu dari yang lain? Untuk mengatasi kelemahan model atom Rutherford, Bohr mengajukan pendapat yang revolusioner, yang sebagian bertentangan dengan mekanika klasik Newton.

Menurut Bohr, di sekitar inti itu hanya mungkin terdapat lintasan-lintasan elektron yang berjumlah terbatas; pada setiap lintasan itu bergerak sebuah elektron yang dalam gerakannya tidak memancarkan sinar. Jadi, dalam setiap keadaan station, elektron mengandung jumlah tenaga tetap dan terdapat dalam keadaan seimbang yang mantap.

B. PENGERTIAN ENERGI

Energi adalah suatu kemampuan untuk melakukan kerja atau kegiatan. Tanpa energi, dunia ini akan diam atau beku. Dalam kehidupan manusia selalu terjadi kegiatan dan untuk kegiatan otak serta otot diperlukan energi. Energi itu diperoleh melalui proses oksidasi (pembakaran) zat makanan yang masuk ke dalam tubuh berupa makanan. Kegiatan manusia lainnya dalam memproduksi barang, transportasi, dan lainnya juga memerlukan energi yang diperoleh dari bahan sumber energi atau sering disebut sumber daya alam (natural resources)

Sumber daya alam dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :

(1) Sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable) hampir tidak dapat habis, misalnya tumbuhan, hewan, air, tanah, sinar matahari, angin dan sebagainya

(2) Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable) atau habis misalnya : minyak bumi atau batu bara

C. MACAM- MACAM ENERGI

1) Energi Mekanik

Energi mekanik dapat dibedakan atas dua pengertian yaitu : energi potensial dan energi kinetik. Jumlah kedua energi itu di namakan energi mekanik. Setiap benda mempunyai berat, maka baik dalam keadaan diam atau bergerak setiap benda memiliki energi. Misalnya energi yang tersimpan dalam air yang dibendung pada sebuah waduk yang bersifat tidak aktif dan disebut energi potensial (energi tempat). Bila waduk dibuka, air akan mengalir dengan deras, sehingga energi air menjadi aktif. Mengalirnya air ini adalah dengan energi kinetik (tenaga gerak)

Air waduk pada contoh di atas juga memiliki energi potensial karena letaknya. Semakin tinggi letak air waduk terhadap permukaan air laut, semakin besar energi potensialnya. Secara matematis, kenyataan itu dapat dirumuskan sebagai berikut.

E = mgh

m = masa benda

g = besar gravitasi bumi

h = jarak ketinggian

Sedangkan besarnya energi kinetik dapat dirumuskan :

E = ½ m V

V = kecepatan gerak benda

Artinya suatu benda yang kecepatannya besar akan besar pula energi kinetiknya

2) Energi Panas

Energi panas juga sering disebut sebagai kalor. Pemberian panas kepada suatu benda dapat menyebabkan kenaikan suhu benda itu ataupun bahkan terkadang dapat menyebabkan perubahan bentuk, perubahan ukuran, atau perubahan volume benda itu

Ada tiga istilah yang penggunaannya sering kacau, yaitu panas, kalor, dan suhu. panas adalah salah satu bentuk energi. Energi panas yang berpindah disebut kalor, sementara suhu ada­lah derajat panas suatu benda.

Ketika merebus air berarti energi panas diberikan kepada air, yang berasal dari energi yang tersimpan di dalam bahan bakar kayu atau minyak tanah sehingga suhu air naik. Jika pemberian energi panas diteruskan sampai suhu air mencapai titik didihnya, maka air akan menguap dan berubah bentuk menjadi uap air.

Banyaknya energi panas yang diberikan dapat dihitung dengan menggunakan hubungan rumus:

Q = m x c t kalori, di mana Q = menyatakan banyaknya energi panas dalam kalori

m = menyatakan massa benda/zat yang mendapatkan energi panas

c = menyatakan kalor jenis benda/zat yang mendapatkan panas

t = menyatakan kenaikan (perubahan) suhu.

3) Energi Magnetik

Energi magnetik dapat dipahami dengan mengamati gejala yang timbul ketika dua batang magnet yang kutub-kutubnya saling didekatkan satu dengan yang lain. seperti diketahui bahwa setiap magnet mempunyai 2 macam kutub, yaitu kutub magnet utara dan kutub magnet selatan. jika dua batang magnet kutub-­kutubnya yang senama (u – u/s – s) saling didekatkan maka kedua magnet akan saling tolak-menolak. Sebaliknya, kedua magnet akan saling tarik-menarik apabila yang saling berdekatan adalah kedua kutub tidak senama (u-s).

Kedua kutub magnet memiliki kemampuan untuk saling melakukan gerakan. kemampuan itu adalah energi yang tersim­pan di dalam magnet dan energi inilah yang disebut sebagai Energi magnetik. Semakin besar energi magnetik yang dimiliki oleh suatu magnet, semakin besar pula gaya yang ditimbulkan oleh magnet itu

Pengertian tentang energi magnetik akan bertambah jelas jika dipahami melalui suatu penelitian medan magnet di sekitar kutub suatu magnet terdapat medan magnet, yaitu ruangan atau daerah di sekeliling kutub magnet dimana energi magnetik masih dapat dirasakan.

Hal ini dapat diperhatikan gejalanya apabila suatu benda kecil maupun suatu magnet yang lemah diletakkan sekitar suatu kutub magnet, maka benda kecil atau magnet yang lemah itu akan bergerak. Ini berarti di sekeliling magnet yang menimbulkan medan magnet ada kemampuan untuk menggerakkan benda lain. kemampuan tersebut tidak lain adalah energi magnetik. Magnet akan dapat menarik benda lain apabila benda tersebut dalam bentuk magnet. Benda yang dapat menjadi magnet yaitu besi, dan baja.

4) Energi listrik

Energi listrik ditimbulkan/dibangkitkan melalui bermacam­-macam cara. misalnya: (1) dengan sungai atau air terjun yang memiliki energi kinetik; (2) dengan energi angin yang dipakai untuk menggerakkan kincir angin; (3) dengan menggunakan accu (energi kimia); (4) dengan menggunakan tenaga uap yang dapat memutar generator listrik; (5) dengan menggunakan tenaga diesel; dan (6) dengan menggunakan tenaga nuklir. kegunaan dari energi listrik dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali yang dapat dirasakan, terutama di kehidupan kota-kota besar, bahkan sebagai penerangan yang sekarang sudah digunakan sampai jauh ke pelosok pedesaan

5) Energi Kimia

Yang dimaksud dengan energi kimia ialah energi yang diperoleh melalui suatu proses kimia. Energi yang dimiliki ma­nusia dapat diperoleh dari makanan yang dimakan melalui pro­ses kimia. Jika kedua macam atom-atom karbon dan atom oksigen, tersebut dapat bereaksi, akan terbentuk molekul baru yaitu karbondioksida. Bergabungnya kedua atom tersebut memerlu­kan energi, kalori tersebut dikenal sebagai energi kimia. Bila kedua atom yang telah tergabung dipisahkan, maka akan mele­paskan energi. Energi yang terbebas disebut energi eksoterm pada reaksi korek api, juga dihasilkan energi panas yang melalui suatu proses kimia.

Bertambah jelaslah kiranya untuk memahami adanya energi yang disebut energi kimia melalui pengertian yang disebut reaksi eksoterm dimana berlangsungnya reaksi kimia disertai pembebasan kalori yang disebut energi kimia.

6) Energi Bunyi

Bunyi dapat juga diartikan getaran sehingga energi bunyi berarti juga getaran. Getaran selaras mempunyai energi dua macam, yaitu energi potensial dan energi kinetik. Melalui pemba­hasan secara matematis dapat ditunjukkan bahwa jumlah kedua macam energi pada suatu getaran selaras adalah selalu tetap dan besarnya tergantung massa, simpangan, dan waktu getar atau periode. Untuk contoh yang lebih jelas mengenai adanya energi bunyi atau energi getaran yaitu apabila orang melihat jatuhnya sebuah benda dari ketinggian tertentu.

Pada saat benda itu jatuh di suatu lantai, energi kinetiknya berubah menjadi energi panas dan juga energi getaran, yaitu timbulnya suatu getaran pada lantai yang menimbulkan bunyi. Apabila getaran yang ditun­jukkan itu sangat besar, akan dapat dirasakan adanya energi getarannya yaitu dengan terlihatnya getaran pada benda-benda lain di sekitarnya. Meledaknya suatu bom menimbulkan getaran yang hebat dan energi getarannya mampu merobohkan bangunan ataupun memecahkan kaca-kaca yang tebal.

Gendang telinga manusia juga hanya mampu menerima energi getaran yang ditimbulkan oleh sumber getar yang fre­kuensi paling rendahnya adalah 16 getaran per detik (hertz) dan paling besar 20.000 getaran per detik.

7) Energi Nuklir

Energi nuklir merupakan hasil dari reaksi fisi yang terjadi pada inti atom. Dewasa ini, reaksi inti yang banyak digunakan oleh manusia untuk menghasilkan energi nuklir adalah reaksi yang terjadi antara partikel dengan inti atom yang digolongkan dalam kelompok heavy atom seperti aktinida.

Berbeda dengan reaksi kimia biasa yang hanya mengubah komposisi molekul setiap unsurnya dan tidak mengubah struktur dasar unsur penyusun molekulnya, pada reaksi inti atom atau reaksi fisi, terjadi perubahan struktur inti atom menjadi unsur atom yang sama sekali berbeda.

Pada umumnya, pembangkitan energi nuklir yang ada saat ini memanfaatkan reaksi inti antara neutron dengan isotop uranium-235 (235U) atau menggunakan isotop plutonium-239 (239Pu). Hanya neutron dengan energi berkisar 0,025 eV atau sebanding dengan neutron berkecepatan 2200 m/ detik akan memiliki probabilitas yang sangat besar untuk bereaksi fisi dengan 235U atau dengan 239Pu.

Neutron merupakan produk fisi yang memiliki energi dalam kisaran 2 MeV. Agar neutron tersebut dapat beraksi fisi dengan uranium ataupun plutonium diperlukan suatu media untuk menurunkan energi neutron ke kisaran 0,025 eV, media ini dinamakan moderator. Neutron yang melewati moderator akan mendisipasikan energi yang dimilikinya kepada moderator, setelah neutron berinteraksi dengan atom-atom moderator, energi neutron akan berkisar pada 0,025 eV.

8) Energi Cahaya atau Cahaya

Energi cahaya terutama cahaya matahari banyak diperlu­kan terutama oleh tumbuhan yang berhijau daun. Tumbuhan itu membutuhkan energi cahaya untuk mengadakan proses foto­sintesis. Dengan kemajuan teknologi, saat ini dapat juga digunakan energi dari sinar yang dikenal dengan nama sinar laser. Yang dimaksud dengan sinar laser ialah sinar pada suatu gelombang yang sama dan yang amat kuat. Sinar laser banyak sekali digunakan dan meliputi banyak bidang, misalnya dalam bidang industri besar digunakan dalam pembuatan senjata laser yang dapat menembus baja yang tebalnya 2 cm dan lain-lainnya.

Peng­gunaan sinar laser dalam bidang kesehatan menunjukkan bahwa banyak penyakit-penyakit yang dapat dimusnahkan dengan sinar laser. Sudah bukan menjadi persoalan lagi bagi para yang mempergunakan sinar laser. Seperti halnya perawatan yang berasal dari China yang terkenal dengan akupuntur, pera­watan dengan cara ini telah dimodernisir oleh ahli-ahli dunia barat. Baru-baru ini, sebuah perusahaan di Ottenburn telah : membuat pesawat istimewa untuk mengadakan akupuntur, yaitu dengan perantaraan sinar laser.

Keuntungan akupuntur laser jika dibandingkan dengan akupuntur biasa ialah bahwa waktu perawatan jauh lebih singkat dan jauh lebih ringan. Pera­watan dengan laser itu tidak dapat memasukkan hama ke dalam badan. Pengetahuan itu diperoleh dari pengalaman di China yang dikumpulkan dalam ribuan tahun dan saat ini dilengkapi dengan pengetahuan modern tentang ilmu hayat serta ilmu faal tubuh. Dengan demikian, para dokter dapat mengadakan pera­watan akupuntur laser yang lebih baik dan lebih lengkap.

9) Energi Matahari

Energi matahari merupakan energi yang utama bagi kehidupan di bumi ini. Berbagai jenis energi, baik yang terbarukan maupun tak-terbarukan merupakan bentuk turunan dari energi ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Energi yang merupakan turunan dari energi matahari misalnya :

* Energi angin yang timbul akibat adanya perbedan suhu dan tekanan satu tempat dengan tempat lain sebagai efek energi panas matahari.
* Energi air karena adanya siklus hidrologi akibat dari energi panas matahari yang mengenai bumi.
* Energi biomassa karena adanya fotosintesis dari tumbuhan yang notabene menggunakan energi matahari.
* Energi gelombang laut yang muncul akibat energi angin.
* Energi fosil yang merupakan bentuk lain dari energi biomassa yang telah mengalami proses selama berjuta-juta tahun

Selain itu energi panas matahari juga berperan penting dalam menjaga kehidupan di bumi ini. Tanpa adanya energi panas dari matahari maka seluruh kehidupan di muka bumi ini pasti akan musnah karena permukaan bumi akan sangat dingin dan tidak ada mahluk yang sanggup hidup di bumi. Energi Panas Matahari sebagai Energi Alternatif.

Energi panas matahari merupakan salah satu energi yang potensial untuk dikelola dan dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber cadangan energi terutama bagi negara-negara yang terletak di khatulistiwa termasuk Indonesia, dimana matahari bersinar sepanjang tahun. Dapat dilihat dari gambar di atas bahwa energi matahari yang tersedia adalah sebesar 81.000 TerraWatt sedangkan yang dimanfaatkan masih sangat sedikit.

Ada beberapa cara pemanfaatan energi panas matahari yaitu:

1. Pemanasan ruangan

2. Penerangan ruangan

3. Kompor matahari

4. Pengeringan hasi pertanian

5. Distilasi air kotor

6. Pemanasan air

7. Pembangkitan listrik

Materi Kuliah: Ilmu Alamiah Dasar (Bab 1)

November 20, 2011 at 10:09 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pasted by:
Koesnandar, S.Kom (0923385P1 – STKIP PGRI Sidoarjo)

BAB I. PENDAHULUAN

ILMU ALAMIAH DASAR

Ilmu alamiah atau sering disebut ilmu pengetahuan alam (natural science) merupakan pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala dalam alam semesta, termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. IAD hanya mengkaji konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang esensial saja.

A. MANUSIA YANG BERSIFAT UNIK
Ciri-ciri manusia
a. Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus, terutama otaknya
b. Mengadakan metabolisme atau pertukaran zat, (ada yang masuk dan keluar)
c. Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar
d. Memiliki potensi untuk berkembang biak
e. Tumbuh dan bergerak
f. Berinteraksi dengan lingkungannnya
g. Sampai pada saatnya mengalami kematian

Manusia adalah makhluk yang lemah dibanding makhluk lain namun dengan akal budinya dan kemauannya yang sangat kuat maka manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia dapat hidup dengan lebih baik lagi. Akal budinya dan kemauannya yang sangat kuat itulah sifat unik dari manusia.

B. KURIOSITAS ATAU RASA INGIN TAHU DAN AKAL BUDI
Rasa ingin tahu makhluk lain lebih didasarkan oleh naluri (instinct) /idle curiosity naluri ini didasarkan pada upaya mempertahankan kelestaraian hidup dan sifatnya tetap sepanjang zaman. Manusia juga mempunyai naluri seperti tumbuhan dan hewan tetapi ia mempunyai akal budi yang terus berkembang serta rasa ingin tahu yang tidak terpuaskan.
Sesuatu masalah yang telah dapat dipecahkan maka akan timbul masalah lain yang menunggu pemecahannya, manusia setelah tahu apanya maka ingin tahu bagimana dan mengapa.
Contoh : tempat tinggal manusia purba sampai manusia modern, contoh lain seperti penyakit setelah ditemukan obat suatu penyakit ada penyakit lain lagi yang dicoba untuk dicari obatnya (HIV AIDS)

C. PERKEMBANGAN ALAM PIKIRAN MANUSIA
Manusia yang mempunyai rasa ingin tahu terhadap rahasia alam mencoba menjawab dengan menggunakan pengamatan dan penggunaan pengalaman, tetapi sering upaya itu tidak terjawab secara memuaskan. Pada manusia kuno untuk memuaskan mereka menjawab sendiri. Misalnya kenapa ada pelangi mereka membuat jawaban, pelangi adalah selendang bidadari atau kenapa gunung meletus jawabannya karena yang berkuasa marah. Dari hal ini timbulnya pengetahuan tentang bidadari dan sesuatu yang berkuasa. Pengetahuan baru itu muncul dari kombinasi antara pengalaman dan kepercayaan yang disebut mitos. Cerita-cerita mitos disebut legenda. Mitos dapat diterima karena keterbatasan penginderaan, penalaran, dan hasrat ingin tahu yang harus dipenuhi. Sehubungan dengan kemajuan zaman, maka lahirlah ilmu pengetahuan dan metode ilmiah.

Puncak pemikiran mitos adalah pada zaman Babilonia yaiyu kira-kira 700-600 SM. Orang Babilonia berpendapat bahwa alam semesta itu sebagai ruangan setengah bola dengan bumi yang datar sebagai lantainya dan langit dan bintang-bintang sebagai atapnya. Namun yang menakjubkan mereka telah mengenal bidang ekleptika sebagai bidang edar matahari dan menetapkan perhitungan satu tahun yaitu satu kali matahari beredar ke tempat semula, yaitu 365,25 hari. Pengetahuan dan ajaran tentang orang Babilonia setengahnya merupakan dugaan, imajinasi, kepercayaan atau mitos pengetahuan semacam ini disebut Pseudo science (sains palsu)
Tokoh-tokoh Yunani dan lainnya yang memberikan sumbangan perubahan pemikiran pada waktu itu adalah :
a. Anaximander, langit yang kita lihat adalah setengah saja, langit dan isinya beredar mengelilingi bumi ia juga mengajarkan membuat jam dengan tongkat.
b. Anaximenes, (560-520) mengatakan unsur-unsur pembentukan semua benda adalah air, seperti pendapat Thales. Air merupakan salah satu bentuk benda bila merenggang menjadi api dan bila memadat menjadi tanah.
c. Herakleitos, (560-470) pengkoreksi pendapat Anaximenes, justru apilah yang menyebabkan transmutasi, tanpa ada api benda-benda akan seperti apa adanya.
d. Pythagoras (500 SM) mengatakan unsur semua benda adalah empat : yaitu tanah, api, udara dan air. Ia juga mengungkapkan dalil Pythagoras C2 = A2 + B2, sehubungan dengan alam semesta ia mengatakan bahwa bumi adalah bulat dan seolah-olah benda lain mengitari bumi termasuk matahari.
e. Demokritos (460-370) bila benda dibagi terus, maka pada suatu saat akan sampai pada bagian terkecil yang disebut Atomos atau atom, istilah atom tetap dipakai sampai saat ini namun ada perubahan konsep.
f. Empedokles (480-430 SM) menyempurnakan pendapat Pythagoras, ia memperkenalkan tentang tenaga penyekat atau daya tarik-menarik dan data tolak-menolak. Kedua tenaga ini dapat mempersatukan atau memisahkan unsur-unsur.
g. Plato (427-345) yang mempunyai pemikiran yang berbeda dengan orang sebelumnya, ia mengatakan bahwa keanekaragaman yang tampak ini sebenarnya hanya suatu duplikat saja dari semua yang kekal dan immatrial. Seperti serangga yang beranekaragam itu merupakan duplikat yang tidak sempurna, yang benar adalah idea serangga.
h. Aristoteles merupakan ahli pikir, ia membuat intisari dari ajaran orang sebelumnya ia membuang ajaran yang tidak masuk akal dan memasukkan pendapatnya sendiri. Ia mengajarkan unsur dasar alam yang disebut Hule. Zat ini tergantung kondisi sehingga dapat berwujud tanah, air, udara atau api. Terjadi transmutasi disebabkan oleh kondisi, dingin, lembah, panas dan kering. Dalam kondisi lembab hule akan berwujud sebagai api, sedang dalam kondisi kering ia berwujud tanah. Ia juga mengajarkan bahwa tidak ada ruang yang hampa, jika ruang itu tidak terisi suatu benda maka ruang itu diisi oleh ether. Aristoteles juga mengajarkan tentang klasifikasi hewan yang ada dimuka bumi ini.
i. Ptolomeus (127-151 SM), mengatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya (geosentris), berbentuk bulat diam seimbang tanpa tiang penyangga.
j. Avicenna (ibn-Shina abad 11), merupakan ahli di bidang kedokteran, selain itu ahli lain dari dunia Islam yaitu Al-Biruni seorang ahli ilmu pengetahuan asli dan komtemporer. Pada abab 9-11 ilmu pengetahuan dan filasafat Yunani banyak yang diterjemahkan dan dikembangkan dalam bahasa Arab. Kebudayaan Arab berkembang menjadi kebudayaan Internasional.

D. LAHIRNYA ILMU ALAMIAH
Panca indera akan memberikan tanggapan terhadap semua rangsangan dimana tanggapan itu menjadi suatu pengalaman. Pengalaman yang diperoleh terakumulasi oleh karena adanya kuriositas manusia. Pengalaman merupakan salah satu terbentuknya pengetahuan, yakni kumpulan fakta-fakta. Pengalaman akan bertambah terus seiring berkembangnya manusia dan mewariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Pertambahan pengetahuan didorong oleh pertama untuk memuaskan diri, yang bersifat non praktis atau teoritis guna memenuhi kuriositas dan memahami hakekat alam dan isinya kedua, dorongan praktis yang memanfaatkan pengetahuan itu untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih tinggi. Dorongan pertama melahirkan Ilmu Pengetahuan Murni (Pure Science) sedang dorongan kedua menuju Ilmu Pengetahuan Terapan (Aplied Science)

E. KRETERIA ILMIAH
Pengetahuan masuk kategori Ilmu Pengetahuan, bila kriteria berikut dipenuhi yakni : teratur, sistemastis, berobyek, bermetoda dan berlaku secara universal.
Contoh:
1. logam yang dipanasi memuai, dimana saja tempatnya sama
2. Gravitasi Bumi.

F. METODE ILMIAH DAN IMPLEMENTASINYA
Segala kebenaran dalam ilmu Alamiah terletak pada metode ilmiah. Sebagai langkah pemecahan atau prosedur ilmiah dapat sebagai berikut :
1. Penginderaan, merupakan suatu aktivitas melihat, mendengar, merasakan, mengecap terhadap suatu objek tertentu.
2. Masalah dan problema, menemukan masalah dengan kata lain adalah dengan mengemukakan pertanyaan apa dan bagaimana.
3. Hipotesis, jawaban sementara terhadap pertanyaan yang kita ajukan.
4. Eksperimen, dari sini ilmu alamiah dan non ilmu alamiah dapat dipisahkan. Contoh dalam gejala alam tentang serangga dengan lampu (sinar biru)
5. Teori, bukti eksperimen merupakan langkah ilmiah berikutnya yaitu teori. Dengan hasil eksperimen dari beberapa peneliti dan bukti-bukti yang menunjukkan hasil yang dapat dipercaya dan valid walaupun dengan keterbatasan tertentu. Maka disusun teori. Dengan teori-teori yang dikemukakan maka dapat diaplikasikan terhadap kebutuhan manusia seperti pengusiran serangga atau perangkap nyamuk (terkait dengan teori pencahayaan)

G. KETERBATASAN ILMU ALAMIAH
Untuk itu perlu dilakukan pengujian sampai dimana berlakunya metode ilmiah dan dimana metode ilmiah tidak berlaku. Untuk itu kita perlu memperhatikan :
Pertama, Bidang ilmu Alamiah, yang menentukan bidang ilmu alamiah adalah metode ilmiah, karena bidang ilmu alamiah adalah wahana dimana metode ilmiah dapat diterapkan, sebaliknya bidang non ilmiah adalah wahana dimana metode ilmiah tidak dapat terapkan. Contoh hipotesa tentang keberadaan Tuhan merupakan konsep yang tidak bisa menggunakan metode ilmiah dan apabila menggunakan konsep ini bisa menyebabkan orang atheis.
Kedua, tujuan ilmu Alamiah, membentuk dan menggunakan teori. Ilmu alamiah hanya dapat mengemukakan bukti kebenaran sementara dengan kata lain untuk kebenaran sementara adalah “Teori”. Karena tidak ada sesuatu yang mutlak tetapi terus mengalami perubahan (contoh teori tentang bumi ini bulat)
Ketiga. Ilmu alamiah dan nilai, ilmu alamiah tidak menentukan moral atau nilai suatu keputusan. Manusia pemakain ilmu alamiahlah yang menilai apakah hasil Ilmu Alamiah baik atau sebaliknya. Contoh penemuan mesiu atau bom atom.

H. FILSAFAT ILMU ALAMIAH
Yang menjadi objek IA adalah semua materi dalam alam semesta ini. IA meneliti sumber alam yang mengaturnya. Pertanyaan tentang siapa yang mengatur alam ini merupakan pertanyaan filsafat. Untuk itu ada 3 pandangan tentang filsafat ilmu alamiah.
Vitalisme, merupakan suatu doktrin yang menyatakan adanya kekuatan di luar alam. Kekuatan itu melikiki peranan yang esensial mengatur segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini (misalnya Tuhan). Pendapat ini ditantang oleh beberapa orang lain karena dalam ilmu alamiah dikatakan bahwa segala sesuatunya harus dapat dianalisis secaras eksperimen. Atau harus cocok dengan metode ilmiah.
Mekanisme, penyebab segala gerakan di alam semesta ini dikarenakan hukum alam (misalnya fisika atau kimia). Faham ini menganggap bahwa gejala pada mahluk hidup secara otomatis terjadi hanya berdasar peristiwa fisika –kimia belaka. Pandangan ini menyamakan gejala pada mahluk hidup dengan gejala benda tidak hidup sehingga perbedaan hakiki tidak ada. Dengan begitu dapat menghanyutkan manusia ke pandangan materialisme yang selanjutnya kepada Atheisme.
Agnotisme, untuk menghindari pertentangan vitalisme dan mekanisme maka aliran ini timbul, dimana aliran ini melepaskan atau tidak memperhatikan sisi dari sang pencipta. Mereka yang mengkuti aliran ini, hanya mempelajari gejala-gejala alam saja, aliran ini banyak dianut oleh ilmuwan Barat.
Filsafat Pancasila, paham yang menjembatani dari 2 aliran yang menyatakan bahwa alam dan hukumnya terjadi karena ciptaan Tuhan dan proses selanjutnya menurut filsafat mekanisme (hukum alam). Hukum alam itu adalah sama dengan hukum Tuhan. Dapat dilihat dari kehidupan makhluk hidup dari awal sampai akhir.

I. BAHASA ILMU ALAMIAH
Adalah bahasa kesatuan yang utuh sebagai bentuk bahasa ilmu alamiah merupakan bahasa universal. Contoh : Air (Indonesia), Water (Inggris) bahasa ilmiahnya H2O

J. KETERBATASAN INDERA MANUSIA
Berdasarkan penelitian terhadap indera, manusia mempunyai kisaran (range) batas yang sangat terbatas
Penglihatan, terutama terhadap cepat atau lambatnya benda bergerak (riak air atau kecepatan cahaya, atau penglihatan kita sewaktu naik kereta api yang di sampingnya terdapat pohon.
Pendengaran, manusia mempunyai kemampuan pendengaran dengan kisaran frekuensinya range 30 – 30.000 Hertz
Pengecapan dan pembauan, manusia selain mempunyai kemampuan tersebut juga mempunyai keterbatasan pembauan dan pengecapan terhadap benda yang ada di alam.
Indra kulit, manusia mampu membedakan antara panas dan dingin secara kasar, namun manusia mempunyai keterbatasan sehingga penginderaan sering menimbulkan salah kesan dan informasi, seperti perpindahan seseorang dari ruang panas ke dingin dibanding dengan orang yang berada di ruangan yang tidak begitu panas.

K. PENINGKATAN DAYA PENGINDERAAN
Peningkatan daya indra dapat dilakukan sehingga diperoleh hasil yang tepat dapat dilakukan dengan :
1. Latihan, contoh pengindraan tentang bau dan bunyi (kualitas minuman anggur, teh, alat musik)
2. Peningkatan Kewaspadaan, tingkat kewaspadaan sangat dipengaruhi oleh minat yang menyebabkan kesimpulan berbeda, dapat dilihat pendapat beberapa orang tentang satu etalase atau laporan dari kecelakaan dari beberapa orang.
3. Kalibrasi Instrumen (peneraan adalah membandingkan instrumen dengan standar yang ada.
4. Pengecekan, merupakan hal yang baik untuk menghindari kekeliruan.
5. Eksperimen, penginderaan dalam kondisi yang dikontrol dengan eksperimen kita mengetahui faktor-faktor apa saja yang sangat mempengaruhi terhadap suatu perubahan.
6. Penginderaan yang meliputi analisis dan sentesis, pengamatan terhadap bagian-bagian atau pengamatan secara keseluruhan.
7. Instrumen baru, bisa melakukan pengindraan baru. Seperti lie detector, Teleskop, satelit dll.
8. Pengukuran, merupakan ketrampilan tersendiri contoh dalam pembuatan mesin atau arsitektur.

L. PEMBAGIAN ILMU PENGETAHUAN
Berdasarkan beberapa argumentasi ilmu pengetahuan dibedakan atas :
a. Ilmu Pengetahuan Sosial, yakni membahas hubungan antar manusia sebagai makhluk sosial, yang selanjutnya dibagi atas :
1. Psikologi, yang mepelajari proses mental dan tingkah laku
2. Pendidikan, proses latihan yang terarah dan sistematis menuju ke suatu tujuan
3. Antropologi, mempelajari asal usul dan perkembangan jasmani, sosial, kebudayaan dan tingkah laku sosial
4. Etnologi, cabang dari studi antropologi yang dilihat dari aspek sistem sosio-ekonomi dan pewarisan kebudayaan terutama keaslian budaya
5. Sejarah, pencatatan peristiwa-persitiwa yang telah terjadi pada suatu bangsa, negara atau individu
6. Ekonomi, yang berhubungan dengan produksi, tukar menukar barang produksi, pengolahan dalam lingkup rumah tangga, negara atau perusahaan.
7. Sosiologi, studi tentang tingkah laku sosial, terutama tentang asal usul organisasi, institusi, perkembangan masyarakat.

b. Ilmu Pengetahuan Alam , yang membahas tentang alam semesta dengan semua isinya dan selanjutnya terbagi atas:
1. Fisika, mempelajari benda tak hidup dari aspek wujud dengan perubahan yang bersifat sementara. Seperti : bunyi cahaya, gelombang magnet, teknik kelistrikan, teknik nuklir
2. Kimia, mempelajari benda hidup dan tak hidup dari aspek sususan materi dan perubahan yang bersifat tetap. Kimia secara garis besar dibagi kimia organik (protein, lemak) dan kimia anorganik (NaCl), hasil dari ilmu ini dapat diciptakan seperti plastik, bahan peledak.
3. Biologi, yang mempelajari makhluk hidup dan gejala-gejalanya.
 Botani, ilmu yang mempelajari tentang tumbuh-tumbuhan
 Zoologi ilmu yang mempelajrai tentang hewan
 Morfologi ilmu yang mempelajari tentang struktur luar makhluk hidup
 Anatomi suatu studi tentang struktur dalam atau bentuk dalam mahkhluk hidup
 Fisiologi studi tentang fungsi atau faal/organ bagian tubuh makhluk hidup
 Sitologi ilmu yang mempelajari tentang sel secara mendalam
 Histologi studi tentang jaringan tubuh atau organ makhluk hidup yang merupakan serentetan sel sejenis
 Palaentologi studi tentang makhluk hidup masa lalu.

c. Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa
Studi tentang bumi sebagai salah satu anggota tata surya, dan ruang angkasa dengan benda angkasa lainnya.
1. Geologi, yang membahas tentang struktur bumi. (yang bahasannya meliputi dari ilmu kimia dan fisika) contoh dari ilmu ini petrologi (batu-batuan), vukanologi (gempa bumi), mineralogi (bahan-bahan mineral)
2. Astronomi, membahas benda-benda ruang angkasa dalam alam semesta yang meliputi bintang, planet, satelit dan lain-lainnya. Manfaatnya dapat digunakan dalam navigasi, kalendar dan waktu

Materi Kuliah Literature

May 26, 2011 at 3:44 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Fiction Terms

Here are terms that you should become comfortable using in verbal/written communication about fiction. Note: additional terms may be given in class.

Character: an imagined person in a literary work (Romeo or Young Goodman Brown, for example).

Flat characters: are one-dimensional figures, figures with simple personalities. They show none of the human depth, complexity, and contrariness of a round character or of most real people.

Round characters are complex figures. A round character is a full, complex, multidimensional character whose personality reveals some of the richness and contradictoriness we are accustomed to observing in actual people, rather than the transparent obviousness of a flat character. We may see a significant change take place in a round character during the story.

Protagonist: The protagonist or hero is the central character in the story who engages our interest or sympathy. Sometimes, the term protagonist is preferable to hero, because the central character can be despicable as well as heroic.

Antagonist: the character or force that opposes the antagonist.

Motivation is the external forces (setting, circumstances) and internal forces (personality, temperament, morality, intelligence) that compel a character to act as he or she does in a story.

Irony: a contrast of some sort; reveals a reality different from what appears to be true.

Verbal irony: the irony is between what is said and what is meant (“You’re a great guy,” meant bitterly).

Dramatic irony: the contrast is between what the audience knows (a murderer waits in the bedroom) and what a character says (the victim enters the bedroom, innocently saying, “I think I’ll have a long sleep”).

Situational irony: when an incongruity exists between what is expected to happen and what actually happens (Macbeth usurps the throne, thinking he will then be happy, but the action leads him to misery).

Plot: the artistic arrangement of events in a story. Events can be presented in a variety of orders:
Chronological: the story is told in the order in which things happen. It begins with what happens first, then second, and so on, until the last incident is related.

In medias res: Latin for “in the midst of things.” We enter the story on the verge of some important moment.

Flashback: a device that informs us about events that happened before the opening scene of a work; often a scene relived in a character’s memory.

Exposition: the opening portion that sets the scene, introduces the main characters, tells us what happened before the story opened, and provides any other background information that we need in order to understand and care about the events to follow.

A conflict is a complication that moves to a climax. Conflict is the opposition presented to the main character of a story by another character, by events or situations, by fate, or by some act of the main character’s own personality or nature. More loosely defined for contemporary fiction, it is the problem or tension that must somehow be addressed (if not perfectly resolved) by the end of the story.

Suspense: the pleasurable anxiety we feel that heightens our attention to the story.

Foreshadowing: indication of events to come. The introduction of specific words, images, or events into a story to suggest or anticipate later events that are central the action and its resolution.

Climax: the moment of greatest tension in the story, at which the outcome is to be decided.

Denouement (French for “untying of the knot”): resolution; conclusion or outcome of story.
Epiphany: a moment of insight, discovery, or revelation by which a character’s life or view of life is greatly altered.

Point of View: Point of view refers to who tells the story and how it is told. What we know and how we feel about the events in a story are shaped by the author’s choice of a point of view.

Narrator: the teller of a story (not the author, but the invented speaker of the story).

There are two broad categories for points of view that storytellers can use:

The third-person narrator.
The first-person narrator.

The third-person narrator uses “he,” “she,” or “they,” to tell the story and does not participate in the action.

The first-person narrator uses “I” and is a major or minor participant in the action.

A second-person narrator, you is possible but rarely used because of the awkwardness in thrusting the reader into the story, as in “You are minding your own business on a park bench when a drunk steps out of the bushes and demands your lunch bag.”

Third-person narrator (nonparticipant)
Omniscient (the narrator takes us inside the character[s]
Selective omniscient or limited omniscient (the narrator takes us inside one or two characters)
Objective (the narrator is outside the characters)

First-person narrator (participant)
Major character
Minor character

Third-person narrator: No type of third-person (nonparticipant) may appear as a character in a story.
Omniscient narrator: is all-knowing.
Editorial omniscient: the narrator not only recounts actions and thoughts, but also judges.
Neutral omniscient allows characters’ actions and thoughts to speak for themselves.
The selective omniscient narrator is much more confined than the omniscient narrator. With selective omniscient, the author often restricts the narrator to the single perspective of either a major or a minor character. The way that people, places, and events appear to that character is the way that they appear to the reader.
Stream-of-consciousness: when limited omniscient attempts to record mental activity ranging from consciousness to the unconscious, from clear perceptions to confused longings.
Objective point of view employs a narrator who does NOT see into the mind of any character. From this detached and impersonal perspective, the narrator reports action and dialogue without telling us directly what characters feel and think. This point of view places a heavy emphasis on dialogue, actions, and details to reveal character.

With a first-person narrator, the “I” presents the point of view of only one character’s consciousness. The reader is restricted to the perceptions, thoughts, and feelings of that single character.
The first-person narrator can be a major character like the narrator in “A & P” ;
or a minor character (imagine how different the story would be if it had been told by Lengel the manager or by Stoksie, one of the co-workers).
An unreliable narrator is a fictional character whose interpretation of events is different from the author’s.
One type of unreliable narrator is the naive narrator (the innocent eye) who lacks the sophistication to interpret accurately what he/she sees. The reader understands more than the narrator does.

Setting: the locale, time, and social circumstances of a story (for instance, an Eastern town in winter, about 1950, in an upper-class private girls school).

Tone: the prevailing attitude (for instance, ironic, compassionate, objective) as perceived by the reader; the author’s feelings toward the central character or the main events.

Symbol: a person, object, action, or situation, that, charged with meaning, suggests another thing (for example, a dark forest may suggest confusion, or perhaps evil), though usually with less specificity and more ambiguity than allegory. A symbol usually differs from a metaphor in that a symbol is expanded or repeated and works by accumulating associations.

Theme: the central idea or meaning of a story; what the work is about. When you express the theme in your own words, it should be worded in a complete sentence and universally expressed.

Literary criticism: discourse–spoken or written–about literature.

Literary theory: criticism that tries to formulate general principles rather than discuss specific texts.

——————————————————————

Flat characters are two-dimensional in that they are relatively uncomplicated and do not change throughout the course of a work. By contrast, round characters are complex and undergo development, sometimes sufficiently to surprise the reader.

Exposition is the background information on the characters and setting explained at the beginning story. The exposition will often have information about events that happened before the story began. The exposition is often the very first part of the Plot.

Inciting Force; the person(s) or incidents(s), or of both, which cause the protagonist to behave in a manner that initiates the conflict and the series of crises that result.

The Rising Action of a plot is the series of events that build up and create tension and suspense. This tension is a result of the basic conflict that exists and makes the story interesting.

Crisis is a point in a story or drama when a conflict reaches its highest tension and must be resolved.

The climax is when the conflict rises to its peak. A basic plot graph looks something like this: _/*\_ Climax (*) is the peak of the plot line.

Falling action is the part of a literary plot that occurs after the climax has been reached and the conflict has been resolved.

The conclusion in a story is usually when the end is.

The difference between novel and short story:

A short story is a fictional prose narrative shorter and more focussed than a novel, usually deal with a single character.

A novel is a fictional prose narrative of considerable length, usually having a plot that unfolds by actions, dialogue and thoughts of the varied characters.

Types of characters
Round vs. flat

In his book Aspects of the novel, E. M. Forster defined two basic types of characters, their qualities, functions, and importance for the development of the novel: flat characters and round characters. Flat characters are two-dimensional, in that they are relatively uncomplicated and do not change throughout the course of a work. By contrast, round characters are complex and undergo development, sometimes sufficiently to surprise the reader.

Point of view is the perspective from which a narrative is related.

The Narrative Point of View

The narrative point of view is the relationship assumed between the author or character that is telling the story and the characters.

First Person Narrative Point of View
This narrative point of view is told through the eyes of the writer, who is more often than not talking about a personal experience. This form of writing is identified by using “me, myself and I”. An example of this kind of writing would be: “I think this website has great writers”.

Second Person Narrative Point of View
Second person involves the writer communicating with the reader directly. It makes the reader feel as if the writer is talking to him on a deep, personal level. It is a friendly form of writing, characterized by the use of “you”. “I’m going to look into your eyes” or “You have nice legs” are examples of second person writing.

Third Person Narrative Point of View
This narrative point of view is a little different. It is impersonal. It is detached. It is considered the most professional approach to writing. Third person writing is a covert operation, where the writer completely detaches himself from the story. This is the most common narrative point of view for fiction writing because it gives the author the most freedom. It uses person pronouns such as “he”,”she”, “it”, or “they”.

A major character is any person, persona, identity, or entity that originated in a work of art. Along with plot, setting, theme, and style, character is considered one of the fundamental components of fiction.

A minor character supports the main character in a story. They do no grow or change during the story. They are also known as two-dimensional characters or flat characters.

The objective point of view is when the writer tells what happens without stating more than can be inferred from the story’s action and dialogue.

A background character is a character that rarely has speaking lines

Characterization is an important element in almost every work of fiction, whether it is a short story, a novel, or anywhere in between. When it comes to characterization, a writer has two options:

1. DIRECT CHARACTERIZATION – the writer makes direct statements about a character’s personality and tells what the character is like.

2. INDIRECT CHARACTERIZATION – the writer reveals information about a character and his personality through that character’s thoughts, words, and actions, along with how other characters respond to that character, including what they think and say about him.

An alert writer might recognize that the two methods of characterization fall under the decision to “show” or to “tell”. Indirect characterization “shows” the reader. Direct characterization “tells” the reader.

As with most “show” versus “tell” decisions, “showing” is more interesting and engaging to the reader, and should be used in preference to “telling”.

The protagonist (main character, sometimes known as the “hero” or the “heroine”) of a novel is certain to be a round character; a minor, supporting character in the same novel may be a flat character.

The antagonists (characters in conflict with protagonists, sometimes known as “villains”) are round characters.

The Parts of a Story

The three main parts of a story are the CHARACTER, the SETTING, and the PLOT.
These three elements work together to hold your reader’s interest.

CHARACTER: A person, animal or imaginary creature in your story. There are usually one or two main characters. There can be many secondary characters too. Make your characters interesting so that they hold your reader’s interest.

SETTING: This is where your story takes place. The setting is a time – the future, the past, or now. The setting is also the place – on the moon, in Chicago, at the Whitehouse. The setting is an important part of your story.

PLOT: The plot of your story tells the actions and events that take place in your story. Your plot should have a beginning, a middle and an end. The plot tells the events of your story in a logical order.

Theme is what the author is trying to tell the reader. For example, the belief in the ultimate good in people, or that things are not always what they seem.

Tone is the mood that the author establishes within the story.

The Forms of poetry

What is poetry?
Poetry is a lot of things to a lot of people.
Poetry is artistically rendering words in such a way as to evoke intense emotion from the reader.
Poetry is a short piece of imaginative writing, of a personal nature and laid out in lines is the usual answer.

What is the difference between a poem and poetry?
A poem is a literary creation, and poetry is the art form.
A poem is a single piece of poetry, complete in itself. Poetry is the collective term used to describe a group of poems, which may or may not be related by theme, author, or style.

What is the difference between poetry and prose?
Prose is language that has as its primary goal the sharing of information. Poetry has as its primary goal the use of language itself as music. There is no rule that says a given piece of writing MUST be one or the other.

The versivication of poetry
In poetry, a stanza is a unit within a larger poem. A stanza consists of a grouping of lines, set off by a space, that usually has a set pattern of meter and rhyme.

Stanzas can be given a specific name depending on their structure and rhyme pattern.
List of stanza names according to number of lines:
2 lines = Couplet
3 lines = Tercet
4 lines = Quatrain
5 lines = Cinquain, Quintain (poetry)
6 lines = Sestet
7 lines = Septet
8 lines = Octave
Other stanza names:
Ballad stanza
Burns stanza or Scottish stanza
Ottava rima
Sicilian octave
Spenserian stanza
Balassi stanza
Onegin stanza
Terza rima

Rhythm may be generally defined as a “movement marked by the regulated succession of strong and weak elements, or of opposite or different conditions.

Meter is a recurring pattern of stressed (accented, or long) and unstressed (unaccented, or short) syllables in lines of a set length.
Some feet in verse and poetry have different stress patterns. For example, one type of foot consists of two unstressed syllables followed by a stressed one. Another type consists of a stressed one followed by an unstressed one. In all, there are six types of feet:

Iamb (Iambic) Unstressed + Stressed Two Syllables
Trochee (Trochaic) Stressed + Unstressed Two Syllables
Spondee (Spondaic) Stressed + Stressed Two Syllables
Anapest (Anapestic) Unstressed + Unstressed + Stressed Three Syllables
Dactyl (Dactylic Stressed + Unstressed + Unstressed Three Syllables
Pyrrhic Unstressed + Unstressed Two Syllables

A rhyme is a repetition of similar sounds in two or more words
In the general sense, general rhyme can refer to various kinds of phonetic similarity between words, and to the use of such similar-sounding words in organizing verse. Rhymes in this general sense are classified according to the degree and manner of the phonetic similarity:
syllabic: a rhyme in which the last syllable of each word sounds the same but does not necessarily contain vowels. (cleaver, silver, orpitter, patter)
imperfect: a rhyme between a stressed and an unstressed syllable. (wing, caring)
semirhyme: a rhyme with an extra syllable on one word. (bend, ending)
oblique (or slant/forced): a rhyme with an imperfect match in sound. (green, fiend; one, thumb)
 assonance: matching vowels. (shake, hate) Assonance is sometimes used to refer to slant rhymes.
consonance: matching consonants. (rabies, robbers)
half rhyme (or sprung rhyme): matching final consonants. (bent, ant)
alliteration (or head rhyme): matching initial consonants. (short, ship)

Elements of poetry
The subject is the topic of the poem—what the write about love, death, abortion, sex, or a taboo subject.
The theme is one of the most important aspects of a poem. The purpose of the theme is to make an important point about the topic.

What’s the difference between “subject” and “theme” in a poem?
subject is what it is about
theme is the message or moral

The tone of a poem is roughly equivalent to the mood it creates in the reader.
Tone is the attitude the poet takes toward his or her work or a character in the poem. Tone should not be confused with mood, the feeling that a poem creates. Tone can often be summed up in one word–serious, ironic, humorous, etc.

The Language of poetry
Diction refers to the language of a poem, and how each word is chosen to convey a precise meaning. Poets are very deliberate in choosing each word for its particular effect, so it’s important to know the origins and connotations of the words in a poem, not to mention their literal meaning, too.

Denotation refers to the literal meaning of a word, the “dictionary definition.”. For example, if you look up the word snake in a dictionary, you will discover that one of its denotative meanings is “any of numerous scaly, legless, sometimes venomous reptiles¡Khaving a long, tapering, cylindrical body and found in most tropical and temperate regions.”
Connotation, on the other hand, refers to the associations that are connected to a certain word or the emotional suggestions related to that word. The connotative meanings of a word exist together with the denotative meanings. The connotations for the word snake could include evil or danger.

Imagery in poetry is what the words of the poem make the reader ‘see’ in their imagination. it is the colors, sounds, and sometimes feelings evoked by the poem.

Symbolism, as a type and movement in poetry, emphasized non-structured “internalized” poetry that, for lack of better words, describe thoughts and feelings in disconnected ways and places logic, formal structure, and descriptive reality in the back seat.

A symbol works two ways: It is something itself, and it also suggests something deeper.
An object, person, situation, or action that stands for something else more abstract.

sample of “reply of inquiry letter”

May 25, 2011 at 12:36 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Edited by Koesnandar, S.Kom
STKIP IKIP PGRI Sidoarjo

Posted from zupersharief

Allwood And Sons Ltd.

22 Highland Way

Ashford Kent

Your ref. :SA/DA

Our ref. : MW/TN

Syarif Al Mukharom

Marketing Manager

Lorban Electronic Ltd.

Jl. Tugu Pahlawan 12

Sidareja-Cilacap

Dears Mr. Syarif,

We thank you for your inquiry of 15 February 2009 asking for detailed information.

We are sending you herewith illustrated catalogue together with pricelist and samples including the type and price of our products by separate post. We are sorry because the booklets cannot be in Indonesian.

We also offer 10% discount for each radio and television if your order is more than 100 items. We assure you that that our products’ quality is high and suitable with the market demand.

I hope to hear from you soon.

Yours sincerely,

Michael Wong

Sales Manager

Encl. catalogue

————————————————————————
Posted from mochan

Konoha Art Design

Jl. Griya Raya Blok E8 No. 12

Kalibata, Jakarta Timur

Your ref. : RG/DR 20 January, 2010
Our ref.: DF/NG

One Hundred Percent Co.

13th Broadway castle road

New York USA

Dear Ms Riry Guntari,

Re : KO-1001

We thank you for you inquiry of January 10th, 2010. As requested, we enclose our illustrated catalogue which gives complete details of our shoes, together with the prices and the models.

We expect that our catalogue, prices, and the terms give all information requested.

We are looking forward to receiving your order soon.

Yours sincerely,

Dio Fadli Rawasia
Chief Manager

Encl. illustrated catalogue

———————————————————–

Posted from delisusilawati

THE BIG CO.

Cilegon

West Java

Your ref : DS/RR 2 July 2009

Our ref : DL/RC

Thomas 7 Co. Ltd.

Regrent Street 435

London W.i.

Dear Madam,

Re : Request for Catalogue

Thank you for your inquiry letter of 24 June 2009 and interested in our advertisement.

As requsted, we enclose herewith the latest illustrated catalogue together with price list and the terms. Dispatch of poduct will be sent after we receive two weeks order letter, and we could give 3% cash discount in 30 days from invoice date.

We are looking forward to your order soon.

Yours faithfully,

Deli susilawati

Marketing Manager

Encl. catalogue

———————————————–

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.